Baru Sebulan, Jalan Sangasanga Muara Rusak

Senilai Rp 6,7 Miliar, Masyarakat Sebut Buang-Buang Uang

Kondisi jalan penghubung di Kelurahan Sangasanga Muara yang amblas. (Bayu/Disway)

===

KUKAR, DISWAYKALTIM – Proyek pemeliharaan jalan di RT 07, Kelurahan Sangasanga Muara, Kecamatan Sanga-sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, kegiatan yang baru dikerjakan pada pertengahan Desember 2019 lalu. Sudah rusak alias amblas.

Informasi yang dihimpun, proyek dengan nomor kontrak: 620/745/DPU-BM/10/2019 pada 17 Oktober 2019 ini dikerjakan CV Bermuda dengan nilai Rp 6.770.536.880,34 atau Rp 6 miliar lebih. Dengan masa pelaksanaan selama 75 hari. Sementara konsultan pengawasnya ditugaskan kepada CV Excecutive 04 Consultan.

Masyarakat Sangasanga merasa kecewa. Karena dengan anggaran sebesar itu, proyek pemeliharaan jalan ini terlihat sia-sia.

“Proyek ini dimulai pertengahan Desember lalu. Dikebut pengerjaannya pada 24 Januari. Karena 27 Januari ada acara Peristiwa Merah Putih (PMP),” kata Tokoh Masyarakat Sangasanga Muara, Ancah kepada Disway, Senin (3/2) sore.

Sehingga ia menilai, proyek ini sangat dipaksakan dan buang-buang uang. Kemudian ditinggal begitu saja.

“Kalaupun untuk mengejar kegiatan merah putih, kenapa tidak ditimbun saja dulu jalanannya. Kan cuma sementara. Nanti setelah kegiatan dianggarkan sendiri,” ucap Ancah.

Kemudian terangnya, proyek senilai Rp 6 miliar lebih itu bukan hanya untuk memperbaiki jalan sepanjang kurang lebih 100 meter. Namun juga untuk pengaspalan jalan dari Lapangan Pertamina hingga Sangasanga Muara. Tapi 10 hari terakhir ini, pengerjaan pengaspalan itu tidak jalan.

“Tak ada aktivitas. Semua setop. Alat-alatnya saja diletakkan di pinggir jalan. Sedangkan yang diaspal baru sekitar 2 kilometer. Itupun tipis dan baru sisi kanan dari sini (Sangasanga Muara, red). Sebelahnya belum,” bebernya.

Ia sempat melihat langsung saat proyek perawatan jalan Sangasanga Muara mulai dikerjakan. Pondasi samping hanya menggunakan ulin. Bukan beton baja. Padahal sudah diketahui kalau terdapat lumpur di bawah jalan.

“Kami tahu kalau di bawah itu lumpur setelah Pertamina melakukan pengeboran untuk mengamankan aset pipa mereka. Nah, harusnya konsultan menanyakan keadaan tanah. Kemudian dibuat perencanaan. Jalan ini sering amblas. Masa digunakan sistem yang sama lagi. Akhirnya rusak lagi,” ungkap Ancah.

Masyarakat mengeluh dan kecewa dengan proyek yang dinilai mubazir ini. Dengan anggaran sebesar itu, hasil tidak sesuai.

“Kami tidak menyalahkan siapa-siapa. Kami hanya ingin jalan ini bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Tapi dengan dana seperti itu hasilnya tidak sesuai,” jelasnya.

“Padahal mereka ahli kontruksi. Mungkin karena dana kurang, jadi seadanya saja mengerjakan,” tambah Ancah.

Bukan hanya itu. Proyek ini tidak menggunakan rangka besi di bawahnya. Hanya ditimbun tanah. Kemudian disemen. Akhirnya belum sebulan sudah rusak.

“Sisi kanan sekitar sebulan baru rusak. Tapi yang sisi kiri baru dua hari selesai dikerjakan sudah rusak,” katanya.

Sebenarnya seluruh masyarakat hanya mengharapkan kebaikan. Sebelum jalan ini diperbaiki, selama ini masyarakat hanya menimbun dengan swadaya dan bantuan perusahaan.

“Sederhana saja. Kami hanya ingin jalan ini bisa baik dan digunakan jangka lama. Karena kami prihatin dengan masyarakat, guru dan anak-anak sekolah yang lewat jalan itu,” ucap guru SD ini.

Ia berharap Bupati Kukar bisa meminta kontraktor bertanggungjawab dan mencarikan solusi. Padahal saat pelepasan napak tilas, bupati beserta pejabat sempat melintasi dan melihat langsung kondisi jalan penghubung antara kelurahan ini.

“Beliau (bupati, red) sudah melihat langsung. Kenapa tidak ada respon? Baik ke pemborong maupun konsultan. Bahkan beliau sempat melintasi jalan ini saat gowes di Sangasanga,” sebutnya.

Selain itu, keinginan masyarakat agar jalan ini bisa ditinggikan. Karena apabila muara pasang besar. Air naik hingga ke jalan.

“Bisa tiga hari banjir di jalan. Akibatnya jalan lembek dan rusak lagi,” ucapnya.

Hal senada ditambahkan Syamsul Basri, tokoh pemuda Sangasanga Muara. Ia menginginkan pemerintah meninjau ulang proyek ini.

“Kalau bisa diperbaiki dengan tepat. Jangan asal-asalan dan tidak sia-sia,” kata Syem, sapaan akrabnya.

Pantauan media ini, kondisi jalan Sangasanga Muara tersebut sudah amblas. Banyak retakan dan pergeseran dengan ukuran bervariasi. Bahkan saat itu tidak ada aktivitas para pekerja. Padahal proyek tersebut belum rampung.

“Kadang ada, kadang juga tak ada pekerja. Alat-alat saja sudah dibawa. Terakhir saya lihat dua hari sebelum PMP. Itupun hanya semalam mereka mengecor langsung selesai. Tanpa adanya rangka besi,” terang Syem. (byu/hdd)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*