Kemungkinan Yusuf Terseret Banjir, Lantaran Saluran Drainase Tersambung hingga Antasari 2

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman bersama Kasat Reskrim AKP Damus Asa saat memeriksa anak sungai di Jalan Antasari 2, tempat penemuan jasad balita. (Bayu/Disway)
===============•

Samarinda, DiswayKaltim.com – Kasus hilangnya Muhammad Yusuf Ghazali (4) hingga kini masih penuh tanda tanya. Banyak yang beranggapan kalau hilangnya Yusuf di penitipan anak sejak 22 November 2019 lantaran diculik. Tapi ada juga yang mengatakan kalau Yusuf hilang terseret banjir di parit.

Untuk memastikannya, pihak kepolisian terus fokus menyelidiki di lapangan. Mulai dengan melakukan olah TKP dari tempat penitipan hingga ke anak sungai Jalan Pangeran Antasari 2, Kota Samarinda.

“Kita sudah telusuri saluran drainase dari pinggir jalan dekat penitipan hingga sungai Antasari 2. Saluran itu memang tersambung,” ucap Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Arif Budiman, melalui Kasat Reskrim AKP Damus Asa kepada Disway, Selasa (10/12/2019) siang.

Penyisiran drainase itu dilakukan Minggu (8/12/2019) malam hari, usai penemuan jasad Balita di Antasari 2. Selain mencari sisa organ, juga untuk mengetahui apakah memungkinkan jasad tersebut bisa sampai di anak sungai.

“Kita mulai menyisiri sejak pukul 12 malam sampai 4 pagi. Satu persatu kami periksa saluran parit hingga gorong-gorong ke arah sungai Antasari 2,” ucap Damus.

Saluran di Jalan AW Sjahranie itu jelas Damus, mengarah ke Folder Air Hitam dan Flyover. Sehingga apabila memang Yusuf terseret banjir, ada dua kemungkinan, terbawa ke Folder Air Hitam atau lurus ke gorong-gorong di bawah Flyover.

“Setelah dilaporkan hilang, sempat dilakukan pencarian hingga ke folder air hitam kan? Tapi korban tidak ditemukan. Sehingga ada kemungkinan korban terbawa banjir ke arah gorong-gorong di bawah flyover,” ujarnya.

Namun untuk menuju gorong-gorong itu, terdapat sekat berupa pagar penahan sampah di depan Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Jalan AW Sjahranie. Bahkan banyak yang menyebutkan kalau tubuh Yusuf bisa saja tersangkut di pagar itu apalagi memang terseret banjir.

Tapi faktanya, di sisi kanan dan kiri serta bawah pagar di parit itu masih memiliki celah selebar 30 centimeter. Ditambah lagi, dinding parit posisinya tidak lurus, melainkan agak miring.

“Celah pagar di parit itu cukup untuk balita seumuran Yusuf, apalagi saat kejadian airnya sedang pasang,” kata Damus.

Ketika melewati pagar itu, tubuh Yusuf akan masuk ke dalam gorong-gorong besar di bawah Flyover. Disana terdapat dua cabang saluran lagi, satu lurus ke Jalan Juanda, satunya ke Jalan Kadrie Oning atau Jalan Juanda di sisi kanan.

Sampai di depan SPBU Jalan Juanda, lanjut Damus, terdapat persimpangan saluran drainase. Satu di antaranya menuju Jalan Siradj Salman serta anak sungai Jalan Antasari 2 di RT 30.

“Jadi ada simpang 4 drainase. Ada yang lurus menuju simpang Air Putih dan ke kiri arah Jalan Siradj Salman. Sementara pada saluran kanan merupakan jalur kiriman air dari Jalan Kadrie Oning yang lebih deras airnya,” jelasnya.

“Sehingga bisa jadi ketika di persimpangan itu, tubuh Yusuf terdorong air kiriman dari saluran Jalan Kadrie Oning  ke arah Jalan Antasari 2,” urai Damus.

Meski demikian, itu baru kemungkinan besar saja. Pihaknya masih terus menyelidiki kasus hilangnya dan menunggu hasil DNA untuk membuktikan apakah benar jasad balita tersebut benar Yusuf.

“DNA-nya dua minggu lagi. Sementara yang mengarah itu benar adalah Yusuf, yakni dari pakaiannya,” tuturnya. (byu/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*