Bagus Prakoso, Awalnya Dipaksa Main Bola Tangan, Sekarang Ketagihan

Bagus Prakoso, atlet bola tangan Kaltim. (Tebe/ Disway Kaltim) 

Samarinda, DiswayKaltim.com – Nasib baik memanglah hak preogratif Tuhan. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Bagus Tirta Prakoso contohnya. Pemuda asal Balikpapan ini bercita-cita menjadi anggota TNI dan mencintai olahraga sepak bola. Tapi sebuah ketidakterdugaan membawanya mengenyam berbagai kesuksesan di cabor bola tangan. Sesuatu yang bahkan tak terpikirkan olehnya.

Bagus Prakoso baru saja kembali dari membela panji Indonesia di kancah Sea Games 2019. Di ajang dua tahunan Asia Tenggara tersebut, Bagus membela tim bola tangan Indonesia yang berakhir di posisi ke-4. Sampai hari ini, Bagus masih tak percaya dia dapat membela negaranya di ajang Internasional tersebut. Cerita perjalanan Bagus sampai Sea Games, bermula dari 5 tahun lalu.

“Saat itu saya masih SMP. Lalu ada turnamen bola tangan antar sekolah di Balikpapan. Karena saya paling tinggi di kelas, saya dipaksa oleh guru olahraga untuk ikut. Awalnya saya menolak, tapi guru saya bilang ‘Kalau tidak mau ikut, kamu gak akan dapat nilai olahraga dari saya’. Ya mau gak mau saya ikut,” cerita Bagus secara eksklusif pada Disway Kaltim, Minggu (12/1/2020).

Entah ini sebuah kesialan atau keberuntungan bagi Bagus. Timnya menjadi juara 1 di turnamen tersebut. Selanjutnya, ia dipanggil oleh cabor bola tangan Kota Balikpapan untuk berlatih secara rutin. Bagus yang baru mulai mengenali olahraga ini mengikuti saja pemanggilan tersebut.

“Habis itu saya ikut Kejurprov Kaltim, Kejurnas, dan sampailah ke Sea Games kemarin,” lanjutnya.

Perjalanan 5 tahun Bagus di bola tangan dengan beragam prestasi di level lokal, nasional, dan bermain di kancah internasional menumbuhkan kecintaannya pada bola tangan. Terlebih bukan hanya dia yang merasa bangga atas rentetan prestasi yang didapat, tapi juga teman dan keluarganya.

Sebagai atlet muda, tentu tak mudah bagi Bagus menjalani karirnya di bola tangan. Ia kerap meninggalkan sekolah jika ada pemanggilan pemusatan latihan dan turnamen.

“Kaya Sea Games kemarin saya ninggalin sekolah 7 bulan. Jadi saya harus kerja keras mengejar ketertinggalan materi sekolah. Untungnya pihak sekolah tidak pernah mempersulit,” tambahnya.

Agar Bagus tetap bisa mengejar pendidikannya, pihak sekolah hanya memberi tugas untuk dikerjakan Bagus sebagai syarat kenaikan kelas tanpa harus mengikuti ujian lagi.

Sudah melenggang sampai Asia Tenggara, kini Bagus harus kembali mengangkat nama daerahnya dikancah PON. Ia masuk sebagai 1 dari 14 atlet di tim utama bola tangan Kaltim. Walau ajang ini tak sebergengsi Sea Games, Bagus tak ingin jumawa ataupun meremehkan. Ia mengaku akan tetap berusaha keras agar Kaltim dapat menggondol medali emas di ajang 4 tahunan tersebut.

“Perbedaannya kalau di Sea Games rasa bela negaranya kental banget. Kalau di PON bela daerah. Saya sudah lama tidak bergabung dengan teman-teman di Kaltim. Jadi saya harus menyesuaikan diri dengan mereka agar cepat mendapat chemistry,” jelas Bagus.

Kini Bagus harus membagi fokus antara persiapan PON dengan Ujian Nasional mengingat ia adalah siswa kelas 3 SMA.

Berbicara mengenai karir atletnya, Bagus mengaku tak ingin berlama-lama di bola tangan. Meski sudah kadung mencintai olahraga ini, tapi ia masih bermimpi untuk menjadi anggota TNI di kemudian hari. Tapi sebelum itu, Bagus masih punya mimpi di bola tangan.

“Setelah PON, saya masih punya peluang ikut Sea Games. Mimpi saya adalah membela Indonesia di Asian Games. Kalau itu terjadi, saya akan pensiun dari bola tangan dan berusaha masuk TNI. Tapi kalau belum, saya akan tetap di bola tangan sampai bisa mencapai Asian Games,” tekatnya.

“Saya tahu perjalanan ke Asian Games sangat berat. Untuk itu saya akan berusaha kuat. Dimulai dari PON ini dulu. Saya harap bisa segera melebur dengan tim. Selain itu semoga saya bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman untuk terus meningkatkan level permainannya agar bisa bermain di ajang yang jauh lebih tinggi lagi,” tutup Bagus.

Barangkali Bagus bisa menjadi tauladan bagi banyak orang. Bahwa kesuksesan tak selalu relevan dengan yang kita inginkan. Sebagaimana keinginan yang belum tentu membawa ke kesuksesan, kita patut mencoba berbagai potensi yang ada. Seperti kata petuah lama, “Kalau rezeki, tak akan kemana.” (ava/fdl)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*