Realisasi Ekspor 2019 Capai USD 2,8 Miliar

Sampai November, Masih Didominasi Batu Bara dan CPO

Sekretaris Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Philipus Rimpa (kanan) bersama Kepala Bidang Luar Negeri, M Maulud. (Ferry Cahyanti/Disway Kaltim)

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Ekspor melalui Kota Balikpapan sejak tiga tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Hal ini seiring dengan tren membaiknya harga batu bara. Emas hitam itu memang masih menjadi andalan ekspor Kalimantan Timur. Meski harganya naik turun selama bertahun-tahun.

Merujuk data Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, sampai bulan November, realisasi ekspor sebesar USD 2,86 miliar. Jumlah itu terdiri dari sektor migas sebesar USD 55.3 juta dan sektor non-migas sebesar USD 2,80 miliar.

“Realisasi ekspor melalui Balikpapan masih didominasi (sektor) non-migas. Yaitu batu bara dan CPO (Crude Palm Oil/ minyak sawit),” kata Sekretaris Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Philipus Rimpa saat dijumpai Senin (30/12/2019).

Sektor batu bara menyumbang USD 149.9  juta dan CPO sebanyak 57.1 juta USD. Ekspor ini bukan dihasilkan oleh Balikpapan. Calon penyangga ibu kota ini cuma mencatat barang yang keluar melalui pelabuhan maupun bandara.

“Memang nilainya tercatat di Balikpapan, tetapi bukan semuanya berasal dari Balikpapan. Tapi dari beberapa daerah di Kaltim seperti Kabupaten Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Kartanegara dan Samarinda,” imbuh Kepala Bidang Luar Negeri, M. Maulud.

Dinas Perdagangan Kota Balikpapan hanya mencatat barang-barang ekspor berdasarkan formulir SKA atau Surat Keterangan Asal. Surat itu  merupakan dokumen yang menerangkan negara asal suatu barang yang akan diimpor atau diekspor.

Sejak tiga tahun terakhir, realisasi ekspor terus mengalami pertumbuhan. Meski nilainya tidak signifikan. Misalnya saja tahun 2017 tumbuh sebesar 0,13 persen dan 2018 sebesar 0,11 persen.

Kenaikan ini seiring dengan membaiknya harga batu bara yang masih menjadi sektor utama ekspor.  Non-migas masih menguasai ekspor dibandingkan industri manufaktur atau bahan jadi.

Komoditas penghasil ekspor terbesar berdasarkan nilainya adalah batu bara, CPO, ikan segar, kayu olahan (plywood), dan kondensat. Sedangkan tujuan negara ekspor non-migas juga masih ditempati Cina kemudian India, Philipina dan Vietnam.

Dinas Pedagangan mendorong pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melakukan ekspor. “Pada tahun ini satu produk lokal yaitu pisang sudah melakukan ekspor ke negeri Jiran Malaysia. Sampai November 2019 dengan nilai ekspor sebesar 426 ribu USD,” pungkasnya. (fey/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*