Tiga Pulau di Sekitar IKN Diproyeksikan Menjadi Pusat Suaka Orangutan

Salah satu orangutan sebelum dilepasliarkan. (Darul Asmawan /Disway Kaltim)

Penajam, DiswayKaltim.com – Sebanyak tiga pulau kecil yang berada di kawasan hulu Teluk Balikpapan, akan dijadikan Pusat Suaka (Sanctuary) bagi satwa liar endemik Kalimantan; orangutan.

Pulau-pulau itu ialah Pulau Kelawasan seluas 253 hektare, Pulau Benawa Besar seluas 46 hektare dan Pulau Benawa Kecil seluas 21 hektare. Secara administratif, berada di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Inisiasi itu merupakan kerjasama Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Yang kemudian dinamai sebagai Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari.

PSO Arsari itu diperuntukkan bagi orang utan yang sudah tua dan bertahun-tahun berada di dalam kandang. Karena dipelihara secara tidak legal dan orangutan korban perdagangan satwa. Sehingga, tidak memungkinkan lagi untuk dilepas liarkan (unreleaseable) di alam secara bebas.

Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Hashim Djojohadikusumo dalam paparannya pada peresmian awal PSO Arsari, Senin (2/12/2019) mengatakan, pembentukan PSO Arsari ini berangkat dari pemikiran dan keprihatinan. Menjawab kebutuhan akan sebuah suaka bagi orangutan.

“Melalui PSO Arsari ini, kami ingin memastikan mereka (orangutan), bahagia di hari tuanya, tidak terkurung di dalam kandang selama hidupnya,” jelas Hashim Djojohadikusumo.

Dalam sambutannya, Hashim juga menuturkan bahwa lokasi PSO itu hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi pembangunan istana negara yang direncanakan pemerintah. Artinya, kedepan, jika itu berhasil, akan sangat baik untuk menjamu tamu-tamu negara.

“Mungkin nanti, Bapak Presiden bisa mengajak tamu-tamu VVIP, untuk berkunjung dan memperkenalkan orangutan sebagai aset bangsa, yang tidak dimiliki negara-negara lain,” tuturnya.

Pembentukan fasilitas konservasi orangutan itu sebenarnya sudah dirintis sejak 2016. Dan dikukuhkan dalam perjanjian kerja sama antara BKSDA Kalimantan Timur sebagai perwakilan Direktorat Jenderal KSDAE KLHK di daerah, dengan Yayasan Arsari Djojohadikusumo pada 15 Maret 2019.

Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, yang turut meresmikan PSO itu, mewakili KLHK, menyambut gembira dan menyampaikan apresiasi yang tinggi atas sumbangsih YAD dalam upaya konservasi orangutan di kalimantan.

“Harapannya nanti, upaya ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkesinambungan. Tidak hanya bagi upaya konservasi orangutan, tetapi juga bagi masyarakat di sekitarnya,”

Lebih jauh, ia menyampaikan, bahwa program ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Indonesia dalam menerapkan prinsip-prinsip animal ethics dan animal welfare dalam perlindungan satwa liar.

Peresmian PSO Arsari ini juga ditandai dengan persiapan pemindahan dua ekor individu orangutan, yaitu Bento dan Iskandar. Dari kandang karantina yang berada di 19.000 hektare lahan konservasi PT ITCI Kartika Utama-Grup Arsari, ke lokasi PSO di Pulau Kelawasan.

Proses persiapan itu, dijelaskan oleh Direktur Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Catrini Kubontubuh. Dia mengatakan, bahwa progres persiapan lahan PSO itu, menunggu rekomendasi dari Ditjen KSDAE KLHK kepada Pemkab PPU.

“Tahapan pertama perizinan sudah dilakukan, yaitu studi kelayakan, terkait daya dukung dan daya tampung kawasan tersebut. Hasil studi itu sudah diserahkan kepada BKSDA Kaltim yang nantinya akan diteruskan kepada Ditjen KSDAE KLHK,” terang Catrini.

Ditjen KSDAE KLHK, sambungnya, nanti akan memberikan rekomendasi kepada Pemkab PPU. Karena yang memiliki lahan itu adalah Pemkab PPU.

“BKSDA juga mensyaratkan kepada kami, melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mensosialisasikan rencana PSO itu. Itu akan kami lakukan awal Januari 2020 nanti,” imbuh dia.

Sementara itu, terkait dengan pemilihan tiga pulau itu sebagai lokasi PSO, dijelaskan oleh Chief Science Officer Arsari Enviro Industri, Willie Smits. Menurutnya di Pulau Kelawasan itu, adalah habitat yang sangat cocok dengan orangutan. Dimana pada bagian pinggir sekeliling pulau itu adalah vegetasi mangrove. Pada bagian tengahnya yang luas, adalah vegetasi hutan primer, yang juga berpotensi ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan berbuah.

“Nantinya itu juga dapat menjadi sumber pakan orangutan,” imbuhnya

Dikatakan Willie Smits, bahwa bukan hanya orangutan yang akan dilepasliarkan di kawasan itu.

Pulau kelawasan prioritas untuk suaka orangutan. Sementara Benawa Besar dan kecil, akan dimanfaatkan untuk suaka satwa-satwa endemik Kalimantan lainnya yang terancam punah. Seperti bekantan, burung, beruang madu dan lain-lain.

Ia menambahkan, ini adalah usaha mulia untuk coba membantu satu kelompok orangutan. Inovasi ini belum pernah ada di dunia.

“Ada 100 orangutan pipi lebar di dunia. Yang sudah tua dan hanya tinggal di dalam kandang menunggu hingga kematiannya,” pungkasnya. (das/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*