Warga Kaltim Jangan Terlena IKN, Harus Cari Kesempatan

Hetifah Sjaifudian (Bayu/Disway)

==============

Kukar  DiswayKaltim.com – Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur (Kaltim) saat ini masih pemantapan rencana. Menggodok dengan sejumlah kajian di lapangan.

Bahkan beberapa waktu lalu. Presiden RI Joko Widodo secara langsung mengunjungi lokasi IKN bersama Gubernur Kaltim Isran Noor di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) usai meresmikan Jalan Tol Balikpapan – Samarinda (Balsam) di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Mengenai hal itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian angkat bicara. Ia berharap pemerintah di Kaltim, termasuk Kukar dan Kaltim jangan hanya “nina bobo” dengan penunjukkan IKN ini.

“Takutnya saja tiba-tiba tidak berkelanjutan dan akhirnya mengalami kerugian. Misalnya sudah dibangun sedikit demi sedikit pembangunan, terus mangkrak. Jadi harus benar-benar dijamin,” ungkap Hetifah kepada Disway, Sabtu (21/12/2019) kemarin di sela-sela Reses pertama di Hotel Grand Elty Singgana, Tenggarong.

Tapi, pernah dalam rapat bersama sejumlah menteri, termasuk Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto. Hetifah bertanya terkait perkembangan IKN di Kaltim.

“Saya tanya bagaimana hasilnya? Terus dijawab jadilah jadi. Soalnya saya tetap merasa degdegan. Karena keputusan politik bisa saja berubah,” ucap Wakil Rakyat ini.

Meski investor asing memang bisa membawa berkah. Tapi singgungnya, masyarakat Kaltim harus bisa mengambil kesempatan. Jangan hanya gigit jari.

“Kuncinya di SDM kita harus siap. Masih ada waktu 5 tahun lagi. Kita lihat di IKN yang terbuka kesempatan apa saja. Kalau ada investasi, apa saja? Kita siapkan anak-anak di Kaltim, khususnya di Kukar,” tutur Hetifah.

Yang tidak terkalahkan menurutnya, adalah dunia ekonomi kreatif serta kekuatan lokal dalam bidang pariwisata. Contohnya adalah pemandu wisata dan lain sebagainya.

“Lihat saja, kunjungan hotel-hotel saja sekarang naik. Karena mereka (Wisatawan,Red) itu kepingin tahu dan mau piknik. Untuk itu sejauh mana kita sudah harus mulai dan sudah siap nggak menghadapinya?” kata Hetifah.

Dengan dipilihnya Kaltim sebagai IKN, Hetifah juga merekomendasikan agar IKN di Kukar dan PPU ini mempunyai ikon atau landmark kota yang betul-betul kreatif, futuristic dan mencerminkan kesatuan. Bukan hanya sekadar tugu saja.

“Kalimantan ini terkenal dengan kearifan lokalnya. Semua suku dan agama berada di dalamnya,” jelasnya.

Untuk itu, Hetifah mengusulkan agar dilakukan lomba. Sehingga banyak bermunculan sejumlah gagasan.

“Nggak harus dari orang Kaltim, tapi orang luar juga bisa ikut lombanya. Nah orang Kaltim ada kesempatan menjadi juri dan memberikan masukan,” ujarnya.

Destinasi wisata di Kaltim katanya, juga potensial. Tapi yang terpenting adalah kesiapan infrastruktur dan transportasi.

“Jalanan harus bagus dan tidak banjir. Kemudian harga tiket pesawat juga harus ditekan. Saya saja ke Samarinda harga tiket ekonomi sudah Rp 2 jutaan. Gimana orang mau piknik kesini (Kaltim,Red),” cetusnya.

Hal terpenting juga, tambah Hetifah, mengenai problem terkait IKN ini.

“Kemarin Pak Rizal (Wali Kota Balikpapan,Red) mengeluh dengan meningkatnya kriminalitas. Kemudian banyaknya masalah jual beli lahan yang nggak jelas statusnya dan naiknya harga tanah. Itu tidak terbendung,” bebernya.

“Kalau tidak terkendali maka akan menjadi kerugian bagi rakyat Kaltim,” sambungnya.

Hetifah berharap, banyak aspek yang perlu diawasi bersama. Oleh karenanya, perlu adanya koordinasi dan berbagi informasi antara pemerintah pusat bersama DPR RI maupun di daerah masing-masing. (byu/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*