Koagulasi dan Jernih

Dugaan Dampak Penggunaan 7 Pupuk KLK Grup

Hasil uji laboratorium campuran air dari Sungai Segah dan paritan di watergate perkebunan kelapa sawit PT KLK Grup, oleh DLHK. (ARIE PRAMANA PUTRA)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Akumulasi pemupukan perkebunan Kuala Lumpur Kepong (KLK) Grup, diduga menjadi penyebab Sungai Segah, tercemar. Hasil uji laboratorium di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau, menemukan 7 pupuk yang sebabkan air jernih dan terjadi koagulasi.

Koagulasi merupakan proses pemadatan partikel-partikel di air, akibat dari reaksi atau perubahan kimiawi.

Kepala DLHK Berau, Sujadi mengaku, selain mengirimkan uji laboratorium air Sungai Segah yang telah berubah warna, namun uji tujuh jenis pupuk dan tiga pestisida yang digunakan perusahaan selama ini tak luput dari perhatian.

Ketujuh jenis itu ialah pupuk Amonium Sulfate (ZA), Dolomit, Rock Phospate, Borat, KCL/MOP, NK, dan pupuk Kieserite. Sementara tiga jenis pestisida yang juga turut diuji, ialah Glifosat Herbisida, Triklopir Herbisida dan Herbisida Metil Metsulfuron.

Dari tujuh jenis pupuk yang digunakan perusahaan perkebunan sawit KLK Grup, hasil uji laboratorium DLHK, membuktikan jika kandungan pupuk itu menyebabkan terjadinya koagulasi dan air menjadi jernih.

“Hasil uji laboratorium yang dikirim ke laboratorium swasta (hari ini) akan disampaikan, tetapi dari laboratorium DLHK sudah ada dan hasilnya itu memang sesuai seperti yang kami duga selama ini,” tegasnya.

Meski DLHK telah mengeluarkan kesimpulan terkait dugaan pencemaran Sungai Segah, berdasarkan uji laboratorium pihaknya, tapi tak sepenuhnya diterima oleh pihak perusahaan. Sebab menurut, manajemen PT Kuala Lumpur Kepong (KLK) Grup, selama musim kemarau tidak ada aktivitas pemupukan yang dilakukan di area perkebunan inti ataupun plasma mereka.

“Mereka tetap menampik hasil lab ini, kami terima penolakan itu. Tetapi hasil dari uji lab tidak mungkin mengingkari,” ujarnya.

“Uji sampel bukan hanya terhadap pupuk dan pestisida, namun juga terhadap air puritan,” terangnya.

Yang mana, lanjut Sujadi, hasil dari air paritan dicampur dengan air Sungai Segah lalu didiamkan satu malam, maka air akan berubah menjadi jernih seperti air mineral, bahkan ada gumpalan atau partikel yang mengendap. Berbeda dengan air di Watergate, tanpa campuran didiamkan satu malam, kemudian dituang ke wadah lain hasilnya air jernih.

Hasil semakin menguatkan indikasi yang selama ini terjadi, sehingganya langkah yang diambil Pemkab Berau dengan meminta PT Hutan Hijau Mas (HHM) dan PT Satu Sembilan Delapan (SSD) menutup setiap saluran Watergate, atau saluran pembuangan, serta menaburi dengan kapur dianggap Sudjati sudah sangat tepat.

“Setelah seluruh saluran pembuangan ditutup lihat hasilnya air sungai kembali normalkan tidak jernih lagi, lalu apa yang mau dipungkiri,” tegasnya.
“Jika ini fenomena alam, itu hanya sebagian kecil, sisanya ya karena perusahaan,” lanjut Sujadi.

Tak cukup uji laboratorium yang dilakukan pihaknya, hasil uji laboratorium ke sejumlah lembaga swasta diharapkan nanti tidak akan berbeda dengan yang pihaknya lakukan, sebab tak menutup kemungkinan lembaga swasta tersebut dapat diintervensi oleh pihak perusahaan. Namun, dipastikan Sujadi, pihaknya akan tetap bekerja secara profesional, dan persoalan harus tuntas, serta tidak terulang di waktu mendatang.

“Kami ingin yang terbaik dari peristiwa ini, dari hasil semua ini kami ingin mencari jalan keluarnya agar tidak kembali terulang apakah melalui pengelolaan saluran pembuangan atau nanti ada cara lain,” pungkasnya.(*/zuh/APP)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*