Patroli Kehutanan Rusak Pondok Warga

Masuk KBK, Petugas Temukan Kayu

Sejumlah masyarakat dari Siduung Indah bertemu dengan pegawai UPTD Kehutanan KPHP Berau Barat, menuntut perusakan pondok.(Fery setiawan)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Puluhan masyarakat Kampung Siduung Indah, Kecamatan Segah, menggelar aksi di Kantor UPTD Kehutanan KPHP Berau Barat, Selasa (10/12). Kedatangan mereka, guna menuntut tindakan perusakan pondok, dan pembakaran kayu milik warga oleh petugas patroli kehutanan.
Sekretaris Komando Pertahanan Adat Dayak, Mikael Sengiang membenarkan tuntutan tersebut. Akibat perusakan pondok kebun, berdampak luas terhadap persoalan lainnya.
“Sebanyak dua sampai tiga kubik kayu bengkirai milik masyarakat terbakar,”katanya kepada DiswayBerau
Karena pondok rusak, sejumlah peralatan masyarakat hilang. Seperti mandau, seraung (topi), hingga chainsaw. Meski demikian, diakui Mikael, terkait kehilangan barang-barang atau alat tersebut, pihaknya tidak menuduh petugas Kehutanan. Hanya, setelah adanya tindakan dari petugas, warga kehilangan alat kerja.
Selain itu, dampak dari perusakan pondok, banyak hasil panen dari masyarakat yang harus terkena air hujan dan tidak sempat dievakuasi. Bahkan dalam kejadian tersebut, warga ada yang mendengar suara tembakan, yang diduga berasal dari petugas patroli kehutanan.
“Kami juga mendapat laporan dari masyarakat terkait suara tembakan, hanya saja kami belum tahu itu dari mana asalnya,”ungkapnya.
Sementara itu, Kasi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Pemberdayaan Masyarakat KPHP Berau Barat, Hamzah mengatakan, mendapat informasi terkait kegiatan illegal logging yang terjadi di Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) di Siduung Indah. Setelah mendengar informasi itu, pihaknya langsung melakukan patroli, dan mendapati pondok sebagai markas dari pelaku illegal logging.
“Ini hanya kesalahpahaman saja,”katanya.
Dipastikan Hamzah, pondok yang ditemukan berada di KBK. Dari kejadian itu, pihaknya berupaya melakukan penggantian atas chainshaw masyarakat yang hilang. Walaupun saat ini pihak patroli kehutanan mengaku tidak ada melakukan pengamanan atas chainshaw tersebut.
“Kami akan coba untuk mengganti walaupun kami tidak mengambilnya. Ini hanya untuk menghindari gesekan dengan masyarakat,”tuturnya.
Selain itu, Hamzah juga mengatakan, akan melakukan pemetaan terhadap kebun masyarakat yang ada di sekitar lahan KBK. Bahkan, pihaknya akan berupaya untuk melakukan pemutihan lahan untuk masyarakat. Jika hal tersebut tidak bisa dilakukan, maka akan dilakukan kemitraan kehutanan oleh KPHP Berau Barat guna menyejahterakan masyarakat, dalam pengelolaan hutan.
“Kalau bisa diputihkan itu akan lebih bagus,”tegasnya.
Lanjutnya, tidak mengetahui pasti terkait adanya suara tembakan yang didengar oleh masyarakat. Saat ini seluruh senjata milik patroli kehutanan telah berada di Samarinda. Sebelumnya senjata tersebut memang berada di Polres Berau dan mendapatkan pengawalan ketat untuk dilakukan pemindahan ke wilayah.
“Kami saat ini tidak memiliki senjata api, karena memang kami sudah serahkan ke Polisi dan telah dilakukan pemindahan,”ujarnya.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Berau, Wendi Lie Jaya menyangkan tindakan yang dilakukan oleh pihak patroli kehutanan. Menurutnya, tidak seharusnya itu terjadi. Aparat yang melakukan patroli seharusnya bertindak lebih kooperatif terhadap apa yang dihadapi.
“Kenapa tidak dilakukan pendekatan secara persuasif kepada masyarakat sebelum eksekusi tersebut,”katanya.
Terkait adanya suara tembakan tersebut, Polres Berau melalui Kabag Ops AKP Agus Arif mengatakan belum mendapatkan kepastian dan laporan terkait adanya senjata api tersebut. Saat ini pihaknya hanya akan menunggu laporan dari masyarakat tentang hal itu.
“Kita tidak bisa mengambil tindakan karena memang tidak ada bukti dan laporan yang masuk ke kami,”pungkasnya. (*/fst/app)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*