Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hanya Dinikmati Kelas Atas

Haerul Anwar. (Istimewa)

Samarinda, DiswayKaltim.com – Pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan III 2019 relatif tinggi. Sebesar 6,89 persen. Tertinggi dibanding triwulan-triwulan sebelumnya. Yang rata-rata 5 persen.

Namun pertumbuhan ekonomi ini tak menyentuh masyarakat kelas bawah. Pasalnya, kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim didominasi sektor pertambangan batu bara.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarida Haerul Anwar menyebut, para pemain di sektor batu bara pada umumnya masyarakat kelas atas. Para pemodal yang bermain di pasar global.

“Memang pertumbuhannya membaik. Itu makronya. Tapi apakah ada perubahan di masyarakat dengan pertumbuhan yang tinggi itu? Ada. Tapi tidak besar pengaruhnya,” jelas Haerul kepada Disway Kaltim, Rabu (20/11/2019).

Kondisi demikian sudah berlangsung lama. Perekonomian Kaltim dipengaruhi sektor-sektor besar yang hanya dinikmati kalangan terbatas. Tak jauh berbeda dengan perekonomian Indonesia.

Kata Haerul, pemerintah tak kunjung beralih dari keadaan tersebut. Sebab pemerintah daerah sudah terbiasa menikmati penerimaan besar serta instan dari sektor batu bara dan perkebunan sawit.

“Padahal bukan semata tinggi atau rendah pertumbuhan ekonomi yang kita inginkan. Tetapi kualitas pertumbuhan. Kualitas itu yang susah di Kaltim,” sesalnya.

Tantangannya, sebut Haerul, adalah pemerataan ekonomi. Tak hanya sektor batu bara dan perkebunan sawit yang dikembangkan. Karena semua sektor di Kaltim dapat dikembangkan.

Ia mencontohkan sawit dan batu bara. Jika pemerintah dapat mengembangkan sektor hilir dari dua sektor tersebut, maka akan semakin banyak tenaga kerja yang terserap.

“Ada enggak batu bara yang diproses dan diolah di Kaltim? Enggak ada. Padahal industri itu bisa menciptakan nilai tambah. Kalau selama ini, gali lalu dijual. Sawit diolah jadi CPO, kemudian dijual. Yang nikmati ya orang-orang itu aja. Tidak menyebar ke masyarakat,” ucapnya.

Di lain sisi, sektor batu bara dan sawit umumnya diekspor ke mancanegara. Haerul menyarankan pemerintah membuka pasar antar pulau. Sektor selain batu bara dan sawit didorong dan didukung. Kaltim yang memiliki lahan luas sejatinya dapat mengembangkan sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan sektor lainnya.

Tugas pemerintah, kata Haerul, membuka pasar antar pulau. Untuk menciptakan pasar bagi produk yang dihasilkan dari Kaltim.

“Kenapa tidak kita buka pasar untuk memasok di pabrik ikan antar pulau? Yang begini harus jeli melihatnya,” saran Haerul. (qn/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*