Ahli Geologi: Agar Samarinda Tak Tenggelam, Lakukan Ini..

Kawasan Gelatik adalah daerah rawan banjir. Tapi 2 tahun terakhir, pembangunan meledak. Hampir tak ada ruas yang kosong lagi. (Tebe/ Disway Kaltim)

Samarinda, DiswayKaltim.com –  Prediksi yang menyebut Kota Samarinda akan tenggelam di 2050 terus menjadi perhatian.

Terbaru, Wakil Wali Kota Samarinda Muhammad Barkati mengapresiasi atas disampaikannya prediksi tersebut oleh pengamat lingkungan Bernaulus Saragih. Pasalnya dengan berbekal informasi ini, semua pihak terkait bisa melakukan pencegahan-pencegahan agar Samarinda tak benar-benar tenggelam di masa depan.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Kalimantan Timur Fajar Alam ikut bersuara. Fajar yang cukup konsen mengamati perubahan geologi di Kota Tepian mengaku belum bisa mengiyakan atau menolak prediksi tersebut.

“Soal prediksi itu saya belum bisa bilang iya atau tidak. Karena saya belum membaca essay atau karya ilmiah yang mengkaji itu,” bukanya secara eksklusif pada Disway Kaltim, Kamis (26/12/2019).

Namun Fajar tak menampik kemungkinan hal itu bisa saja terjadi melihat siklus 20 tahunan tentang perluasan permukiman Samarinda.

“Setiap 20 tahun, siklus pembangunan Samarinda itu, gitu-gitu saja. Tak berubah. Samarinda ini kan muasalnya dari pinggiran Sungai Mahakam dan DAS Karang Mumus. Lalu melebar ke daratan, dan terus melebar seperti pola jaring laba-laba,” katanya.

Menyelamatkan Samarinda dari genangan air saat curah hujan tinggi adalah dengan menata arah pembangunan. Jikalau sulit bagi pemerintah untuk memperbaiki tata kota saat ini, Pemkot Samarinda harus membidik daerah-daerah pinggiran yang diperkirakan akan mengalami ledakan pembangungan permukiman.

Paling utama yang harus dilakukan adalah memetakan suatu kawasan terhadap potensi banjir. Jika sudah, hal yang kemudian harus dilakukan adalah memasang plang potensi banjir. Baik sedang atau pun tinggi.

“Pemerintah harus berani melakukan itu. Selama ini kan baik pemerintah maupun warga seperti acuh dengan potensi banjir sebelum membangun. Kadang sudah tahu itu rawa, tapi tetap dibangun. Padahal membangun hunian itu investasi jangka panjang.”

“Kita berkaca pada Simpang Mal Lembuswana. Tahun 1948, kawasan itu sudah diketahui sebagai kawasan rawan banjir. Tapi tetap dibangun. Sekarang lihat, simpang lembus sangat sering viral dalam kondisi tergenang,” lanjutnya.

Tak hanya Simpang Lembuswana, sebut saja kawasan Antasari, Sempaja, serta beberapa kawasan di utara sejatinya sudah sejak lama diketahui sebagai kawasan rawan banjir. Tapi tak adanya aturan yang tegas, serta kesadaran yang luas, kawasan-kawasan itu tak mampu menahan pertumbuhan permukiman. Akibatnya, kini daerah tersebut selalu mengalami banjir saat debit air meningkat.

“Kadang tuh yang jual-jual kaplingan itu tahu kalau tanahnya rawan banjir. Tapi sengaja ditutupi pada calon pembeli,” kata Fajar yang juga gemar memburu makanan tradisional.

Pola pikir dalam transaksi jual beli properti juga harus diubah. Yang terjadi selama ini untuk menarik minat pembeli selalu dilabeli dengan dekat dengan sarana-sarana tertentu seperti pusat kota, tempat perbelanjaan, terminal, dan lainnya. Tak ada yang menyebut dengan jelas potensi banjirnya.

“Pola pikir itu harus kita rubah, karena sifat air selalu akan sama. Air mencari daerah yang lebih rendah,” paparnya.

Maka yang menjadi kunci apakah Samarinda akan benar-benar tenggelam atau tidak, adalah penyusunan RTRW yang dikaji secara komprehensif dengan berfokus pada potensi banjir, juga kesadaran masyarakat.

“Kalau terpaksa membangun di daerah banjir, ya dibuat panggung saja. Perkara atasnya di semen atau tidak, yang penting air tetap bisa mengalir sebagaimana mestinya,” jelas Fajar.

Samarinda diketahui memiliki formasi batuan yang unik ketimbang daerah lain di Kaltim. Formasi batuan yang dominan di Kota Amplang adalah lempung dan pasir. Pasir akan membuat sedimentasi hingga kerap mengendap di sungai atau pun di saluran drainase. Sementara itu, lempung membuat air lambat terserap tanah karena sifat elastisitasnya. Sehingga jika jalan air tertutup oleh permukiman dan dampak pembangunan lainnya. Di sinilah peran manusia sangat besar terhadap kelangsungan alam di Kota Samarinda.

“Kalau pemerintah sudah tahu itu kawasan banjir. Harus tegas, jangan dibuatkan akses jalan. Itu bisa menghambat laju pembangunan di kawasan rawan banjir,” tutup Geologist alumnus UGM tersebut. (ava/boy)

Baca juga : Tahun 2050, Pengamat Ini Bilang Samarinda Diprediksi Tenggelam 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*