Simpangan Kariangau Rawan Macet

Suasana kemacetan di simpangan Kariangau. (bom/disway)

====

Balikpapan, Disway Kaltim – Dibukanya jalan tol Balikpapan-Samarinda seolah menjadi harapan baru bagi Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi. Harapan tentang meningkatkan kembali retribusi parkir di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) dan traffic penumpang pesawat lewat Kota Minyak. Namun, meski sudah memiliki jalan bebas hambatan, warga yang ingin mengakses Balikpapan akan terhambat di gerbang Kota Beriman. Yakni di simpangan Jalan MT Haryono dan Jalan Kariangau yang selalu macet parah. Masalah ini seolah tak ada solusi sampai ditetapkannya Kaltim sebagai lokasi ibu kota negara (IKN) saat ini.

Lantas mengapa hal ini masih saja terjadi? Alasannya lantaran di titik tersebut memiliki kontur jalan yang berbeda dari yang ada di kawasan lain. Salah satunya yang membedakan adalah pertigaan menanjak dan hanya memiliki dua ruas jalan saja.

“Kenapa macet selalu terjadi, alasan pertama konturnya curam dan jalan sempit. Tidak sesuai dengan volume kendaraan yang ada,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, Sabtu (21/12).

Lanjut Dirman, di titik jalan tersebut masyarakat harus memahami status jalan tersebut. Untuk Jalan MT Haryono Balikpapan-Samarinda berstatus jalan nasional. Sedangkan Jalan Kariangau berstatus jalan provinsi. Namun jalan itu terletak di Kota Minyak.

“Jangan salahkan Dishub Balikpapan. Masyarakat harus paham dulu status jalan itu. Tapi kami tidak tutup mata,” tambahnya.

Menurutnya, beberapa cara mengatasi kemacetan sudah pernah dilakukan. Yakni dengan memasang APILL (alat pemberi isyarat lalu lintas). Hanya, kewenangan untuk mengaktifkan APILL tersebut tidak bisa dilalukan oleh balai pengelola transportasi darat (BPTD) lantaran kerawanan jalan dari arah Kariangau.

“Idealnya harus ada APILL, dan saat ini sudah ada. Tapi, BPTD tidak bisa mengaktifkan karena kerawanan jalan tersebut. Khususnya arah dari Jalan Kariangau ke Balikpapan. Itu tanjakan dan banyak kendaraan berat,” jelasnya.

Dishub memiliki beberapa formulasi untuk mengatasi masalah ini. Hanya, dibutuhkan kerja sama dengan seluruh pihak terkait, yakni pemerintah provinsi dan pusat.

Pembebasan lahan jadi opsi pertama memecah kemacetan di titik tersebut. Kedua adalah jalan tembus Kariangau ke Kilometer 13. Selanjutnya jalan Perumahan Grand City yang berada di kilometer 7 tembus ke Jalan MT Haryono atau sekitar RSUD Kanujoso.

“Itu solusinya. Selain pelebaran jalan dan beberapa jalan tembus yang direncanakan,” jelas lelaki yang akrab disapa Dirman itu.

Dirman menjelaskan perlu kerja sama dengan lima pilar. Yakni, pilar pertama manajemen tentang keselamatan. Ini berada di tangan bappeda untuk menangani perencanaan. Pilar kedua jalan yang keselamatan oleh dinas PU kota atau provinsi, dan pusat. Pilar ketiga kendaraan yang berkeselamatan oleh dinas perhubungan kota dan provinsi. Kemudian, pilar keempat perilaku orang yang menangani kepolisian daerah satlantas, provinsi ditLantas dan pusat korlantas. Pilar kelima penanganan pasca kecelakaan fatalitas dinas kesehatan dan kementrian kesehatan.

“Kalo itu semua berkesinambungan, Insya Allah di sana bebas macet,” ujar Kadishub. (bom/hdd)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*