Peringkat Daya Saing Kaltim

Oleh: Hairul Huda*

DAYA saing merupakan kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang memenuhi pengujian internasional. Pada saat bersamaan, juga dapat memelihara tingkat pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan. Ini berkaitan pula dengan kemampuan daerah menghasilkan tingkat pendapatan dan kesempatan kerja yang tinggi dan tetap terbuka terhadap persaingan eksternal.

Sebulan yang lalu, Forum Ekonomi Dunia (World Ekonomi Forum) merilis peringkat daya saing 141 negara di dunia. Hasilnya, Indonesia harus puas di peringkat 50 tahun ini. Turun 5 poin dari peringkat 45 tahun lalu. Tak hanya penurunan peringkat, skor daya saing Indonesia juga turun meski tipis. Yakni 0,3 poin ke posisi 64,6.

Jika kita telisik hasil tersebut, dan kita bandingkan dengan negara Asia Tenggara, maka Indonesia makin tertinggal jauh dari Singapura yang menempati posisi pertama. Demikian pula dari Malaysia dan Thailand yang sebenarnya juga turun masing-masing dua peringkat. Tetapi masih diposisi 27 dan 40.

Apa yang menjadi penyebab turunnya indeks daya saing Indonesia di mata global. Adalah adopsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebesar 5,7 poin dari 61,1 menjadi 55,4. Penurunan tertinggi selanjutnya terdapat pada komponen kesehatan sebesar 0,9 poin dari 71,7 menjadi 70,8. Adapun komponen lain yang menurun terdapat pada pasar produk sebesar 0,3 poin, serta keterampilan dan pasar tenaga kerja sebesar 0,1 poin.

Di sisi lain, aspek komponen penilain daya saing Indonesia ada yang mengalami peningkatan. Seperti terdapat pada infrastruktur. Yaitu sebesar 67,7. Naik 0,9 poin dari tahun sebelumnya sebesar 66,8. Sementara itu, komponen lainnya yang mencetak kenaikan hanya di bawah 1 poin.

Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, maka dipandang perlu bagi pemerintahan kabinet baru untuk mendorong semua komponen daya saing meningkat. Bukan haya sebatas komponen infrastruktur yang jadi perioritas.

Tapi masih ada 11 komponen lainnya yang juga diharapkan menjadi perioritas. Itu akan mendorong indeks daya saing Indonesia meningkat.

BAGAIMANA DENGAN KALTIM

Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. Tentunya daya saing itu disesuaikan dangan potensi, kekhasan dan unggulan daerah tersebut.

Kuatnya daya saing menjadi kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah. Tentunya dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan.

Dalam konteks Visi Gubernur Kaltim Bapak Isran Noor “Menuju Pembangunan Kaltim yang Berdaulat”. Kata daya saing menjadi visi yang pertama. Mencerminkan bahwa peningkatan daya saing daerah melalui kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), menjadi perioritas dalam proses pembangunan daerah.

Jika kita bandingkan daya saing antar daerah se Indonesia, bisa kita lihat DKI Jakarta menduduki peringkat pertama. Unggul dalam semua aspek. Kemudian disusul Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Yogyakarta dan Kaltim di posisi ke tujuh.

Kaltim mengalami penurunan. Tahun 2018 berada di posisi ke lima dan tahun ini berada di posisi ke tujuh. Dalam komponen daya saing, Kaltim hanya unggul dalam indikator kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur di peringkat pertama.

Sedangkan pada indikator Stabilitas Ekonomi Makro, DKI Jakarta masih menjadi yang pertama. Disusul pulau Jawa (Timur, Barat, tengah), Kepulauan Riau dan urutan ke-6 Kalimantan Timur.

Untuk indikator pemerintahan dan institusi publik, Kalimantan Timur berada di peringkat ke-22. Tersungkur dari peringkat 6 pada tahun sebelumnya. Sementara indikator kondisi finansial, bisnis dan tenaga kerja, bertengger diurutan ke-8.

Pembangunan infrastruktur di Kaltim salah satu indikator penilaian daya saing yang mengalami peningkatan. Hal tersebut selaras dengan peningkatan APBD Kaltim dari tahun 2017 sebesar Rp 8,83 triliun meningkat pada tahun 2018 sebesar Rp 10,12 triliun.

Peningkatan APBD Kaltim berpengaruh besar terhadap realisasi belanja pembangunan infrastruktur. Ditambah proyek infrastruktur daerah saat ini sebagian masuk dalam perioritas proyek nasional, seperti jalan tol Samarinda-Balikpapan, Bandara Samarinda Baru dan beberapa proyek pelabuhan.

Diharapkan konektivitas infrastruktur Kaltim seperti jalan, pelabuhan dan bandara sebagai sarana pengangkutan yang sudah meningkat. Juga ditopang oleh konektivitas infrastruktur lainnya, seperti listrik, gas, air minum dan sanitasi.

Yang membuat peringkat Kaltim menurun drastis adalah indikator pemerintahan dan insitusi publik. Turun ke peringkat 22. Sebelumnya peringkat ke-6 . Di dalam indikator tersebut terdiri dari pelayanan pemerintahan dan perizinan yang dinilai masih kurang baik. Masih menyulitkan dunia usaha. Kondisi seperti ini menghambat laju investasi sektor riil.

Daya serap tenaga kerja penduduk tamatan SMA/SMK paling banyak menyumbang jumlah pengangguran. Disusul lulusan SMP. Maka perlunya link and match dunia pendidikan dan lapangan usaha.

Pemprov Kaltim diharapkan mampu menyingkronkan antara kebutuhan industri unggulan dengan lulusan pendidikan sebagai angkatan kerja yang berkualitas.

Kelemahan kualitas SDM dan inovasi turut menjelaskan mengapa basis ekspor Kaltim sanggat bergantung pada komoditas SDA penghasil produk mentah atau tidak bernilai tambah.

Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap indikator stabilitas ekonomi makro. Di mana perekonomian Kaltim masih punya ketergantungan besar terhadap ekspor SDA dan kondisi ekonomi global.

Indikator daya saing Kaltim menunjukkan tahap pertama peningkatan infrastruktur dan kualitas hidup, sudah menyumbang daya saing Kaltim. Itu perlu ditingkatkan untuk jalan raya, pelabuhan, bandara dan infrastruktur sekunder pendukung transportasi.

Tahap selanjutnya adalah mendorong infrastruktur utilitas seperti listrik, gas, air minum dan sanitasi yang akan berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.

Untuk berlomba dengan daerah lain dan mendorong ekuilibrium menuju perekonomian Kaltim yang berdaulat sesuai Visi Gubenur Kaltim, diperlukan kualitas SDM yang lebih baik untuk inovasi dan berpartisipasi dalam rantai pasokan domestik global.

Untuk itu, diperlukan peningkatan literasi dasar seperti membaca, matematika dan sains, literasi teknologi dan digitalisasi. Hal tersebut harus menjadi program perioritas Gubenur Kaltim. (*/Direktur Kabinet 98)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*