Labibah Nur Azizah Natsir

BARISTA kopi lebih identik dengan kaum adam. Kendati demikian, perempuan bernama lengkap Labibah Nur Azizah Natsir, memilih untuk menekuni bidang tersebut selama dua tahun belakangan.

Setelah melewati banyak proses, mulai dari mengenal berbagai jenis biji kopi, aroma kopi, proses penanaman dan juga teknik roasting, akhirnya Labibah sapaan akrabnya, dapat bertahan pada posisi sebagai seorang barista perempuan.

Saat ini, Ia sedang bekerja di sebuah coffee shop yang berada di Kota Malang, sembari menyelesaikan masa studinya di Universitas Muhammadiyah Malang dengan jurusan Ekonomi Syariah. Ia pun aktif di kegiatan akademik dan non-akademiknya.

Tentang bagaimana Ia bisa memasuki bidang ini, bukan berarti bahwa Labibah adalah pecinta kopi, sastra ataupun senja yang kerap kali menjadi guyonan basi bagi mereka yang berangan-angan menjadi Barista. Lalu ia pun berangkat dari rasa ingin coba-coba membuat Latte Art.

“Sebenarnya saya enggak tertarik sama kopi, tapi suka gitu lihat latte art. Kebetulan kakak saya punya coffee shop jadi iseng untuk mencoba,” ujarnya kepada Disway.
Latihan dan latihan, menjadi kunci dari keberhasilan Labibah dalam bidangnya saat ini. Sekali mencoba sudah pasti gagal, dua kali mencoba juga belum tentu menjadi andal. Setelah banyaknya percobaan, Labibah berhasil membuat karya latte art-nya sendiri, namun rasanya kurang pas di lidah.

“Setelah berhasil, ternyata rasanya gak enak dan karena lingkungan pertemanan saya itu dekat dengan kopi, akhirnya terpancing lagi untuk belajar untuk bikin yang enak,” ujar perempuan alumni SMAN 1 Berau.

“Belajar lagi sampai rasanya enak, eh ternyata itu enak menurut saya doang. Menurut orang lain itu belum enak. Akhirnya berproses lagi sampai akhirnya dapat pengakuan, kopi yang saya hasilkan layak untuk dinikmati,” tambahnya.

Dari bedanya rasa yang diharapkan oleh pelanggan dan lidah sang Barista, hal itu tentu menjadi kendala yang harus selalu Ia temukan solusinya, Lalu dari situlah Labibah semakin menyukai tentang kopi. Rasanya yang selalu menjadi misteri, menjadi tantangan tersendiri baginya.

“Semakin aku mengulik rasa kopi, rasa penasaran aku juga semakin muncul, seperti enggak ada batasan yang bisa di-explore,” kata perempuan kelahiran Berau 13 Oktober 1997 ini.

Labibah mengakui, dari menjadi Barista, Ia bisa melebarkan jaringan pertemanannya. Ia pun banyak belajar dari barista-barista senior lainnya. Labibah mengakui ingin menekuni profesi ini lebih dalam lagi. Setelah kembali ke Bumi Batiwakkal pun, jika punya kesempatan yang luas dan dukungan yang positif, membuka kedai kopi dengan dirinya sebagai seorang Barista adalah impiannya. (*/RAP/APP)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*