Membangun Gerakan Pemuda di Tubuh HMI

OLEH: AHMAD FAUZI*

Dengan usia organisasi yang bisa dikatakan sudah tua (73 tahun), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengarungi berbagai dinamika, goncangan internal dan eksternal, yang disebabkan bergantinya rezim dari era Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era revolusi industri 4.0 yang dinahkodai generasi milenial. Meski begitu, HMI tetap berjiwa muda. Karena kiprah dan patriotisme para pendahulunya.

Dalam momentum peringatan Milad HMI yang ke-73 ini, sebagai organisasi mahasiswa yang paling tua dari segi usia, sudah selayaknya HMI menjadi role model dalam gerakan pemuda Nusantara. Bukan hanya secara formalistik. Yang lebih utama ialah menjadi penerjemah fenomena yang terjadi di zaman ini. HMI harus mampu menafsirkan kebutuhan pemuda, umat dan bangsa, serta memberikan solusi secara proporsional.

Untuk mencapai nilai-nilai agung tersebut, perlu pemahaman yang dalam tentang berbagai hal: Pertama, ideologi. Sebagaimana pasal 3 Anggaran Dasar tentang Azas, HMI adalah organisasi yang berazaskan Islam.

Di tengah terpaan gelombang dan badai materialisme yang menerjang pemikiran umat manusia, dari kelas atas hingga kelas bawah, membuat tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara jatuh dalam derajat yang hina. Padahal manusia adalah spesies terbaik di muka bumi.

Orientasi materi sebagaimana yang dikampanyekan kelompok imperialis dengan tangan-tangan kapitalisnya akan membuat manusia tersandera oleh stigma miskin dan kaya, bos dan budak, hingga stigma sang bangsawan dan si jelata. Padahal manusia dalam pandangan ilahi itu sama. Yang membedakan yakni aspek spiritual berupa keimanan dan ketakwaan. Cikal bakal kolonialisme di muka bumi ini bersumber dari kerakusan manusia yang menjadikan materi sebagai tujuannya. Padahal jika kita memahami lebih dalam, materi hanyalah sarana bagi manusia untuk membangun kesempurnaan.

HMI sebagai organisasi yang menyerap nilai-nilai kebenaran Islam tidak memandang berbagai aliran, sekte, mazhab, dan kelompok dalam Islam sebagai batu sandungan. Namun pandangan jauh ke depan tentang prinsip universalitas HMI telah diterapkan dengan  warna-warni keindahan Islam. Tanpa menghilangkan obyektifitas kebenaran.

Lalu bagaimana kita menilai kebenaran? Materialisme mempunyai media untuk membuktikan kebenaran melalui panca indra. Sementara rasionalisme mempunyai media untuk membuktikan kebenaran melalui ide. Dua mazhab berfikir ini mempunyai subyektifitas (bisa benar, bisa salah) dalam mengimplementasikan kebenaran. Karena keterbatasan indra dan khayal manusia. Maka pondasi materialisme dan rasionalisme tidak layak dijadikan dasar-dasar kebenaran.

Di sisi lain, Islam menempatkan Alquran sebagai pedoman kebenaran absolut. Agama ini mampu memposisikan panca indra dan ide secara adil. Dengan berlandaskan argumentasi-argumentasi ilmiah. Tidak hanya secara fisik. Melainkan berlandaskan pandangan ilmiah dari segi non-fisik.

Jika kita menganggap kebenaran hanya milik Allah, Tuhan pencipta semesta, maka untuk merepresentasikan kebenaran Allah hanyalah melalui manusia yang diutus-Nya di muka bumi. Perilakunya disebut sebagai Alquran yang hidup. Beliaulah Baginda Muhammad SAWW.

Rasulullah SAWW telah memberikan teladan Qurani untuk kehidupan manusia. Berupa ungkapan-ungkapan luhur seperti Hadis dan teladan-teladan praktis yang disebut Sunah. Sebagai tafsir dari Alquran dalam menjawab tantangan zaman.

Dewasa ini, kita menemukan banyak buku yang ditulis para ulama. Mereka mengacu pada ulama-ulama sebelumnya. Dari zaman sahabat hingga keluarga Nabi. Tentang kebenaran risalah ketuhanan. Hal itu disarikan dalam kurikulum perkaderan HMI. Yang terkenal dengan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

Kedua, NDP adalah materi wajib yang harus difahami segenap anggota HMI. Dalam lintas ruang dan waktu. NDP sudah banyak mengalami revisi, perubahan, dan metodologi penyampaian. Hal ini menunjukkan perkembangan cara pandang kader HMI. Dalam merumuskan pondasi yang tepat untuk memahami prinsip-prinsip ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kemasyarakatan, hingga prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Semua itu dikemas sesuai tantangan zaman dan pola fikir kader HMI. Adalah langkah maju jika kader-kader HMI terus melakukan praktik dialogis yang bersumber dari Alquran dan Hadis serta pola fikir yang filosofis. Untuk merumuskan pondasi kokoh perjuangan HMI menjadi sesuatu yang relevan. Demi menggugah kesadaran kader agar tercipta insan paripurna.

Menggugah kesadaran kader terhadap realitas internal dan eksternal hanya dapat tercipta dari cara berfikir yang filosofis. Bukan dogmatis. Oleh karena itu, pelajaran logika Islam adalah materi utama HMI sebelum memasuki etape pembahasan NDP.

Ketiga, memahami zaman. Jutaan rakyat Indonesia tidak menyadari dirinya telah diserang di berbagai lini. Yang paling berbahaya dari semua serangan itu ialah serangan budaya (culture attack). Pengidap serangan ini tidak menyadari bahkan merasa bahagia jika terkena serangan tersebut. Kealpaan dalam memahami dan bersikap terhadap serangan ini bisa berakibat fatal bagi bangsa ini.

Di antara serangan tersebut ialah: pertama, hedonisme yang berorientasi pada kesenangan pribadi akan melahirkan perilaku koruptif, ketidakpedulian pada sesama, bebas nilai, degradasi moral, serta perilaku-perilaku menyimpang lainnya. Semua itu akan mengancam para pemuda dan pemudi yang tidak menyadari gerakan ini. HMI sebagai organisasi kemahasiswaan harus mampu membimbing kadernya untuk keluar dari zona tersebut.

Kedua, intoleransi keberagaman. Berbagai fenomena yang muncul beberapa tahun belakangan ini perlu difahami sebagai gerakan global yang mempunyai tujuan membangun perpecahan di tubuh bangsa Indonesia. HMI sebagai himpunan berbagai faham dalam Islam dan suku-suku kader yang berbeda, harus tampil melawan tindakan-tindakan intoleransi. Dengan mengimplementasikan Islam keindonesiaan.

Ketiga, apatisme akan menjauhkan kader HMI yang seharusnya menjadi insan yang peduli sesama dan kritis terhadap masalah rakyat dan bangsa. Kesadaran dalam melestarikan kebudayaan bangsa, kemerdekaan politik negara di kancah global hingga penguatan ekonomi bangsa perlu dijadikan perhatian serius bagi kader-kader HMI.

***

Sebagai organisasi kader yang mengedepankan kualitas dan independensi, HMI sepatutnya menelaah situasi dalam negeri dan luar negeri. Artinya, kader-kader HMI dituntut memahami wawasan geopolitik, pengetahuan konstitusi negara secara utuh, masalah perekonomian bangsa beserta problem solving-nya. Kader-kader HMI juga dibebankan untuk memproyeksikan generasi yang berkarakter kuat dalam melawan arogansi dunia.

HMI seyogyanya mampu menjawab kebutuhan esensial mahasiswa dan masyarakat. Selain itu, kader HMI dituntut memperbaiki mindset manusia yang terpinggirkan dari peradaban. Agar menjadi spesies yang kuat lagi bijaksana.

Mentalitas revolusioner atau berjiwa merdeka termanifestasi dari posisi HMI yang menempatkan gerakannya. Apakah pada kelompok penindas (kekuatan imperialisme) atau kelompok mustad’afin dan muqawamah (poros perlawanan).

Untuk menjadi pusat gerakan, diperlukan daya tarik yang kuat dan daya tolak yang sepadan. Hal ini bermakna, menarik nilai-nilai kebenaran universal dan menolak segala bentuk kesombongan. Lakukan! Sampaikan kebenaran dengan cara yang benar.  Yakin usaha sampai. (qn/Ketua Bidang PPD HMI Cabang Tenggarong Periode 2013-2014)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*