Ketat di Muara Pantai

Kepala KKP Wilayah II Tarakan, Ahmad Hidayat

Tanjung Redeb, Disway – Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) wilayah II Tarakan, mengantisipasi masuknya penularan wabah virus corona atau 2019-nCoV dari sisi udara dan laut, tak terkecuali Kabupaten Berau, yang masuk wilayah kerjanya.

Kepala KKP Wilayah II Tarakan, Ahmad Hidayat menegaskan, pengawasan intens dilakukan di perairan Muara Pantai. Pasalnya, kawasan itu menjadi aktivitas ship to ship (STS) transfer bongkar muat batu bara kapal luar negeri yang rata-rata kapal berasal dari China.

Lanjut Ahmad, selain memeriksa surat pernyataan kesiapan kapal berangkat dari Nakhoda (master sailing declaration), terkait persetujuan atau clearance dari karantina kesehatan, sesuai Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor: KM 01/2010 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (Port Clearance). Pihaknya, juga melakukan pemeriksaan kesehatan seluruh penumpang dan kru kapal.

“Seluruh kru hingga sanitasi hingga tandu yang memandu kapal untuk masuk ke Pelabuhan Muara Pantai. Karena di sana kawasan mobilitas kapal dari luar negeri, terutama China,” katanya kepada Disway Berau usai rapat koordinasi pembahasan kesiapan terhadap virus corona, Senin (3/2).

Sementara, penyebaran virus melalui bandara maupun pelabuhan sangat kecil terjadi, dikarenakan Bumi Batiwakkal merupakan wilayah transit atau persinggahan, dan belum masuk daftar daerah waspada virus dari Wuhan.

“Yang masuk dalam daftar di Kalimantan, yaitu Balikpapan dan Samarinda (Kaltim), serta Tarakan (Kaltara). Sehingga yang masuk ke Berau diharapkan sudah ternetralisir,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya tetap memasang alat pemindai suhu tubuh atau thermoscanner di Bandara Kalimarau, sebagai upaya antisipasi penyebaran virus corona masuk di Berau. Sebab, Kabupaten Berau merupakan tujuan wisata internasional.

“Pencegahan tetap harus dilakukan, terutama pengawasan penumpang domestik maupun internasional tetap harus diperketat,” terangnya.

Ditanya berapa kapal yang telah diperiksa KKP wilayah II Tarakan sejak merebaknya virus dari negeri tirai bambu? Ahmad belum bisa memastikan jumlahnya.

“Datanya di kantor, saya tidak bawa. Yang jelas, tiap bulan ada puluhan kapal masuk Muara Pantai yang dilakukan pemeriksaan,” tuturnya.

Sementara, terkait larangan penerbangan dari dan menuju kawasan Wuhan, China oleh pemerintah pusat. Lalu bagaimana dengan kapal dari China? Ahmad menjawab, pihaknya masih menunggu arahan maupun larangan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Sejauh ini belum ada intruksi maupun larangan yang diterbitkan Kemenhub. Jadi kami masih menunggu hal itu,” jelasnya.

Dijabarkan Ahmad, sejatinya zona karantina sudah ada. Tetapi akan kembali dipertegas oleh Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia atau Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Tanjung Redeb, PT Pelindo IV (Persero) Tanjung Redeb, serta karantina kesehatan. Untuk mengantisipasi dan memaksimalkan pemeriksaan kru dan kapal masuk di perairan Berau.

“Rencana siang ini (3/2), kami merumuskan letak zona karantina yang akan dilakukan regulator Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Nantinya, sebelum kapal masuk akan dilakukan pemeriksaan di zona yang akan ditetapkan,” terangnya.

Keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai Tanjung Redeb, Kabupaten Berau siap menghadapi wabah virus corona.”Jika berpikir dan membandingkan fasilitas dan sarana seperti di kota besar, kita tidak akan pernah siap menghadapi permasalahan,” terangnya.

Ahmad mengungkapkan, KKP wilayah II Tarakan belum menemukan suspect Pnuemonia Corona. Bahkan, virus tersebut belum ditemukan di seluruh wilayah Indonesia.

“Sedangkan WNA asal India negatif virus corona. Hanya saja kapal mereka dari China dan saat itu sedang sakit. Untuk memastikannya, keduanya di bawa ke RSUD Abdul Rivai,” pungkasnya.

Siapkan Zona Karantina Kapal Asing

Merebaknya virus corona di Wuhan, China menjadi perhatian serius Ketua Forum Komunitas Masyarakat Maritim Berau, Hasanul Haq Batubara. Terutama nasib Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di perairan Muara Pantai.

Menurut Hasanul, bagaimana penanganan atau mencegah penyebaran virus corona di Muara Pantai dapat menjamin tenaga kerja, tanpa menghentikan aktivitas bongkar muat batu bara, perlu dilakukan. Jika aktivitas laut distop, akan berpengaruh pada iklim investasi pertambangan batu bara di Kabupaten Berau.

“Jadi, diperlukan sinergitas antara pemilik kewenangan dan berkepentingan di dalamnya, untuk menyatukan bahasa untuk melakukan penanganan agar virus tersebut tidak menjangkit tenaga kerja dan mengganggu investasi di Berau,” katanya kepada Disway Berau.

Salah satu langkah yang telah dilakukan pihaknya, yaitu mengubah mekanisme standar operasional prosedur (SOP) atau prosedur tetap (Protap) pelaksanaan aktivitas di Muara Pantai. Di mana, kapal yang masuk terlebih dulu dilakukan pemeriksaan oleh karantina kesehatan atau Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Setelah dinyatakan bersih dan aman dari suspect virus corona, baru pandu, agen, imigrasi dan Bea Cukai melakukan pemeriksaan tata cara penerbitan surat persetujuan berlayar (port clearance).

“Terakhir, aktivitas shipper (pengiriman) dan TKBM baru boleh menaiki kapal setelah dilakukan pemeriksaan port clearance dan kesehatan,” paparnya.

Langkah preventif lainnya, lanjut Hasanul, bagaimana menerima kapal-kapal asing, khususnya kapal dari China di Muara Pantai. Berdasarkan hasil koordinasi dan kesepakatan, akan dibentuk area atau zona karantina tiga mil ke selatan dari loading foil batu bara.

“Sore ini kami tetapkan dan akan diserahkan kepada Syahbandar untuk ditetapkan sebagai zona karantina. Begitu pula dengan penanganan maupun mekanisme jika ditemukan suspect corona,” terangnya.

Hasanul juga mengungkapkan, sekira 40-45 kapal asing pengangkut batu bara yang masuk Perairan Muara Pantai, dengan presentase 60-70 persen kapal dari China.

“Jangan sampai virus itu masuk ke Berau, mudahan dengan Protap dan koordinasi ini, dapat mencega masuknya virus tersebut,” harapnya.

Hal serupa juga dikatakan Manager Pelayanan Kapal PT Pelindo IV Tanjung Redeb, Anwar Kusnadi. Sejatinya pihaknya telah melakukan langkah preventif maupun antisipasi penyebaran virus corona di Muara Pantai, dengan berkoordinasi dengan pihak maupun instansi terkait.

“Mekanismenya diubah, biasanya pandu naik kapal terlebih dulu. Sejak kasus virus ini, mekanismenya diubah,  karantina kesehatan terlebih dulu memastikan, baru pandu mengarahkan kapal ke loading foil batu bara,” terangnya.

Sementara, Kasubsi Hanggar Pos Berau, Wibi Astika menegaskan, pihaknya belum menerima laporan terkait pembatasan maupun barang masuk dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Hanya sebatas pembatasan ekspor maupun impor buah ke China.

Namun hal itu tidak mempengaruhi Kabupaten Berau. Sebab, kabupaten yang terletak paling utara Kaltim, tidak memiliki pelayaran internasional (Direct Call) maupun konektivitas langsung ke sejumlah negara, khususnya ke China.

“Di Berau, hanya sebatas menerima laporan dan berkoordinasi dengan pusat karantina,” pungkasnya.(*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*