Pupuk Langka, Petani Menjerit Biaya Produksi Meningkat

Petani mengeluhkan pengeluaran meningkat akibat kosongnya pupuk bersubsidi. (Benny/Disway Kaltim)

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Petani di Balikpapan mengeluhkan sulitnya mendapat pupuk NPK Ponska. Petani cabai Doris Risdianto mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung selama dua bulan. Petani harus mengeluarkan kocek lebih untuk mengganti pupuk sejenis dengan harga selangit.

“Sudah dua bulan, mau tidak mau beli yang lebih mahal. Ini berpengaruh pada biaya produksi semakin tinggi,” sebutnya, ditemui Disway Kaltim di lahannya Lamaru beberapa waktu lalu.

Senada, Pandi mengeluhkan langkanya pupuk bersubsidi itu. Kata dia, petani harus membeli pupuk pengganti dengan harga Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu per karungnya. Sangat jauh berbeda dengan NPK Ponska yang hanya Rp 115 ribu per karung.

“Itupun kadang yang Rp 350 ribu gak cocok untuk tanaman, kandungannya kurang. Nggak sesuai. Mana pupuknya enggak terkenal” ujar petani tomat itu.

Kosongnya stok pupuk bersubsidi bagi para petani diakui Kepala Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan Heria Prisni.

Ia mengatakan, kekosongan pupuk bersubsidi ini terjadi sejak 18 November 2019 lalu. Hal ini lantaran pasokan di triwulan ke III mengalami kekurangan stok.

“NPK bersubsidi terakhir penebusan oleh kios 18 November lalu. Ini karena kuota yang ada kurang. Tapi saat ini kita sedang minta ke provinsi,” ujar Heria Prisni, Kamis (19/12/2019).

Kosongnya stok dikarenakan pada semester II lalu, pendistribusiannya tidak lebih dari 50 persen. Sehingga pada semester III ini hanya disalurkan sesuai kebutuhan semester II. Sementara kelebihannya didistribusikan kepada kabupaten/kota lain yang membutuhkan lebih dari kuota yang ada.

“Realokasi dilakukan oleh provinsi itu berdasarkan realisasi penyerapan pupuk yang di triwulan II di bawah 50 persen. maka direalokasi ke kabupaten/kota lain yang membutuhkan,” jelasnya.

Sementara untuk mengatasi kekosongan kuota saat ini, DP3 Balikpapan telah mengajukan penambahan kuota.

“Ini kita coba meminta ke provinsi untuk realokasi baru lagi untuk menambah kouta Balikpapan. Ini sedang diproses mudah-mudahan ada penambahan lagi untuk Balikpapan,” tambahnya.

Meski belum mendapat persetujuan, Heria memastikan dalam waktu beberapa dekat segera mendapatkan pasokan dari daerah yang masih memiliki stok lebih.

“Memang kuota kita yang ada sudah habis semoga dalam beberapa hari ini dapat tambahan urea dan NPK dari kabupaten/kota di Kaltim yang masih lebih. Jadi bisa direalisasikan ke Balikpapan,” ujarnya.

Sementara itu terkait pasokan tahun depan agar kejadian seperti ini tidak terulang, DP3 telah melakukan penyusunan anggaran kuota pupuk bersubsidi sesuai usulan kelompok tani yang ada.

“Antisipasinya kita usulkan sesuai usulan kelompok tani dan kuota Balikpapan. Jadi tidak lagi terjadi seperti ini,” jelasnya.

“Seharusnya sih secara total cukup. Namun sistem penebusannya yang harus per triwulan. Sedangkan musim tanam petani berubah tergantung cuaca sehingga rencana dan realisasi sedikit bergeser,” pungkasnya. (bom/eny2)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*