Ekspor Terkendala Perizinan, Produk Diminati Korea Selatan hingga Finlandia

Kopi Sepinggan Asli Balikpapan

Balikpapan ternyata punya komoditas kopi lokal. Hasil perkebunan sendiri. Diproduksi sendiri. Dikemas dan dipasarkan sendiri. Nama produknya pun sangat lokal; Kopi Sepinggan.

Darul Asmawan, Balikpapan

==================================================================================================

Yusuf, sang owner Kopi Sepinggan itu, bukanlah pebisnis pemula. Sudah malang-melintang dalam dunia bisnis. Menelan banyak kegagalan. Banyak usahanya yang gulung tikar, mulai dari tahu tempe, laundry, sampai menjadi direktur sebuah CV yang bergerak di bidang supplier logistik pertambangan.

Ketekunannya itu, membawa asa bagi Balikpapan, yang kini punya produk kopi itu, dengan cita rasanya yang khas. Dikenal di Korea Selatan hingga Finlandia.

Berawal dari ayahnya, yang iseng menanam kopi 2007 silam. Di dua kavling –ukuran petak tanah 10×20 meter– lahan miliknya, di Kelurahan Amborawang, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara.

Tahun 2008, Yusuf berhenti dari pekerjaannya, ia mengurus kebun kopi itu. Alhasil 2009 sudah mulai di panen. Hasil panen itu diolahnya sendiri, sampai menjadi biji kopi mentah, lalu dijajakan di pasar.

“Masih kurang laku waktu itu, untungnya juga tidak mampu menutupi biaya produksi. Hasil panennya pun tidak banyak, sekitar 3 kg seingat saya. Memang idealnya kopi baru bisa dipanen 4 tahun setelah ditanam,” ungkap Yusuf kepada Disway Kaltim, beberapa waktu lalu.

Mulai 2010-2011, ia memproses biji kopi menjadi serbuk, dipasarkan dalam kemasan 100 gram, diperkenalkan melalui media sosial dan dititipkan ke toko oleh-oleh di Balikpapan.

“Dulu kemasannya masih sangat sederhana, saya terpaksa berhutang Rp 50.000 sama tukang sablon, untuk membuat kemasan waktu itu,” kenangnya.

Baru pada 2012, brand Kopi Sepinggan dipatenkan. Ia mengaku terinspirasi dari para pendiri Starbucks Coffee dalam pemilihan brand itu. Ia sering membaca biografi mereka.

Starbucks, kata Yusuf, adalah nama sebuah pulau di kepulauan Hawai, yang kemudian dijadikan sebagai brand. Padahal di pulau itu tidak ada kopi sama sekali. Ia kemudian terpikir nama yang mudah disebutkan. Muncul nama Sepinggan dalam benaknya. “Sebab di sana, ada bandara Sepinggan, sudah pasti orang familiar dengan nama itu,” kenangnya.

Pada Agustus tahun yang sama, produk kemasan Kopi Sepinggan mampu menembus pasar modern. Yusuf diminta untuk menyuplai ke Ranch Market Balikpapan.

2014 Yusuf mulai menyeriusi usahanya itu. Ia memperoleh sertifikat halal. Tahun itu juga produk biji kopinya berhasil ikut festival kopi di Finlandia, pada suatu ajang penilaian terhadap biji kopi pilihan dari banyak negara penghasil kopi di dunia. “Responsnya pun sangat bagus dan memuaskan,” imbuhnya.

Kopi Sepinggan.

Memasuki 2015 hingga 2016, produksinya mulai meningkat. Yusuf bisa menghasilkan 50 kg biji kopi per bulan. Ia mulai menanam lagi, tahun itu, di lahan pribadinya seluas dua hektare. Namun baru sebagian dari luas lahan itu yang sudah ditanami. Jarak tanamnya dua meter per pokok. Jadi, terdapat 4.000 pokok per hektarenya. Beberapa petani lokal di sekitar juga ikut menanam, total ada tujuh hektare lahan yang ditanami kopi di perkebunan plasma itu. “Jika mengikuti umur ideal, tahun depan sudah bisa dipanen,” ujar yusuf.

Disamping itu, produksi dan riset tetap berjalan. Untuk mengembangkan kualitas produk dan perluasan pasar. 2017 produk biji kopi mentahnya, sedikit-sedikit masuk ke pasar Korea Selatan, meski masih melalui pihak ketiga, yang telah memiliki legalitas untuk melakukan ekspor. Di 2018 ia mengganti kemasan kopi serbuk dengan desain kemasan yang menarik dan modern.

Dari keuletan pria yang pernah menempuh studi jurusan K3 di salah satu universitas swasta di Balikpapan itu, usaha tanam, produksi dan jualan kopi asli Balikpapan itu mulai berkembang.

Pelan-pelan, kini ia mampu memproduksi satu kuintal (100 kg) biji kopi per bulannya. Dipanen setiap dua minggu sekali. Produksi dilakukan di rumah produksinya, di kawasan Sentra Industri Kecil dan Menengah Teritip. Bantuan dari Pemkot Balikpapan.

Pemasarannya pun semakin luas, selain dipasarkan secara online dan toko oleh-oleh dalam bentuk serbuk dalam kemasan, Kopi Sepinggan juga diminati oleh agen dan distributor. Ia juga menyuplai biji kopi ke kedai-kedai kopi. Pemesannya dari Balikpapan, Samarinda dan luar daerah seperti dari Cibubur, Jogjakarta dan Jakarta.

Saat ini, ia mempekerjakan enam orang karyawan. Untuk memetik dan menyortir biji kopi. Proses produksi kopi, papar Yusuf, dimulai dari panen, lalu kupas basah, fermentasi selama satu hari, kemudian dicuci dan dijemur. Lanjut dikupas kering dan terakhir disortir.

Grade-nya sendiri dipisahkan menjadi tiga. Grade satu dengan kualitas terbaik untuk dijual bijian. Grade dua dengan kualitas sedang untuk diolah jadi serbuk kopi. Sementara grade tiga hanya untuk dimakan sendiri,” jelasnya.

Kendala yang dihadapi Yusuf saat ini, ada di manajemen perkebunan. Yakni sistem pengairan yang belum maksimal, terutama jika memasuki musim kemarau. Juga izin untuk penggunaan pupuk dan racun hama. Termasuk minimnya pengetahuan dalam hal teknik-teknik perawatan tanaman kopi. Karena kurangnya kesempatan untuk studi banding, ia lebih banyak melakukan eksperimen sendiri, atau belajar secara autodidak.

Kendala lain yang dihadapi, belum diperolehnya izin untuk pembentukan badan usaha. Sebab untuk melakukan ekspor, mesti memiliki badan usaha. “Masalahnya, untuk mengurus pendirian badan usaha itu harus memiliki IMB, sementara kami belum mampu untuk membuat bangunan sendiri,” keluhnya.

Yusuf mengakui, bahwa dirinya pernah mendapatkan permintaan ekspor kopi dari beberapa negara di Eropa, namun terkendala di perizinan karena tidak memiliki badan usaha itu.

Ia pun pernah mengusulkan kepada Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Balikpapan, agar membuat satu badan usaha khusus untuk menaungi para pelaku UMKM dan mengakomodir produk-produk UMKM.

Meski demikian, Mahmud Yusuf pun tetap mengupayakan untuk mendirikan badan usaha sendiri. Agar target ekspor biji kopinya dapat terwujud. Namun begitu, ia tetap berharap agar produk kopinya itu lebih dikenal di daerah asalnya. “Jangan diluar dipuji tapi di daerah sendiri kurang dilirik,” sesalnya.

Selain itu, ia optimistis usaha kopinya terus berkembang dan kedepannya akan menjadi kebanggaan Kota Balikpapan. Ia pun memegang satu prinsip.

“Jangan sampai, menjalankan usaha itu seperti kerupuk. Keras pada saat setelah digoreng saja, begitu terkena air sedikit lansung melempem,” pungkas Yusuf. (eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*