Primata Terkecil, Disebut Kera Hantu

Mengenal Satwa di Berau yang Masuk 25 Prioritas

Tarsius merupakan monyet purba yang terancam punah dan habitatnya juga ditemukan di Berau.(int)

Ukurannya kecil, dia adalah Tarsius si monyet purba. Salah satu jenis primata terkecil di dunia. Siapa sangka, binatang tersebut ternyata hidup dan berkembang biak di hutan Berau, di tengah ancaman kepunahan.

HENDRA IRAWAN, Tanjung Redeb

TARSIUS juga disebut sebagai binatang hantu, atau kera hantu karena selalu muncul di malam hari. Bahkan, bagi sebagian pemburu menyebut Tarsius adalah hewan pembawa sial. Akibatnya tak jarang Tarsius jadi korban penembakan pemburu karena merasa takut dengan kehadiran satwa tersebut.

Nama Tarsius diambil, karena ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka. Hal ini yang membuat Tarsius dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya.

Berdasarkan morfologinya, Tarsius mempunyai ciri-ciri tubuh relatif kecil dengan panjang tubuhnya berkisar antara 12-15 cm, dan memiliki berat tubuh untuk jantan sekitar 128 gram. Sedangkan betina sekitar 117 gram. Bulu tubuh Tarsius lembut berwarna coklat kemerahan, abu-abu kecoklatan, hingga jingga kekuningan. Tarsius ini memiliki ekor yang panjangnya dapat melebihi panjang tubuhnya yaitu sekitar 18-22 cm.

Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini juga memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar.

“Yang paling istimewa dari Tarsius adalah matanya yang besar dengan diameter 16 mm. Bahkan, ukuran matanya lebih besar jika dibandingkan besar otaknya sendiri,” ungkap Kepala Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dheny Mardiono berbincang dengan Disway Berau, Kamis (12/12) kemarin.

Dheny menjelaskan, mata tersebut dapat digunakan untuk melihat dengan tajam dalam kegelapan, namun hewan ini hampir tidak bisa melihat pada siang hari. Keunikan lainnya yakni, kepala Tarsius dapat memutar hampir 180 derajat baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, seperti halnya burung hantu.

“Telinga mereka juga dapat digerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa,” jelasnya

Tarsius banyak ditemukan di AsiaTenggara terutama di Indonesia, yaitu di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Ada empat sub spesies Tarsius bancanus, yaitu: Tarsius bancanus bancanus, Tarsius bancanus borneanus, Tarsius bancanus natunensis, dan Tarsius bancanussaltator. Sementara Tarsius yang hidup di Kalimantan adalah jenis Tarsius bancanus borneanus.

“Di Kabupaten Berau Tarsius ini hidup di Teluk Sulaiman, dan sejumlah hutan di Kecamatan Batu Putih, atau daerah hulu seperti Segah dan Kelay,” ungkapnya.

Secara umum kata Dheny, Tarsius bancanus dikategorikan dalam status konservasi vulnerable oleh IUCN Redlist. Namun, jika berdasarkan masing-masing subspesies, Tarsius bancanus natunensis dikategorikan Critically Endangered (Terancam kritis), Tarsius bancanus bancanus dan Tarsius bancanus saltator dikategorikan sebagai Endangered (Terancam).

Sedangkan Tarsius bancanus borneanus dikategorikan Vulnerable (Rentan). Oleh CITES, Tarsius ini dimasukkan dalam daftar Apendiks II.
Sedangkan oleh Pemerintah Indonesia, Tarsius bancanus dan semua jenis tarsius dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlindungan Tarsius juga diatur di Nomor 106/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018.

“Sehingga tidak salah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memasukkan Tarsius ini kedalam 25 satwa prioritas satwa dilindungi,” ujarnya.
Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Meski hidup di pohon, Tarsius tidak bisa begelantungan seperti halnya monyet.
“Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka melompat ketika berada di tanah,” ungkapnya

Tarsius adalah makhluk nokturnal yang melakukan aktivitas pada malam hari untuk berburu mangsa, dan tidur pada siang hari. Mangsa mereka yang paling utama adalah serangga seperti kecoa, jangkrik, dan kadang-kadang reptil kecil, burung, dan kelelawar.

Meski kerap ditemukan di sekitar hutan Berau, pihaknya tetap meminta kepada masyarakat untuk tidak mengganggu atau merusak habitat mahluk tersebut. Apalagi sampai membunuhnya tanpa alasan. Pasalnya, Tarsius bukan satwa yang tergolong hama dan merusak tanaman masyarakat.

“Keberadaannya sulit terdeteksi, tapi kerap ditemukan tanpa sengaja ketika berada di tengah hutan saat malam hari. Salah satu ancaman seriusnya adalah pembalakan liar dan kebakaran hutan,” pungkasnya. (*ZZA/APP)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*