Dikenal Poligami, makin Sulit Ditemukan

Mengenal Satwa Terancam Punah di Berau: Kijang

Kerabat dari Rusa Sambar ini, kerap menjadi target perburuan. Sempat dijual bebas, karena dagingnya yang disebut-sebut nikmat. Padahal Kijang, merupakan satwa yang dilindungi.

HENDRA IRAWAN, Tanjung Redeb

KIJANG memiliki nama latin Muntiacus muntjac, tersebar di berbagai negara. Meliputi Brunei Darussalam, China (Hainan, Sichuan, Yunnan), Indonesia, Malaysia, Thailand, Burma, dan Singapura. Di Indonesia, Kijang dapat ditemukan mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali hingga Lombok. Di Indonesia, Kijang dikenal juga sebagai menjangan atau kidang.

Ia merupakan salah satu dari 4 jenis rusa yang dimiliki Indonesia, selain Rusa Bawean, Rusa Timor, dan Rusa Sambar. Kijang juga dipercaya sebagai jenis rusa tertua yang berasal dari dunia lama, dan telah ada sejak 15-35 juta tahun silam.

Dilihat dari morofologinya, Kijang mempunyai tubuh berukuran sedang dan lebih kecil Rusa Sambar. Dengan panjang tubuh termasuk kepala sekitar 89-135 cm. Ekornya sepanjang 12-23 cm sedangkan tinggi bahu sekitar 40-65 cm, dengan berat mencapai 35 Kg. Rata-rata umur Kijang bisa mencapai 16 tahun.
Warna bulunya bervariasi, dari cokelat gelap hingga cokelat terang. Pada punggung Kijang terdapat garis kehitaman. Daerah perut sampai kerongkongan berwarna putih.

Sedangkan daerah kerongkongan, warnanya bervariasi dari putih sampai cokelat muda.

Kijang jantan mempunyai tanduk yang pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar.
“Kijang merupakan binatang soliter. Jenis rusa ini biasanya aktif di malam hari meskipun sering kali tetap melakukan aktivitas di siang hari,” ungkap Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dheny Mardiono.

Kijang jantan menandai wilayahnya dengan menggosokkan kelenjar frontal preorbital yang terdapat di kepala mereka, di tanah dan pepohonan. Selain itu juga menggoreskan kuku ke tanah atau menggores kulit pohon dengan gigi sebagai penanda kawasan. Makanan utamanya adalah daun-daun muda, rumput, buah, dan akar tanaman.

Jenis rusa ini tidak memiliki musim kawin tertentu sehingga juga dikenal sebagai satwa poligami. Perkawinannya terjadi sepanjang tahun. Kijang betina dapat melahirkan sepanjang tahun dengan usia kehamilan berkisar 6-7 bulan. Dalam sekali masa kehamilan, kijang melahirkan 1 hingga 2 ekor anak.

Binatang ini menyukai habitat hutan tropis yang memiliki aneka vegetasi, padang rumput, dan hutan meranggas. Kijang juga dapat mendiami hutan sekunder, daerah di tepi hutan, dan tepi perkebunan.

Di Kabupaten Berau, disamapaikan Dheny, Kijang terdapat berbagai wilayah yang masih memiliki hutan cukup bagus. Seperti wilayah hulu baik di Kecamatan Segah, Kelay, Gunung Tabur, hingga berbagai wilayah di pesisir selatan Berau (Tabalar, Biatan, Talisayan, Batu Putih, dan Bidukbiduk).

“Tetapi saat ini Kijang sudah sangat sulit ditemukan, dan data jumlah populasinya di Berau juga sulit diketahui. Yang jelas sudah semakin sedikit,” ujarnya.
Semakin langkanya Kijang di alam bebas, dikarenakan satwa itu kerap menjadi sasaran target perburuan oleh oknum masyarakat. Selain itu, ancaman terbesar bagi Kijang ada maraknya perambahan hutan, dan alih fungsi hutan yang berujung hilangnya habitat Kijang.

“Sedangkan perburuan liar, meskipun tidak dominan, diduga ikut memengaruhi penurunan populasinya,” ujarnya.

Oleh IUCN Redlist, Kijang dikategorikan dalam status konservasi risiko rendah (Least Concern) sejak 1996. Di Indonesia Kijang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999, dan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Memburu Kijang dikenakan pidana penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 100 juta. Pasal 21 ayat 2 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati,” pungkasnya. (*/app)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*