Karena Sulfat Masam

Penelitian Sementara Tim Ekologi IPB

Polres Berau mendatangkan tim Ekologi Perairan dan Lingkungan dari IPB, guna menindaklanjuti penelitian.(HENDRA IRAWAN)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Setelah mengundang ahli tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Polres Berau kembali mendatangkan ahli untuk penelitian perubahan kondisi Sungai Segah. Kali ini, ahli ekologi dari institut yang sama.

Ahli ekologi yang didatangkan, Ekologi Perairan yakni DR Agus Priyanto, serta ahli Ekologi dan Lingkungan, Prof DR. Yanto Santosa. Penelitian dilakukan pada Selasa sekira pukul 08.30 Wita, yang beranggotakan belasan orang dari instansi berbeda.

Disampaikan Kasatreskrim Polres Berau, AKP Rengga Puspo Saputro, rombongan dibagi menjadi dua tim. Untuk tim air mengambil sampel di air berupa substrat atau lumpur di dasar sungai, beserta airnya. Kemudian, untuk tim darat mengambil sampel air di sejumlah Water Gate (WG) PT. Hutan Hijau Mas (HHM), anak perusahaan dari KLK Group.

“Ini lanjutan dari penelitian dan penyelidikan sebelumnya. Di mana sebelumnya kami telah mengundang ahli ilmu tanah dari IPB, kini kami mengundang dua ahli ekologi perairan juga dari IPB,” ungkapnya.

Namun, pihaknya masih belum bisa berbicara banyak terkait hasil penelitian tersebut. “Sementara kami masih lakukan penyelidikan, dan menunggu hasil dari tim ahli,” bebernya.

Ahli Ekologi Perairan IPB, Agus Priyanto mengatakan, dari pengamatan saat melakukan penelitian, dia melihat, bahwa pH air di sekitar bantaran Sungai Segah terpantau normal, dan memenuhi baku mutu.

“Kadar keasamannya normal mulai dari 6,9 hingga 7, kemudian kadar oksigennya 6, dan itu sudah bagus. Adapun parameter yang lain juga sudah bagus,” ujarnya.

Lanjutnya, perubahan air Sungai Segah menjadi jernih dan banyak membuat ikan mati disebabkan adanya kadar asam tinggi yang diakibatkan oleh sulfat. Menurut Agus, lapisan tanah yang ada di sekitar Sungai Segah merupakan tanah sulfat masam.

Sulfat Masam, merupakan lahan sulfat masam adalah lahan yang memiliki horizon sulfidik dan atau sulfurik di dalam kedalaman 120 cm dari permukaan tanah mineral. Pada umumnya lahan sulfat masam terbentuk pada lahan pasang surut yang memiliki endapan marin.

Sebenarnya fenomena berubahnya air sungai menjadi hijau itu bisa saja tidak terjadi, apabila tanah itu didiamkan atau tidak ada dilakukan aktivitas apapun. Tetapi, jika ada aktivitas penggalian, seperti dicangkul, digali menggunakan alat berat untuk dibuat parit, lapisan sulfatnya akan terangkat, dan asamnya akan larut ke sungai terbawa air.

“Apalagi sebelumnya juga terjadi musim kemarau. Ketika kemarau tanah akan retak-retak, dan oksigen akan masuk atau mengoksidasi lapisan sulfat itu,” terangnya
Dirinya juga berpendapat, fenomena berubahnya warna air menjadi hijau yang menyebabkan banyaknya ikan mati tidak berkaitan dengan pupuk. Sebab lanjut dia, pupuk digunakan untuk menyuburkan tanaman dengan kandungan senyawa Nitrat, dan Fosfat.

Sementara hasil yang didapatkan di lapangan yang juga disampaikan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) sebelumnya, kandungan kedua senyawa di Sungai Segah, kadarnya sangat kecil.

Bisa saja dikarenakan pupuk, apabila tambah dia, penggunaan pupuknya dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan pertumbuhan alga yang luar biasa. Hal ini akan membuat air hijau biru. Namun diterangkannya, fenomena ini bukan dikarenakan oleh alga.

“Sementara kadar dua senyawa di Sungai Segah itu nol, sekian saja, jadi tidak sampai 1 sementara standarnya itu 10. Artinya tidak ada penambahan fosfat atau pun nitrat (pupuk) seperti yang diisukan, karena hasil di bawah standar,” jelasnya.

Sementara penyebab banyaknya ikan mati tersebut, Dia menilai hal itu dikarenakan terbukanya tanah sulfat yang asam membuat tanah-tanah liat atau aluminosilikat terurai, dan melepaskan alumunium. Senyawa alumunium yang terlarut kemudian mengikat partikel dan koloid-koloid dalam air dan kemudian menggumpal atau koagulasi, yang membentuk flok atau gumpalan-gumpalan.

“Gumpalan-gumpalan ini yang menyebabkan kematian ikan. Karena dari sampel ikan yang dibuka insangnya memang tertutup flok. Karena ikan bernapas menggunakan insang, ketika insang itu tersumbat oleh flok maka ikan akan mati,” tuturnya.

Tanah sulfat memang tidak semua daerah memilikinya. Tanah sulfat biasanya banyak ditemukan di sekitar aliran sungai yang pasang surut dikarenakan akumulasi dari air laut secara perlahan sejak ribuan tahun lalu.

Namun kata dia, ini masih sementara karena pihaknya masih akan melakukan tindak lanjut dari sampel-sampel yang diambil di sekitar Sungai Segah, dan sampel air di beberapa WG milik PT. HHM akan diteliti lebih lanjut di laboratorium.

Untuk diketahui, tim air mengambil setidaknya 5 sampel mulai dari hulu sungai PT.HHM hingga sampel di muara PT. Satu Sembilan Delapan (SSD) KLK Group. Serta 4 sampel yang juga diambil di parit sekitar WG PT. HHM oleh tim darat.

Bahkan saat melakukan pengambilan sampel di Sungai Pura PT.HHM bau busuk begitu terasa dikarenakan banyaknya ikan mati yang mengapung.

“Kami juga ambil ikannya untuk sampel. Sampel yang kami ambil nanti akan dianalisis di laboratorium terakreditasi di Bogor. Hasilnya mungkin baru keluar setengah bulan lah. Jika sudah keluar baru kita dapat jelaskan hasil penelitian hari ini (kemarin),” pungkasnya (*/ZZA/app)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*