Dampak Corona, Pengusaha Kepiting Merana

Pengaruh virus corona terus meluas. Pelaku bisnis kepiting komoditi ekspor dari Kalimantan Timur (Kaltim) juga merasakannya. Mulai Hari Raya Imlek hingga saat ini, pintu ekspor ke Tiongkok masih ditutup. Padahal kuota penerimaannya paling besar.   

==================

ANDI Daud Yusuf kelimpungan. Kepiting untuk komoditi ekspor yang sudah siap diberangkatkan terpaksa harus balik ke gudang penyimpanan. Pembeli kepiting dari Jakarta untuk sementara tidak menerima pengiriman kepiting. Lantaran pintu ekspor ke Shanghai, Tiongkok ditutup pengaruh virus berkode 2019-nCoV atau corona.

Daud tak sendirian, ada 27 pengepul lainnya yang juga merasakan hal yang sama. Daud adalah pelaksana tugas Ketua Asosiasi Pengusaha Kepiting Balikpapan (Askib).

Kabar tak mengenakan itu datang dari buyer (pembeli) kepiting di Jakarta, pada 25 Januari 2020 lalu. Buyer meminta Daud cs mengehentikan sementara pengiriman kepiting dari Balikpapan. “Jadi tanggal 26 (Januari 2020) kami tidak mengirim lagi,” katanya, Selasa (28/1/2020) saat ditemui di gudang penampungan kepiting miliknya di Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur.

Menurut dia, sedianya pada Rabu 29 Januari 2020 kemarin harusnya sudah boleh melakukan pengiriman. Namun, ia mendapat informasi lagi bahwa penerimaan suplai kepiting di Jakarta belum juga dibuka sampai waktu yang belum ditentukan.

“Belum ada informasi lagi ini untuk pengiriman ke Jakarta. Sepertinya akan lebih lama. Bisa sampai sebulan ditutup,” kata Daud saat dihubungi, Rabu (29/1/2019).

Setelah berembuk, Daud mengambil langkah cepat. Ia segera mengeluarkan stok kepiting dari gudang yang awalnya untuk ekspor itu itu, kemudian dijual ke pasar lokal Balikpapan. Konsekuensinya harga pasar lokal jauh lebih murah. “Mau tidak mau, daripada ruginya lebih besar,”  katanya.

Ia berharap kasus wabah ini tidak berlangsung lama. Agar ekspor ke Shanghai bisa segera dibuka.

Kendati demikian, ekspor untuk tujuan Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia, masih tetap berjalan. Pengiriman dilakukan langsung melalui penerbangan dari Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan ke dua negara tujuan tersebut.

Daud menuturkan, ada tiga tujuan ekspor kepiting asal Balikpapan. Yaitu Singapura, Kuala Lumpur, Malaysia dan Shanghai, Tiongkok. Namun yang paling besar permintaannya adalah Shanghai. Sehingga ketika pengiriman ke Shanghai ditutup, volume ekspor juga akan turun drastis. Akibatnya terjadi penumpukan stok kepiting di gudang.

Buntut dari kondisi itu, pengumpul di Balikpapan mengaku mengalami kerugian. Mereka memerlukan biaya tambahan untuk perawatan terhadap setok kepiting yang tertahan. Sementara kiriman kepiting dari nelayan juga terus berdatangan setiap hari.

Kemarin ada beberapa anggotanya yang terpaksa menjual ke restoran-restoran lokal Balikpapan dengan harga Rp 80- Rp 100 ribu per kilogram. Sementara mereka membeli dari nelayan seharga Rp 230 ribu. “Itu jelas kerugiannya. Karena jauh sekali perbedaan harga antara market lokal dengan harga ekspor,” ungkapnya.

Sedangkan untuk penyimpanan barang di gudang juga memerlukan biaya. Karena apabila perawatannya tidak bagus, kepiting tidak bisa bertahan lama. Maksimal sehari. Tapi kalau perawatan bagus, bisa bertahan sampai dua minggu. Tuntutan perawatan yang maksimal itu, seturut dengan besarnya biaya yang harus ditangung pengumpul.

“Perawatan bagus sekalipun, tetap ada yang mati. Biasanya yang mati bisa sampai 10 kg. Semakin lama disimpan, semakin banyak yang mati,” terang Daud.

Anggota aktif Asosiasi Pengusaha Kepiting Balikpapan, kata dia, ada 27 suplier (pengumpul). Setiap pengumpul menerima kepiting dari nelayan. Rata-rata 400 kg per hari.

“Jadi bayangkan saja, berapa total kerugiannya”. Ia menaksir, kerugian yang dialami setiap pengumpul per harinya mencapai Rp 100 juta.

Ia juga menjelaskan, kepiting yang dikumpulkan para suplier itu berasal dari nelayan tangkap dan nelayan tambak di wilayah Grogot (Kabupaten Paser), Handil dan Muara Badak (Kutai Kartanegara). “Jenis kepitingnya adalah kepiting bakau,” katanya.

Pengumpul juga tidak bisa menolak membeli kepiting dari nelayan. “Kan nelayan itu kita juga yang biayai. Semua peralatan dan operasionalnya. Kalau kita tidak ambil, ya bagaimana mereka melunasinya. Jadi mau tidak mau, kita pengumpul yang menanggung kerugian ini,” katanya.

Secara akumulasi, data ekspor pengumpul yang tergabung dalam Askib, mencapai 10 ton per hari. Itu sejak keluar surat edaran Menteri Kelautan dan Perikanan pada 15 Desember 2019 lalu, terkait izin melakukan ekspor kepiting betina. Saat ekspor kepiting betina tidak diizinkan, 27 suplier Askib hanya bisa mengirim sekitar tiga ton kepiting per hari. “Karena komposisi kepiting tangkapan nelayan 70 persen adalah betina,” pungkasnya.

Baca Juga:

Tenang, Corona Masih Jauh

 

Pengusaha Kepiting Kukar Ikut Merugi

Informasi yang sama juga dirasakan pengepul kepiting dari nelayan dan petambak di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kecamatan ini merupakan penghasil kepiting di Kalimantan TImur, selain Muara Badak dan Marangkayu. Kondisinya sama. Nelayan dan petambak setempat terpaksa menjual komoditi ekspor tersebut ke pasar lokal dengan harga rendah.

“Saya beli ke petani seharga Rp 300 ribu per kilonya. Tapi karena tidak bisa dikirim ke China. Akhirnya saya jual di Samarinda dan Balikpapan saja dengan harga Rp 60 ribu per kilo. Padahal, kalau Imlek begini harga beli di Jakarta tembus Rp 350 ribu per kilonya,” ungkap Rusli, pengusaha kepiting, saat ditemui, Senin (27/1/2020) siang di kediamannya.

Kondisi ini sudah dialaminya sejak perayaan Imlek. Total kerugian mencapai Rp 200 juta lebih dalam kurun waktu itu. Bukan hanya itu saja, kata dia, banyak kepiting miliknya mati dan terpaksa dibuang ke sungai. “Hari ini (Senin, Red.) saja sudah dua box yang mati. Kita bingung mau jual ke mana. Karena kalau hanya pasar dan restoran tidak ambil banyak,” ucap Rusli.

Ia pun terpaksa meminta karyawannya untuk tidak mencari dan membeli kepiting kepada nelayan dan petambak di Anggana. Tujuh perahu miliknya hanya ditambat di belakang rumah. Para nelayan dan petambak pun ikut kebingungan. Mau dikemanakan kepiting-kepiting tersebut. Lantaran tidak adanya pengusaha atau pengepul yang mau membeli.

“Petani tahunya salahkan pemerintah. Padahal bukan. Mereka tidak tahu kalau ada virus corona di China. Kami harap musibah ini cepat selesai dan kepiting bisa di ekspor lagi,” tuturnya.

Untuk diketahui, kebutuhan rajungan dan kepiting di Tiongkok cukup tinggi. Apalagi menjelang tahun baru Imlek. Menu makanan berbahan udang dan kepiting sudah menjadi tradisi yang disajikan di rumah dan restoran pada musim pesta dan upacara budaya serta keagamaan.

Indonesia adalah satu di antara negara pemasok kepiting. Seperti yang dilansir Trademap, 2019, total volume ekpor rajungan dan kepiting ke Tiongkok dalam kurun waktu lima tahun (2013-2017) mencapai 20 persen lebih dari total kuota ekspor Tiongkok.  Selain Indonesia, negara penyuplai lainnya, yaitu Thailand, Myanmar, dan Vietnam. (*)

Pewarta : Darul Asmawan, Bayu Surya

Editor : Devi Alamsyah

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*