Sungai Lesan Jadi Habitat Penting Orangutan

SONY DSC

Mengenal Satwa di Berau yang Masuk 25 Prioritas

Orangutan ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masuk dalam prioritas dilindungi di Indonesia.(INT)

Mungkin sebagian besar masyarakat belum mengetahui, jika di Kabupaten Berau terdapat pusat rehabilitasi atau konservasi orangutan. Satwa primata bernama latin Pongo Pygmaeus Morio, ini hanya dapat ditemui di kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan, Kecamatan Kelay.

HENDRA IRAWAN, Tanjung Redeb

KEBERADAAN Orangutan sangat terancam kelangsungan hidupnya, terutama karena pembukaan lahan yang dilakukan secara berlebihan dan perburuan liar.
Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, semua sub-spesies Orangutan Kalimantan adalah spesies langka, dan sepenuhnya dilindungi.

Dari studi genetika Orangutan Kalimantan, terdapat tiga sub-spesies orangutan yang telah diidentifikasi, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang ditemukan di barat laut Kalimantan, Pongo pygmaeus wurmbii di Kalimantan Tengah, dan Pongo pygmaeus Morio di Kalimantan Timur. Dari ketiga sub-spesies Orangutan Borneo tersebut, Pygmaeus pygmaeus wurmbii merupakan sub-spesies dengan ukuran tubuh relatif paling besar. Sementara Pygmaeus pygmaeus morio adalah sub-spesies dengan ukuran tubuh relatif paling kecil.

Sebaran Orangutan kalimantan jenis Pongo Pygmaeus Morio, tersebar di bagian timur Kalimantan dan Sabah. Salah satu wilayah persebarannya terdapat di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau.

Menurut, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kaltim, Dheny Mardiono, penyebaran Orangutan di Berau banyak terdapat di Hutan Lindung Sungai Lesan di Kecamatan Kelay.

Diketahui Hutan Lindung Sungai Lesan, dikelola oleh KPH Berau, di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim. Di mana dalam memantau populasi satwa langka termasuk Orangutan, BKSDA Kaltim bekerja sama dengan KPH Berau dan NGO COP Borneo.

“Hutan Lindung Sungai Lesan di Kabupaten Berau merupakan habitat penting Orangutan Kalimantan,” ungkapnya, Senin (9/12).

Dalam mendata Orangutan yang hidup di hutan Sungai Lesan yang luasnya diperkirakan 11.000 Hektare (Ha), juga telah dilakukan pengambilan data pada sebagian hutan lindung. Identifikasi tersebut dilakukan sebagian hutan Sungai Lesan, yakni kurang lebih sekitar 7 hektare. Di mana pengumpulan data itu dilakukan setiap tahun, guna mengetahui populasi penyebaran Orangutan.

Menurutnya, berdasarkan data yang dikumpulkan dalam 3 tahun terakhir, diduga dalam setiap 7 Hektare lahan, terdapat 6 hingga 7 Orangutan.
“Itu pada tahun 2018 dan 2019. Meningkat dari 2017, yakni hanya 5 atau 6 individu saja,” tuturnya.

Lanjut Dheny, spesies ini diklasifikasikan oleh CITES ke dalam kategori Appendix I (species yang dilarang untuk perdagangan komersial internasional karena sangat rentan terhadap kepunahan). Beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh Orangutan adalah kehilangan habitat.

“Dampak dari pembalakan liar, kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan Orangutan untuk menjadi satwa peliharaan,” jelasnya
Sementara itu, turut disampaikan Pengendali Ekosistem Hutan pada SKW I – BKSDA Kaltim, Prawira Harja, pada umumnya, Orangutan lebih banyak ditemukan di hutan dataran rendah (di bawah 500 meter di atas permukaan laut) dibandingkan di dataran tinggi. Dijelaskannya, hutan dan lahan gambut merupakan pusat dari daerah jelajah Orangutan, karena lebih banyak menghasilkan tanaman berbuah besar dibandingkan dengan hutan Dipterocarpaceae yang kering dan banyak mempunyai pohon-pohon tinggi berkayu besar, seperti keruing.

“Orangutan sangat rentan dengan gangguan-gangguan di habitatnya,” katanya saat mendampingi Dheny.

Menurutnya, tidak sulit bagi masyarakat untuk mengenali Orangutan jika dilihat dari bentuk fisiknya. Diterangkannya, karakteristik bulunya berwarna coklat kemerahan, mempunyai lengan yang panjang serta kuat, kaki pendek, serta tidak mempunyai ekor.

Pejantan Orangutan Kalimantan, mempunyai benjolan dari jaringan lemak di kedua segi muka, yang mulai berkembang saat dewasa, khususnya sesudah perkawinan pertama. Jantan dewasa tambah dia, umumnya lebih berat dari betina. Pasalnya, bobot pejantan bisa mencapai 50 hingga 90 Kg dan tinggi badan 1,25 hingga 1,5 meter. Sementara, betina dewasa, beratnya hanya bisa mencapai 30 hingga 50 Kg dan tinggi badan 1 m.
Untuk masa hidup diperkirakan hingga 56 tahun, jika dalam perlindungan ataupun perawatan, dan 35-45 tahun jika di alam bebas.

“Mereka juga memiliki indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap dan peraba. Telapak kaki dan tangan mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia,” bebernya.

Dirinya juga mengatakan, saat ini Orangutan merupakan satwa primate yang sangat dilindungi kelangsungan hidupnya. Hal itu juga tertuang dalam Peraturan Menteri LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Nomor 106/MenLHK/Setjen/kum.I/6/2018 – Daftar Merah IUSN Tahun 2016. “Berstatus kritis (Critical Endangered),” pungkasnya. (*/APP)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*