Kisah Rumah Haeruddin yang Roboh, Tak Bersisa karena Disapu Ombak

Kondisi rumah milik Haeruddin yang roboh tak tersisa karena disapu ombak air pasang, Selasa (18/6) malam, sekira pukul 19.45 Wita. (Ariyansah NK/DiswayKaltim)

Oleh: Ariyansyah NK

PEMILIK rumah yang ambruk karena terhantam arus pasang air laut, Selasa (18/6) malam, menceritakan kronologis kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya itu.

Haeruddin (56), sang pemilik rumah itu mengaku dirinya masih syok dengan peristiwa tersebut.

Dia kini masih dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Jalan Jenderal Sudirman. Ditemui DiswayKaltim.com, Rabu (19/6), dengan nada pelan dan perlahan menceritakan kejadian itu.

“Pas kejadian itu saya sedang salat isya. Di rakaat terakhir, duduk tahiyat akhir, saya dengar anak-anak teriak. Katanya dapur sudah roboh. Lalu terdengar bunyi krek-krek begitu. Kemudian rumah langsung roboh. Saya yang masih salat langsung ikut jatuh ke bawah. Saat itu memang arus sama ombak besar. Karena memang lagi musimnya,” katanya.

Kondisi Haeruddin yang terbaring lemah di Rumah Sakit Bhayangkara Balikpapan. (Ariyansah NK/DiswayKaltim)

“Begitu saya jatuh ke bawah, kan itu sudah di air. Saya ditolong anak-anak saya,” tambahnya.

Saat kejadian, terdapat 6 orang di rumah tersebut. “Ada 2 anak perempuan saya dan satu temannya, istri saya, cucu dan saya,” ungkapnya.

Memang, sebelum kejadian, Haeruddin telah mengetahui kalau tiang penyangga rumah di bagian dapurnya telah miring. Namun hal itu dianggap sebagai hal biasa. Haeruddin tak pernah menyangka sebelumnya jika rumahnya akan roboh tak bersisa.

“Waktu saya ambil air wudu untuk salat isya itu, saya lihat memang dapur rumah sudah miring,” kenangnya.

Usai kejadian, Haeruddin bersama istri dan cucunya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka ringan. Karena kondisinya tak memungkinkan, Haeruddin harus dirawat, sementara istri dan cucunya telah diperbolehkan pulang.

“Iya, tadi malam dibawa tim SAR ke sini (rumah sakit),” bebernya.

Kerugian yang dialami keluarga Haeruddin akibat peristiwa itu mencapai kurang lebih Rp150 juta. “Iya kurang lebih, kalau sama bangunannya. Tidak ada yang sempat diselamatkan. Pakaian pun tidak ada. Hanya baju di badan. Semua terbawa arus air laut sudah,” katanya.

Usia rumah tersebut kurang lebih 20 tahun lebih. Memang, rumah yang berada di daerah Pasar Klandasan itu sempat direnovasi. Namun hanya di bagian atas. Sementara tiang penyangganya tak ikut direnovasi atau diganti.

“Dua tahun lalu sempat direnovasi. Hanya bagian atasnya,” kata Acce, istri Haeruddin saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu sore.

Untuk diketahui, rumah Haeruddin yang ambruk tersapu arus itu berada persis di perumahan atas air daerah Pasar Klandasan. Ada banyak rumah yang berdiri dengan tiang penyangga di daerah tersebut. Salah satunya rumah milik Haeruddin itu.

Rumah Haeruddin ambruk alias roboh sekira pukul 19.45 Wita, Selasa (18/6). Kejadian itu sempat menghebohkan warga sekitar. Tiga orang menderita luka-luka yakni Haeruddin beserta istri dan cucunya langsung dilarikan ke rumah sakit usai kejadian itu. (ari/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*