Terlilit Utang Ratusan Juta, Bangkit dengan Modal Rp 12 Ribu

Lika-Liku di Balik Suksesnya Usaha Jamu Rina Ria

Cerita getir Rina Ria, memang pantas diteladani. Dia memulai usaha jamunya, saat hidupnya sedang terpuruk. Pun perjalanannya dalam merintis usaha itu, bukan tanpa rintangan. Tidak sekali-dua kali dia harus menelan cibiran dan kritikan.

Darul Asmawan, Balikpapan

=========================================================

Keyakinan bahwa Tuhan selalu bersamanya, memberi kekuatan dan mengiringi perjalanan hidupnya. Hal itu, tertanam kuat sebagai prinsip dalam dirinya.

Rina, sapaan dia, bersama keluarga pindah ke Balikpapan 2014 silam. Setelah usaha diler sepeda motor yang digeluti sang suami di Jakarta, harus gulung tikar. Bahkan, kegagalan bisnisnya itu, masih menyisahkan utang ratusan juta rupiah.

Selama kurang lebih satu tahun, dia dan keluarganya bertahan hidup di Balikpapan. Suaminya bekerja di salah satu perusahaan dengan gaji pas-pasan.

“Gaji suami UMR mas, itupun hampir habis, untuk mencicil utang, setiap bulan,” kata Rina.

Ketabahannya memegang janji Tuhan, berbuah manis. Tuhan memberi jalan. 8 September 2015, Rina menemukan titik nadir kehidupannya. Dia memulai usaha jamunya.

Berkaca-kaca mata Rina, menceritakan awal mula usahanya. “Uang kami tinggal Rp 20 ribu mas, untuk bertahan hidup sampai akhir bulan. Tiba-tiba saya kepikiran, membuat jamu. Hari itu juga saya ke Pasar, belanja bahan, untuk membuat jamu. Hanya terpakai Rp 12 ribu, jadinya tiga (botol air mineral) jamu cair,” kenangnya.

Esok harinya, jamu itu dibawa saat mengantar anaknya sekolah. Ditawarkan kepada guru dan orang tua siswa. Alhasil jamunya laku. Habis terjual.

Sejak saat itu, ibu dari tiga anak itu, berjualan jamu. Ramuan rempah-rempah itu diproduksi sendiri di rumahnya. Membeli bahan dari pasar, kadang dari petani langsung.

Awal berjualan, produknya dipasarkan melalui sosial media. Cukup banyak peminatnya, kata dia. Lima bulan pertama berjualan, jamu hanya dikemas dalam botol bekas air mineral yang dia kumpulkan lalu di bersihkan.

“Hal itu sempat mendapat cibiran, dari komentar orang-orang di sosial media,” ketus Rina tegar.

Namun ketegaran itu, luluh juga. Istri dari Andhika itu terisak saat menceritakan kenangan mengumpulkan botol bekas, bersama anak-anaknya. Di kawasan Lapangan Merdeka.

“Saya bersama anak-anak saya, terpaksa memulung. Di lapang merdeka. Sempat diusir security yang berjaga di situ,” ujarnya saat diwawancarai media ini, Minggu (24/11). Di rumahnya. Perum Melati Bintang Residence, Sepinggan, Balikpapan Selatan.

Cerita berlanjut, perempuan yang pernah gagal, ketika mendaftar sebagai Polwan itu, semakin yakin menggeluti usahanya.

Berjalan waktu, dia mampu membeli botol, baru, untuk mengemas jamunya itu. Memperoleh izin produk industri rumah tangga (PIRT) setelah mengikuti pelatihan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bergabung dalam komunitas wirausaha dan kenal dengan banyak pengusaha UMKM, Termasuk dikenalkan ke Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM.

Jamu cair yang dijualnya itu, adalah jamu Promil. Khasiatnya untuk wanita, mengurangi rasa nyeri saat haid, obat untuk pegal linu dan lain-lain.

Pemasarannya, kata Rina, melalui media sosial. Juga mengajukan proposal ke beberapa swalayan. Untuk ikut memasarkan produk jamunya.

“Diterima oleh Maxi, Susana, Mekar Sari dan Yova Mart. Jadi pemasarannya ada dua, sosial media dan swalayan,” jelasnya.

Puncak penjualan, lanjutnya, pada 2017-2018. Bisa produksi ratusan botol dalam seminggu. Keuntungan dari penjualan itu, bisa membantu melunasi utang keluarga. Bahkan, membayar DP dan cicilan rumah.

“Rintangan tetap ada, sering dikritik di media sosial, soal kebersihan produk. Bahkan pernah berurusan polisi. Gara-garanya ada konsumen yang menyimpan jamu terlalu lama, dua minggu, di dalam kulkas. Jadi jamunya meledak. Karena memang, jamu itu, cuma tahan sampai seminggu,” terangnya.

Namun, seabrek rintangan itu. Malah menjadikan semangat Rina kian menggebu. Wanita kelahiran Lampung itu berdiri tegar, meluruskan tekad untuk meneruskan usahanya.

Agustus 2019 dia ikut program kuliah manajemen bisnis dari Bank Indonesia. Dilaksanakan di Samarinda. “Bulan Desember nanti wisuda,” imbuh dia.

Dari ikut kuliah singkat itulah, Perempuan bergelar Sarjana Hukum tersebut memperoleh banyak pembelajaran dan inspirasi. Dia mulai berinovasi.

Dari awalnya jamu cair, kini dikembangkan menjadi jamu serbuk yang disajikan dengan cara diseduh. Variasi jamu dengan kopi dan teh. Dikemas dalam stoples. Bukan cuma itu. Kemasan dan cara penyajiannya dikembangkan lagi. Hingga jamu serbuk itu, dikemas seperti teh celup, bahkan cara penyajiannya seperti teh celup. Yang kemudian dikemas lagi dalam kemasan karton kecil.

Khasiat ramuan serba herbal itu, macam-macam. Mulai dari jamu kopi hitam untuk mengurangi ketergantungan pada rokok. Jamu kopi ungu untuk mencegah kanker, maag dan asam lambung. Jamu teh hijau untuk diet dan menstabilkan daya tahan tubuh.

“Inovasi jamu serbuk ini, saya kerjakan bersama suami saya, yang selalu memberi support dan mendampingi saya,” pungkasnya.

Pasarnya pun, semakin meluas. Ada agen yang rutin memesan, untuk menjual lagi produknya itu. Penjualan melalui swalayan juga masih tetap jalan. Selain itu, penjualan melalui media sosial juga meningkat. Yang memesan bukan hanya dari Balikpapan, ada juga dari Jakarta, Bali, dan daerah-daerah di Pulau Jawa.

Jamu itu, dipasarkan dengan nama Minuman Segar (Min-Ser) Makrin alias Emak Rina.

“Di 2019 ini omzet cenderung menurun sih, tapi sekarang juga lagi proses mendaftar ke Gojek, supaya konsumen bisa memesan melalui Gojek juga,” ungkapnya.

Kendalanya, sambung Rina. Sulitnya mengurus legalitas produk. Seperti misalnya, urus izin PIRT dari BPOM, untuk produk yang terbaru yaitu serbuk dan model celup. Begitu juga ketika mengurus sertifikat halal.

“Birokrasinya terlalu panjang dan berbelit-belit. Ditambah biayanya juga terhitung mahal untuk sekelas UMKM,”  kesal Rina.

“Padahal targetnya produk saya bisa diekspor, agar bisa membanggakan Kota Balikpapan, tentu juga meningkatkan pendapatan kota, melalu pajak. Untuk itu, saya berharap, ada perhatian lebih dan dukungan untuk kami, UMKM, dari Pemerintah Kota Balikpapan,” harapnya.

Rina juga bercerita asal-muasal dia bisa membuat jamu, beserta motivasinya. Sejak kecil dia bercita-cita jadi politisi sekaligus pengusaha herbal. Pasalnya,sejak masih duduk di bangku SMP suka buat-buat minuman herbal, untuk dikonsumsi sendiri.

“Alasan saya berjualan jamu, selain untuk membantu ekonomi keluarga. Saya ingin, agar orang-orang yang tidak suka jamu, jadi suka, dengan rasa dan inovasi yang berbeda tentunya. Yaitu dengan menonjolkan rasa manis dan tidak terasa khas rempahnya. Tanpa mengurangi khasiatnya,” sebutnya.

Dia pun berpesan kepada para pengusaha pemula, terutama yang UMKM. Untuk jangan gampang menyerah. Memulai usaha memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi dimana ada tekad yang kuat, di situ ada jalan.

“Teruntuk para wanita tangguh yang ada di dunia ini, jangan malu memulai usaha sekalipun usaha kita direndahkan orang lain. Prinsipnya, majulah tanpa menjatuhkan dan sukseslah tanpa harus menyakiti orang lain,” pesan Rina.

Terakhir, saya mau sampaikan ini. “Disaat banyak orang yg mencibir, saya dan suami saya tetap bersehati menyatukan tekad. Bahwa ini adalah cara Tuhan mengangkat kami, untuk lebih sukses lagi, dan kami selalu yakin pada janji Tuhan,” pungkasnya. (eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*