Harga Lesu, Asosiasi Terima Banyak Keluhan

Harga sawit lesu, petani banyak mengeluhkan. (ARIE PRAMANA PUTRA)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Harga Tandan Buah Segar (TBS) masih dikeluhkan petani sawit di berbagai kecamatan di Kabupaten Berau. Hal itu disampaikan oleh Ketua Asosiasi Petani Sawit Kabupaten Berau, Mupid Datu Sahlan.

Salah satu keluhan, yakni masih rendahnya harga jual TBS. Ia menjelaskannya, saat ini ada dua cara penjualan TBS yang dilakukan petani. Yakni dari koperasi ke pabrik, dan ada juga dari petani ke tengkulak, kemudian dari tengkulak ke pabrik sawit milik perusahaan.

“Banyak petani dari berbagai kecamatan menyampaikan keluhannya karena belum membaiknya harga sawit,” ungkapnya Senin kemarin.

Ia mengatakan, untuk harga dari koperasi ke pabrik masih mengacu pada ketetapan harga November hingga 27 Desember mendatang. Di mana harganya perkilogram berkisar Rp 1.100 sementara dari petani ke tengkulak sekitar Rp 775.

“Harga itu memang baru naik beberapa pekan terakhir, sebelumnya dari petani ke tengkulak itu harganya 660 rupiah. Jauh berbeda jika dari koperasi ke pabriknya,” jelasnya

Meski merugikan, namun lanjut Mupid, hal itu terpaksa dilakukan oleh petani dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

“Ada beberapa kendala, salah satunya minimnya keberadaan koperasi, serta jarak yang cukup jauh dari pabriknya,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Kampung Labanan Makmur ini.

Akan tetapi, pihaknya belum lama ini sudah melakukan penelusuran terkait persoalan yang dialami para petani. Termasuk juga, melakukan sinkronisasi ke berbagai pihak, termasuk Dinas Perkebunan.

Apalagi saat ini, belum tertatanya sistem arus pasok dan penghitungan kapasitas pabrik, maupun daya tampung buah.

“Selain itu, belum adanya data yang valid soal luas lahan petani mandiri yang tersebar di Berau,” jelasnya.

Kendati demikian, pihaknya berkomitmen akan membantu pemerintah dalam hal mendorong pendataan dan menghitung ulang kelayakan kapasitas tampung khusus sawit mandiri.

Sehingga kata dia, petani mandiri dapat menjual sawitnya dengan harga lebih baik dari pada menjualnya ke tengkulak dengan harga rendah.
Selain itu, hasil panen sawit di setiap perusahaan yang melimpah juga dapat memengaruhi harga.

“Ini juga yang kami upayakan, agar masyarakat tidak lagi dirugikan ketika banjir buah,” pungkasnya. (*ZZA/APP)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*