Calon Dokter Gigi

Rizka Agustiah

SERINGKALI, perempuan bernama lengkap Rizka Agustiah ini mendapatkan julukan Tooth Fairy (Peri Gigi) oleh orang-orang terdekatnya. Julukan itu muncul, bukan hanya celotehan iseng belaka.

Sama seperti bidang yang kini digeluti, Rizka-sapaan akrabnya, sedang disibukkan dengan program koas di salah satu kecamatan terpencil yaitu Wajak di daerah Malang.

“Kebetulan saat ini sedang sibuk mengambil gelar drg di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya,” ujar perempuan kelahiran, Sambaliung 27 Agustus 1997 ini.

Setelah menempuh pendidikan selama 4 tahun, Rizka mengakui, terjun ke dunia kesehatan bukanlah keinginan murninya. Terbuka dengan yang melatar belakangi mengapa Ia menggeluti, keluarganya berperan penting. Bahkan mulanya, sangat dianjurkan untuk menjadi dokter umum.

Lama berkompromi dengan diri sendiri, Ia merasa bahwa setiap orang memiliki batasan masing-masing kemampuan. Pikirnya saat itu, bekerja menjadi dokter sama halnya dengan menangani nyawa manusia.

“Akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke fakultas dokter gigi, dan ternyata yang namanya jadi dokter pasti berurusan dengan nyawa manusia. Tapi yang namanya proses, itu pasti ada sulitnya,” ungkapnya.

Dulu, Ia pun sama seperti orang awam lainnya, menyepelekan arti dari sebuah kesehatan gigi yang tidak ada sangkut pautnya ke organ lain. Selama proses belajar, akhirnya mengerti jika gigi pun berhubungan dengan saraf, jantung dan tekanan darah sekalipun.

Selama dua tahun, Rizka, mau tidak mau tetap belajar seperti materi yang dokter umum pelajari, dan di tahun ketiga barulah mereka fokus untuk menangani masalah bagian dada hingga kepala. Tak hanya memerlukan otak, menjadi dokter gigi memerlukan tangan yang lentik, keahlian dan kehati-hatian.

“Tangan punya peranan penting banget ya, contoh sederhana, seperti membuat gigi palsu juga harus sedemikian rupa,” kata perempuan alumni SMAN 4 Berau ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, Rizka semakin menggebu menjadi dokter yang seperti Ia inginkan. Ingin segera berbagi ilmu dan terjun langsung menangani masalah pasien.

“Karena saya gemas, melihat permasalahan gigi yang disebabkan oleh masalah sepele. Mana lagi gigi itu kembali lagi ke estetika ya, kalau senyum yang dilihat kan gigi. Nah bagaimana kalau giginya rusak? kan jadi kasihan, apalagi mereka yang kurang pengetahuan tentang kesehatan,” ungkapnya.

Berbicara tentang keinginan kembali pulang ke Berau, dan mengaplikasikan ilmunya, Rizka tentu sangat ingin sekali sembari melihat peluang pekerjaan yang luas. Karena itu, Ia sangat giat selama berkuliah dan menjalankan tugas Koas dengan benar. Namun menurutnya, Ia termasuk mahasiswi yang standar dan kurang aktif dalam urusan non akademik. Tetapi jangan salah, selain pandai dalam urusan medis, perempuan ini sejak SMP sangat aktif dalam dunia bahasa, terutama Bahasa Inggris.

“Kalau tentang prestasi, hasil Toefl termasuk prestasi tidak ya? Saya score Toef-lnya 563,” ujarnya pada Disway. *RAP/APP

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*