Mudik Santai lewat Pesisir Pantai; Lintasi Lokasi Wisata hingga Tambang Batu Bara

Perjalanan mudik santai melintasi jalur pesisir Pantai Balikpapan – Samarinda, menyuguhkan suasana berbeda. Lewati beberapa jalan bergelombang, berencana swafoto di Jembatan Dondang.

Oleh : Devi Alamsyah*

Jembatan Dondang yang menghubungkan Kecamatan Sangasanga dan Muara Jawa. Foto atas, kawasan tambang batu bara yang dilewati jalan umum. Dulu, jalan aslinya sudah ditambang. Ini adalah jalan alternatif yang dibuatkan perusahaan tambang itu.

SIANG itu, Selasa (4/6/2019) pukul 13.00 langit terlihat terang. Namun, rasa-rasanya tidak menyengat seperti hari-hari biasanya. Mungkin karena malam dini harinya sempat hujan.

Laju kendaraan roda empat dipacu antara antara 40 – 60 Km per jam. Memang sengaja diniatkan untuk mudik santai. Dari Balikpapan menuju Sangasanga, kemudian ke Samarinda. Melihat hal-hal yang mungkin selama ini terlewati.

Kondisi jalan memang kurang mendukung untuk kebut-kebutan. Masih di wilayah Balikpapan kondisi jalannya lumayan bagus. Dari Manggar, Gunung Tembak hingga perbatasan Samboja, Kutai Kartenegara (Kukar). Hanya saja jalannya lebih sempit ketimbang jalan poros.

Masuk Samboja, sebelum kompleks perumahan Pertamina, terlihat sebelah kiri jalan kawasan Borneo Orangutan Survival (BOS). Oh, di sini rupanya lokasinya itu. Sudah lama mendengar nama BOS, dan baca berita soal kondisi orangutan. Namun belum tahu persis lokasinya di mana. Padahal, sudah ke sekian kalinya saya melintasi jalur itu. Namun sebelum-sebelumnya, malaju cepat. Fokus pada tujuan agar segera sampai.

Kondisi jalan Samboja Lestari mulai kurang nyaman. Ada beberapa spot jalan rusak, bergelombang dan sejenisnya itu. Untung saja, sebagian sudah ada pengerasan jalan. Tapi, masih ada beberapa titik jalan rusak. Terutama di daerah sebelum masuk RS Samboja. Setelah itu mulai lumayan. Hanya bolong kecil-kecil di sisi kiri dan kanan bahu jalan.

Setidaknya ada beberapa lokasi wisata di daerah ini. Sebut saja kawasan wisata Tanah Merah, yang sudah lebih dulu dikenal. Belakangan muncul juga Pantai Pemedas. Ini bisa jadi sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan. Pantainya teduh. Banyak pohon pinus yang menaungi. Banyak penjual mekanan di sekitar pantai. Kalau pas hari-hari liburan, tampak kendaraan baik roda dua maupun roda empat memenuhi kawasan ini.

Selain pantai. Ada juga lokasi yang tak kalah menariknya wisata menyusuri Sungai Hitam di Samboja. Melihat hewan endemik Kalimantan, Bekantan. Di antara tanaman bakau dengan perahu. Ini sama dengan menyusuri sungai wain di Balikpapan. Sayang kini di kanan dan kiri sungai tersebut sudah banyak bukaan lahan industri. Dan informasinya, monyet hidung besar di Sungai Wain sudah mulai jarang terlihat.

Masih di Kecamatan Samboja, laju kendaraan melintasi Senipah – Peciko – South Mahakam (SPS). Terminal pemrosesan dan pengiriman gas dan minyak mentah yang dioperasikan Pertamina Hulu Mahakam. Dulu terminal ini bernama Bekapai – Senipah – Peciko (BSP) saat dikelola Total EP Indonesie.

Sepanjang perjalanan dari Samboja ke Kecamatan Sangasanga, banyak perusahaan hulu migas dan pendukungnya. Ada PHKT eks Vico hingga Pertamina EP Asset 5 Sangasanga. Makanya, wajar jika Kutai Pesisir ini sering disebut lumbung migas.

Ironinya. Saat perjalanan itu, sulit sekali mencari SPBU yang buka terutama di daerah Samboja hingga Sangasanga. SPBU-nya ada. Sekitar 3 atau 4 SPBU yang dilewati. Padahal saat melintas masih siang hari. Untungnya masih ada Pertamini, SPBU mini milik warga itupun bisa dihitung jari.

Selain migas, perusahaan tambang batu bara di kawasan Kutai Pesisir ini juga banyak. Bukan hanya kantornya, lokasi tambangnha pun mudah dijumpai di sepanjang jalan mulai Samboja hingga Palaran, Samarinda Seberang.

Bekas-bekas galian sangat nampak dari jalan. Kendati sebagian coba ditutupi dengan pagar tertutup. Tapi banyak celah untuk melihat kondisi tanah bekas tambang.

Masuk Kecamatan Muara Jawa, laju kendaraan sedikit dipercepat. Langit mulai gelap. Khawatir keburu hujan. Padahal sore itu saya ingin berfoto di Jembatan Dondang. Pasti panoramanya menarik saat senja.

Rasa-rasanya jembatan ini lebih panjang dari Jembatan Mahakam atau Mahkota Dua. Namun sayang. Gerak hujan lebih cepat dari roda mobil. Jadi, hanya bisa memotret dari dalam kendaraan.

Tampak beberapa pemancing masih bertengger di pinggir jembatan. Tak peduli cuaca mendung dan hujan. Ponton pengangkut batu bara berjejer melintas jembatan. Ada sekitar 5 atau 6 ponton yang terlihat.

Selepas Jembatan Dondang, jalanan mulai tak nyaman. Banyak spot-spot rusak. Laju kendaraan otomatis diperlambat. Hingga masuk Kecamatan Sangasanga. Jalan rusak juga beriringan dengan lintasan jalan hauling perusahaan batu bara. (*)

*/Penulis adalah Plt Pemimpin Redaksi DiswayKaltim.com dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Balikpapan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*