Bonus atau Ledakan ?

Oleh: Aris Nur Huda*

Seratus tiga puluh lima juta

Penduduk Indonesia

Terdiri dari banyak suku bangsa

Itulah Indonesia

Potongan lirik di atas merupakan lagu dari H Rhoma Irama yang bercerita tentang kebhinekaan, persatuan dan kesamaan tujuan sebagai sebuah bangsa. Jika membacanya sambil bersenandung, bisa jadi Anda berada pada usia matang saat ini.

Pada generasi X (kelahiran tahun 1961-1980) atau generasi Y (kelahiran tahun 1981-1994) tentu saja dengan selera musik yang sedikit berbeda dari kawan sebaya, soneta garis lembut, begitu mungkin sebutannya. Hal ini mengingat lagu tersebut dirilis pada tahun 1976.

Sekarang di tahun 2019 berdasarkan data Worldometers, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 269 juta jiwa. Atau 3,49% dari total populasi dunia dan oleh PBB diproyeksikan akan mencapai 273 jiwa pada 2020 (katadata.co.id).

Dengan kata lain dalam 43 tahun terakhir telah terjadi pertambahan penduduk sebanyak 134 juta jiwa. Hampir seratus persen. Kenaikan jumlah penduduk memang bukan hanya di Indonesia saja. Saat ini kurang lebih 7,7 miliar jiwa jumlah penduduk dunia, dan terus bertambah.

Jika kita membaca novel karya Dan Brown berjudul Inferno (2013), menyaksikan film Kingsman: The Secret Service (2014) atau film terbaru dengan penjualan paling tinggi sepanjang sejarah Avengers: Endgame (2019), maka kita akan dihadapkan dengan kesamaan isu. Yaitu, ledakan jumlah penduduk dunia yang dianggap membebani bumi dan menjadikan bumi yang kita huni sekarang menjadi tempat yang kurang menyenangkan lagi.

Ledakan jumlah penduduk seperti mata rantai awal dari kisruh energi, lingkungan, kesehatan, pendidikan, pangan dan banyak lagi keruwetan di dalamnya.

Ledakan Demografi

“Bonus” adalah kata yang digunakan dalam wacana belakangan ini perihal pertambahan jumlah penduduk. Sehingga secara utuh dipilih lah diksi “Bonus Demografi” untuk menggambarkan betapa yang akan kita hadapi dalam waktu mendatang adalah sesuatu yang menggembirakan dan penuh optimisme.

Sah-sah saja memang. Mengingat jumlah generasi milenial berusia 20-35 tahun mencapai 24 persen. Atau setara dengan 63,4 juta  dari 179,1 juta jiwa yang merupakan usia produktif (14-64 tahun) (BPS 2018). Namun, diskusinya makin berkembang manakala melihat persiapan dan kesiapan menyongsong bonus demografi  tersebut. Sebab akan ada puluhan juta jiwa usia produktif yang seharusnya berada pada ruang-ruang produktivitas.

Entah itu sebagai pekerja, pengusaha, birokrat atau sektor lain jika memang ada. Lalu, bagaimana bila ruang yang ada ternyata tidak cukup? Saat itulah bonus demografi menjadi ledakan demografi, dan yang namanya ledakan pasti semburat kemana-mana dan tidak teratur.

Mencegah ledakan demografi terjadi harus ada koordinasi lintas sektor baik pemerintah maupun swasta. Sebab dalam era revolusi industri 4.0 saat ini sepertinya segala sesuatu akan menjadi lebih seksi bila bersinggungan dengan digitalisasi.

Padahal, seharusnya para millennial juga diarahkan untuk menemukan kecenderungan dirinya. Jika dia gemar otomotif maka dia harus menguasai seluk beluk dunia otomotif dari hulu sampai hilir sehingga menjadi profesional di bidangnya. Begitu juga bila gemar pada bidang pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata dan bidang-bidang lainnya.

Sehingga tidak perlu ada kejadian seperti pada novel Inferno dimana virus penyakit disebarkan pada konser musik internasional dengan maksud akan menjadi wabah penyakit di mana-mana yang ujungnya pada pengurangan populasi manusia atau jentikan jari Thanos yang akan menghilangkan 50 persen populasi dunia, seketika.

Yang pasti H Rhoma Irama harus memikirkan lirik baru pada lagunya, karna jumlah penduduk Indonesia sudah meningkat, 100 persen. Pertanyaannya, bonus atau ledakan? (*)

*/Pemerhati Sosial, ketua Umum Hipmi PT Kaltim 2013-2017.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*