Industri Pelayaran Susun Strategi Tingkatkan Kapasitas 

Ketua INSA Cabang Balikpapan, Rahmad Mas’ud. (Ferry Cahyanti/Disway Kaltim)

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Para pelaku industri pelayaran di Balikpapan mulai berpacu menyiapkan diri menyambut dimulainya pembangunan ibu kota negara di Kalimantan Timur. Pertemuan khusus pun digelar para pelaku industri di sektor kemaritiman itu, Selasa (4/2).

Hadir dalam pertemuan, Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia (INSA – Indonesian National Shipowners Association), Kaltim Kariangau Terminal (KKT), Pelindo IV, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Kantor Balai Karantina Pertanian, agen kapal, sampai Imigrasi.

“Keputusan pemindahan ibu kota baru di wilayah Kalimantan Timur menjadi angin segar bagi industri pelayaran karena pelabuhan laut di Balikpapan menunjang arus barang nasional maupun internasional,” kata Ketua INSA Cabang Balikpapan, Rahmad Mas’ud.

Balikpapan yang memiliki Pelabuhan Semayang dan Pelabuhan Peti Kemas Kaltim Kariangau Terminal (KKT) sangat strategis dalam menunjang pelayaran di Provinsi Kalimantan Timur.

“Dengan peran yang penting maka diperlukan sinergi dari semua stakeholder, utamanya anggota INSA,” kata pria yang juga menjabat sebagai wakil wali Kota Balikpapan itu.

Dengan potensi yang sangat besar tersebut maka sumber daya bidang pelayaran, harus mampu melihat peluang itu. Apalagi Balikpapan berada di tengah-tengah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Dia juga mengatakan, pengusaha pelayaran ataupun industri pelayaran harus siap bersaing.

“Balikpapan akan sebagai pusat kegiatan, orang akan banyak datang. Terutama teman-teman yang ada di INSA jangan sampai kalah bersaing di dunia pelayaran,” ucap dia.

Untuk mengakomodasi pengusaha lokal, berharap pelaku usaha pelayaran segera mendaftar menjadi anggota INSA. “Mereka yang memiliki armada jenis AHT (container tanker), bisa mendaftar ke INSA supaya mendapat skala prioritas.  Harapannya tidak hanya jadi penonton. Apalagi, INSA telah mendapatkan surat dari SKK Migas.”

Rahmad Mas’ud menuturkan, dengan lokasi Balikpapan yang sangat strategis di ibu kota negara baru tersebut maka INSA mengumpulkan stakeholder di dunia maritim dalam kegiatan coffee morning.

“Karena arus barang yang masuk memenuhi kebutuhan Kaltim, khususnya di Balikpapan sebagai penunjang ibu kota pasti 90 persen akan menggunakan laut. Sehingga kami kumpulkan stakeholder terutama di dunia kemaritiman,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama KKT M Basir mengungkapkan sepanjang 2019 trafik pengangkutan barang domestik cukup signifikan. “Untuk ekspor juga mengalami peningkatan,” ucapnya usai pertemuan.

Dia mengharapkan pertumbuhan lalu lintas bongkar muat pada tahun ini juga bisa tumbuh, tanpa menyebutkan angka pasti pertumbuhannya. Namun disebutkannya, industri pengolahan kayu (plywood) setiap bulan mengirim barang melalui KKT sebanyak 1.600 teus.

“Saya belum bisa prediksi angkanya, tapi mudah-mudahan tumbuh signifikan. Sesuai data yang kami miliki plywood saja yang ada di Kaltim setiap bulan keluar dari sini (Pelabuhan KKT) sebanyak 1.600 teus. Nah, ini belum komoditi lain,” jelasnya.

Basir memperkirakan bukan hanya kargo Balikpapan, namun bisa dari beberapa pelabuhan. “Karena Balikpapan saat ini sebagai hub port  dari pelabuhan di Balikpapan ke Bitung, Ternate dan daerah lainnya,” bilang dia. Harapannya semua kargo yang ada di daerah tersebut terkonsolidasi di KKT. Artinya ekspor dapat dilakukan melalui pelabuhan Peti Kemas Kaltim Kariangau Terminal.

Persiapan menyambut ibukota baru juga dilakukan Pelindo IV Cabang Balikpapan. Salah satu perencanaannya adalah memperluas bongkar muat barang Pelabuhan Semayang Balikpapan.

“Kami dari pelabuhan Semayang mempersiapkan antisipasi kiranya sebagai ibu kota negara yang baru. Pelabuhan Balikpapan ini sebagai penyangga, maka perencanaan ke depan adalah reklamasi,” tukas GM Pelindo IV Cabang Balikpapan, Iwan Sjarifuddin.

Ia menyebut, yang dibutuhkan Pelabuhan Semayang adalah back up area untuk mendukung kegiatan yang diperlukan ibu kota baru. “Sehingga kami berencana memperluas dengan melakukan reklamasi, namun saat ini masih dalam proses perizinan. Rencana tersebut masuk dalam rencana induk pelabuhan,” ulasnya.

Saat ini, Pelindo mampu menampung 1 juta ton per tahun. Dengan rencana penambahan lahan, paling tidak bisa menampung dua kali lipatnya. Selain itu, bongkar muat akan menjadi lebih efisien dengan frekuensi tinggi. “Prinsipnya akan menjadi pelabuhan transship. Dwelling time (antrean) bongkar muat tidak terlalu lama di pelabuhan.”

Bukan hanya dari segi infrastruktur di pelabuhan, Pelindo juga menambah SDM untuk pandu. “Tahun ini kita nambah 7 pandu, sehingga kini memiliki 22 pandu untuk pelabuhan Semayang,” sebutnya. Penambahan pandu bertujuan melayani pelayaran di sekitar pelabuhan. (fey/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*