Bupati: Saatnya Genjot Pariwisata demi PAD

Kabupaten Berau masih mengandalkan sektor tambang batu bara, terkait pendapatan daerah.(ARIE PRAMANA PUTRA)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Terus melesunya harga batu bara di pasar global, menjadi perhatian serius Bupati Berau Muharram, hal ini lantaran Kabupaten Berau masih mengandalkan pendapatan tertinggi dari sektor pertambangan.

Selain itu, dampak lain dari merosotnya harga emas hitam ini banyaknya perusahaan pertambangan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada para karyawanya. Inipun menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mengingat masa kepemimpinanya sisa satu tahun lagi bersama Agus Tantomo.

Keresahan Muhahrram terhadap kondisi ekonomi perdagangan batubara membuatnya semakin serius mengalihkan ketergantungan daerah dari sektor pertambangan ke sektor pariwisata.

“Kabupaten Berau, kalau bahasa anak milennial itu tengah galau akibat di pukul harga batu bara yang tidak stabil beberapa tahun terahir. Akibatnya APBD tahun 2020 kembali merosot,” ujarnya.

Dijelaskan Muharram, lebih dari 50 persen Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di dominasi sektor pertambangan. Setiap tahun Kabupaten Berau hanya mampu memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 200 miliar, jumlah ini tidak mampu menutupi kebutuhan belanja pegawai yang mencapai Rp 900 miliar.

“Aparatur Negeri Sipil (ASN) ditambah Pegawai Tidak Tetap (PTT) mencapai lima ribuan, sudah saatnya berhenti bergantung batu bara dan beralih sektor pariwisata,” tegasnya.

Melihat fakta yang terjadi, Muharram mengakui keseriusanya mengelola sektor pariwisata di Bumi Batiwakkal. Keberadaan Berau yang sangat strategis mendorong pemkab bersama pemerintah provinsi melakukan percepatan pengembangan sejumlah objek wisata di antara Pulau Maratua.

“Maratua infrastrukturnya terus ditingkatkan, kita benar-benar harus meningkatkan PAD dari sektor ini. Apalagi nanti pariwisata Berau akan menjadi penopang wisata bagi Ibu Kota Negara Baru, ini peluang besar yang harus disiapkan sejak saat ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dia juga mengakui dalam mendobrak pendapatan dari sektor ini, perlu adanya event yang bertaraf nasional dan juga internasional. Sebab, jika event itu hanya lokal akan kurang berdampak terhadap pariwisata daerah. Iapun mencotohkan seperti Kabupaten Raja Ampat yang mampu menggelar event internasional tanpa menggunakan dana daerah dan murni kolaborasi dengan swasta.

“Bahkan tidak satupun event di Berau yang masuk dalam kalender wisata nasional dari Kementerian Pariwisata. Sehingganya perlu kreativitas dalam mengelola event yang mampu menaikan wisatawan nasional dan mancanegara,” tandasnya.(*/zuh/app)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*