Makan di Warung Pecel Tertinggi, Pulang Didomplengi Makhluk Gaib

Mendaki dan Menyelami Kisah Gunung Lawu (2-habis)

Gunung Lawu sangat erat kaitannya dengan cerita Kerajaan Majapahit. Hal itu juga yang membuatnya kerap dikait-kaitkan dengan mahkluk gaib dan cerita mistis.

Darul Asmawan, Disway Kaltim—————————————

Idealnya tempat mendirikan tenda ketika melakukan pendakian di Gunung Lawu ada dua.Yang pertama di pos 3 karena terdapat sumber air yang selalu tersedia, dialirkan melalui pipa, entah dari mana.

Tempat kedua di Gupak Menjangan yang lokasinya lapang dan terbuka. Memiliki pemandangan yang ciamik. Sabana luas yang kadang diselimuti kabut tipis menambah keindahan kawasan itu.  Air juga kadang tersedia jika musim hujan, di sebuah kubangan di dekat Gupak Menjangan.

Itu untuk durasi pendakian dua hari dan satu malam. Bisa juga mendaki selama tiga hari dan dua malam. Pendaki bisa nge-camp di kedua tempat tersebut, atau di pos 3 dan puncak Hargo Dalem, warung mbok Yem, atau di sekitarnya.

Penulis dan rekan pendakian dari awal memang tidak menetapkan durasi pendakian. Tiga hari atau yang dua hari. Prinsipnya, semampu kami berjalan. Perbekalan pun sudah dipersiapkan untuk tiga hari.

Di pos 3 kami bertemu sejumlah pendaki. Ada pendaki yang akan naik, ada juga yang akan turun. Termasuk tiga pendaki asal Tanggerang yang sedang sibuk memasak.

Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan di tengah kabut yang menyelimuti hutan pinus, sehingga suhunya lebih dingin.

Hari hampir gelap, kabut pun semakin tebal.  Suhu semakin dingin. Kami beristirahat sejenak bersama tiga pendaki tadi. Kami melanjutkan pendakian menggunakan senter di kepala sebagai penerangan.

Malam berlalu dengan banyaknya rencana yang tidak sesuai. Semua di luar perkiraan. Bermalam di pinggir jurang, di jalur pendakian antara pos 3 ke pos 4. Dengan kondisi kedinginan dan kelelahan.

Warung Nasi Pecel Tertinggi di Indonesia

Ada satu lagi ikon yang cukup terkenal dari Gunung Lawu. Yaitu keberadaan warung nasi pecel milik Mbok Yem di puncak Hargo Dalem. Warung nasi pecel itu bisa bisa dibilang sebagai yang tertinggi di Indonesia. Pasalnya, letaknya berada pada ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Makan nasi pecel dari warung itu, adalah salah satu cita-cita kami dalam pendakian ini. Ha.ha.ha…

Tiba di Hargo Dalem sekitar jam setengah satu siang dan langsung mencari warung itu. Puncak Hargo Dalem, terdapat petilasan Prabu Brawijaya V, kami tidak masuk ke dalam bangunan itu, karena belum tahu kalau ternyata itu adalah petilasan. Di sekelilingnya, terdapat beberapa warung, namun hanya satu yang terbuka, itulah warung Mbok Yem.

“Simbok tidur, mau pesan apa?,” sahut suara setelah kami memanggil-manggil. “Nasi pecel Pakde, dua,” penulis menimpali.

Makan nasi pecel di warung dengan ketnggian 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Ia segera menyiapkan dua piring nasi, yang dibubuhi dengan bumbu pecel dan telur goreng. Kami makan dengan lahap. Porsinya tidak begitu banyak, tapi cukup mengenyangkan. Yang melayani kami itu rupanya anak angkat Mbok Yem.  Namanya Muis. “Saya tinggal di sini sejak 2006, sudah dianggap anak oleh si mbok,” ujar Muis memulai cerita.

Dari penuturan Muis, Mbok Yem sudah tinggal di warung itu sejak 1992 silam. Mbok Yem saat ini sudah berusia 70 tahun. Dia (Mbok Yem), kata Muis, turun gunung setahun sekali. “Keluarga besarnya tersebar di berbagai daerah, ada yang di Kota Solo, ada yang di Kabupaten Magetan, bahkan ada yang di Kalimantan,” sambungnya.

Muis melanjutkan, Mbo Yem pergi ke Hargo Dalem awalnya untuk mencari bahan baku membuat jamu. “Itu pekerjaan si mbok dulu (membuat dan menjual jamu) sejak 1992, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” ucapnya.

Lalu, karena Mbok Yem sering pulang pergi ke tempat tersebut, akhirnya dia  merasa cocok untuk tinggal di Hargo Dalem. Sejak saat itulah Mbok Yem tinggal di warungnya itu. Berjualan makanan dan minuman, untuk peziarah dan pendaki, yang melewati dan bahkan bermalam di tempat tersebut.

Masih menurut cerita Muis, Hargo Dalem adalah pusat spiritual. Di tempat itu terdapat petilasan Raja Brawijaya V. Raja terakhir sebelum runtuhnya kerajaan Majapahit sekitar 1.400 masehi silam. Runtuhnya Majapahit itu, urai Muis, karena berdirinya Kerajaan Demak, yang didirikan putra Brawijaya V sendiri, Raden Fatah. Sejak saat itu kerajaan Majapahit pindah ke Hargo Dalem.

Jadi, semua jalur pendakian di Gunung Lawu, kata dia, adalah jalur pendaki yang hendak melakukan ritual di petilasan tersebut. Semua jalur pendakian di Gunung Lawu bertemu di puncak Hargo Dalem. Jadi, pendakian yang melalui jalur manapun, pasti melewati puncak Hargo Dalem dan warung Mbok Yem.

“Orang ziarah rata-rata bermalam. Puncaknya yang ramai, bisanya di bulan sura,” katanya.

Bagaimana Mbok Yem memenuhi kebutuhan bahan baku nasi pecel dan barang dagangan lainnya ? Muis membeberkan, sejak 2006, ia sendiri yang turun ke Karang Anyar, malalui jalur Cemoro Sewu untuk belanja kebutuhan dagangan, dua kali seminggu.

Namun sejak 2015, kata Muis, pekerjaan itu tidak dilakukannya lagi. Ada porter yang mengantar barang pesanan warung Mbok Yem setiap dua kali seminggu. “Ada empat sampai enam orang yang mengantar biasanya,” ungkapnya.

Biaya angkut barang tersebut sekali antar sebesar Rp 400 ribu. Sedangkan totalnya sekali pengantaran, ia biasanya merogoh kocek hingga Rp 2 juta, untuk membayar porter tersebut.

Caranya, lanjut Muis, ia menitipkan daftar belanja kepada pendaki yang akan turun. Sesampainya di base camp pendakian, pendaki yang dititipi daftar belanja tersebut diminta untuk mengirimkan daftar belanjanya melalui pesan singkat kepada porter langganan warung Mbok Yem.

Sebenarnya, sejak 2008, di puncak Hargo Dalem masih bisa berkirim pesan dan berkomunikasi via telepon seluler menggunakan jaringan GSM. Namun sejak 2017, jaringan seluler itu sudah tidak tersedia lagi.

Untuk kebutuhan listrik, Muis mengaku menggunakan energi matahari dari perangkat panel surya (solar cell) sejak 2017. “Dulu sejak 2008, pakai Generator (Genset). Tapi semenjak dua tahun terakhir, sudah tidak pakai genset lagi, cuma pakai solar cell,” katanya.

Dengan suplai listrik dari panel surya itu, Muis dan Mbo Yem bisa menghidupkan sebuah televisi kecil model tabung yang sudah usang. Dari situ mereka mengetahui informasi dari kanal berita yang ditontonnya.

Warung Mbo Yem di Hargo Dalem sebenarnya bukan satu-satunya. Terdapat tiga warung saat ini di sekitar petilasan Brawijaya V itu. Warung-warung itu hanya buka saat akhir pekan saja. “Akhir pekan biasanya pendakian ramai. Juga buka pada saat ramai ritual,” jelas Muis.

Di samping itu, lanjutnya, di sepanjang jalur Cemoro Sewu, saat ini juga terdapat 10 warung, yang tersebar di beberapa pos pendakian.

Untuk diketahui, harga satu porsi nasi pecel di warung Mbok Yem dibanderol Rp 13 ribu. Untuk sebotol air mineral takaran 600 ml dijual seharga Rp 12 ribu.

Didomplengi Makhluk Gaib

Sudah bukan rahasia umum jika Gunung Lawu terkenal dengan cerita mistisnya.  Kesan mistis sudah dirasakan sejak memasuki pintu base camp pendakian. Potongan bunga rupa warna, yang tersaji di sebuah wadah menjadi pemantiknya. Sesaji itu menyerbakkan aroma kembang bercampur kemenyan.

Sugi, petugas jaga base camp saat itu mengatakan, dari 33 gunung yang ada di Pulau Jawa, Gunung Lawu bisa dibilang gunung paling mistis.

“Berdasarkan cerita-cerita pendaki kadang terdengar suara sinden, suara gamelan, suara anak kecil, bahkan suara dentingan pedang dan suara gokar,” kata Sugi mengisahkan.

Yang paling terkenal mistis adalah keberadaan Pasar Dieng atau pasar setan. “Pasar Dieng sejak dulu dianggap gaib,” ujarnya lagi. Diyakini sebagai pasar dalam dimensi gaib. Tempat itu dipercaya sebagai tempat berkumpulnya mahkluk gaib melakukan transaksi jual beli.

Ada sebuah mitos yang dipercaya masyarakat sekitar yang disampaikan kepada para pendaki.  Apabila melewati wilayah itu, dan terdengar suara yang tidak diketahui sumbernya. Maka sebaiknya pendaki meninggalkan salah satu barang atau benda. Hal itu bermakna sebagai barter dengan makhluk gaib.

Pengalaman yang langsung dialami penulis ialah merasa ada yang mendomplengi. Tiba-tiba tas ransel (carrier) terasa berat. Beban seperti bertambah dua kali lipat. Telinga sebelah kanan terasa panas, sendi-sendi mulai dari pergelangan kaki, lutut, pinggang hingga punggung terasa sakit, seperti sedang membawa beban puluhan kilogram.

Penulis berfoto di samping kotak tempat menyimpan dupa untuk ritual.

Peristiwa itu terjadi saat perjalanan turun, tepatnya di pos 5, setelah berfoto persis di samping sebuah kotak tempat menyimpan dupa untuk ritual.

Selama perjalanan turun, penulis merahasiakan kejanggalan itu dari rekan pendakian. Perjalanan turun itu pun berlangsung dramatis hingga larut malam. Dengan sisa-sisa tenaga. Dari pos 1 ke base camp kaki seperti hanya diseret-seret, tidak cukup kuat lagi melangkah.

Kami pun turun dengan sisa-sisa tenaga. Namun, keanehan kembali terjadi, beban ransel di punggung sudah terasa normal. Tapi ada hal lain lagi menjadi tanda tanya. Penulis merasa meriang tiba-tiba. Suhu tubuh tidak konsisten. Panas dingin.

Malam itu, benar-benar kami bertaruh untuk keselamatan diri. Pasalnya, kami memaksakan turun dengan kondisi tubuh yang kurang sehat. Namun, tetap berhasil dilalui. Malam itu kami tiba di base camp sekitar pukul sebelas.

Kami mulai bercerita berbagai kejadian mistis keesokan harinya. Seperti yang penulis alami. Beban ransel semakin berat, telinga terasa panas.

“Hahaha, itu sama dengan pengalamannya Dzawin, (comedian yang hobi naik gunung) itu waktu mendaki Lawu,” ujar Edwin memberi semangat.

Jejak Kerajaan Majapahit

“Lawu sebenarnya adalah peninggalan Kerajaan Majapahit,” ucap Sugi, penjaga base camp pendakian, warga setempat yang sejak lahir tinggal di lereng Lawu itu.

Konon medio 1.400 masehi silam, menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit, sang raja terakhir Prabu Brawijaya V pergi mengasingkan diri ke Gunung Lawu bersama pengikut setianya, Sabdo Palon.

Penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit saat itu, ditengarai karena putra Prabu Brawijaya V dari istrinya Dara Petak, Raden Fatah, tidak bersedia melanjutkan pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Sang Pangeran yang telah memeluk agama islam dari ibunya, justru menginginkan ayahnya yang masih dianggap beragama Budha, ikut memeluk agama islam. Namun keinginan itu, tidak seutuhnya dipenuhi sang ayah. Raja Brawijaya V dianggap setengah hati memeluk agama islam saat itu. Akhirnya sang putra raja tersebut membentuk sendiri kerajaan islam, yakni Kerajaan Demak.

Melihat kondisi itu, membuat Prabu Brawijaya murung. Karena tidak menginginkan adanya perpecahan di dalam keluarga kerajaan, akhirnya sang raja memilih menepi dan mengasingkan diri di Gunung Lawu, bersama abdi setianya Sabdo Palon.

Dalam perjalanannya ke Puncak Lawu, Prabu Brawijaya V bertemu dengan dua kepala dusun di kaki Gunung Lawu, yaitu Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Karena kesetiaannya pada tuannya, kedua orang tersebut ikut bersama ke Puncak Lawu.

Singkat cerita, sesampainya di Puncak Hargo Dalem, keempatnya berpisah. Prabu Brawijaya yang telah mengetahui kejayaan Majapahit akan memudar, memilih Hargo Dalem sebagai tempat pertapaannya.

Sementara dua abdi setianya, Dipa Menggala diangkat menjadi penguasa Gunung Lawu. Sedangkan Wangsa Menggala diangkat menjadi patihnya dan diberi gelar Kiai Jalak. Abdi setia lainnya, Sabdo Palon, mengambil tempat pertapaan di puncak Hargo Dumilang.

“Tempat terakhir Brawijaya V, untuk mukso, ada di Hargo Dalem. Sekarang di tempat itu, terdapat petilasan Prabu Brawijaya V. Dan menjadi tempat meditasi serta berdoa, meminta petunjuk atas kesulitan hidup, bagi masyarakat Jawa,” jelas pria paruh baya yang rutin melakukan ritual di Gunung Lawu itu.

Di Lawu, lanjutnya, ada seribu lebih situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Bukti-bukti peninggalan itu antara lain Pasar Dieng, yang dianggap sebagai pasar tradisionalnya mahkluk gaib. “Sebenarnya di tempat itu ada candi, namun sekarang kondisinya tidak terawat,” ungkapnya.

Kemudian, ada Bulak Peperangan, yang pada masa itu menjadi tempat berperang antara pasukan Kerajaan Majapahit dengan pasukan Kerajaan Demak. Selama seminggu, terjadi pertumpahan darah di kawasan itu. Di tempat yang sama juga terdapat kawasan yang disebut Ondo Ranteh, yaitu benteng pertahanan pasukan Kerajaan Majapahit.

Selain itu, lanjut Sugi, keberadaan Candi Cetho dan Candi Kethek juga menjadi bukti jejak peninggalan Majapahit. Candi Cetho ditemukan sejak ratusan tahun lalu. Peninggalan Raja Majapahit, yaitu Prabu  Brawijaya IV. Hal itu, diketahui dari jenis fisik bangunan candi dan beberapa patung yang menandakan, yang mirip wayang.

Sedangkan Candi Kethek, baru ditemukan 20 tahun lalu, oleh seorang arkeolog Jepang. “Itu salah satu peninggalan Hanoman pada masa Majapahit, cerita dari Ramayana. Sekarang candi itu, jadi tempat wisata religi dan ibadah bagi pemeluk agama apapun asal dengan niat baik,” tandasnya.

Ritual dan Ziarah di Gunung Lawu

Tujuan pendakian ke Gunung Lawu bukan hanya untuk menyalurkan hobi, wisata dan olahraga. Lebih dari itu, Gunung Lawu juga menjadi tempat ritual bagi masyarakat Jawa. Utamanya pada tanggal satu sura (sistem penanggalan Jawa), akan ramai orang yang mendaki untuk melakukan ritual berdoa, semadi dan mengasingkan diri, mencari ketenangan, meminta petunjuk kepada Tuhan untuk kebaikan hidup.

“Banyak orang jawa bertirakat di gunung Lawu. Untuk menerapkan budaya leluhur, meskipun telah memeluk agama islam,” ujar Eko, relawan posko pendakian via Candi Cetho usai pendakian.

Sementara itu, Sugi yang juga sering melakukan semadi atau ritual di Gunung Lawu mengatakan, orang Jawa memaknai Gunung Lawu sebagai pusar jagat atau pusarnya bumi. Tempat untuk melakukan ritual ibadah dan berdoa. “Berdoa dalam artian, misalnya mau cari pangkat, itu bisa. Tapi ketika sudah dapat pangkat lalu digunakan untuk hal yang tidak baik, itu bisa berakibat fatal,” ungkap Sugi.

“Saya sendiri pernah mencoba, saat tidak ada modal sama sekali, saya minta petunjuk di sana (puncak Hargo Dalem). Alhamdulillah, lima hari setelah itu, ketemu jalannya. Itu percaya tidak percaya. Yang penting jangan sampai ada perjanjian, misal mau potong kerbau, lalu tidak ditepati, bisa berakibat fatal. Mending datang ke sana lalu berucap syukur, itu sudah cukup,” Sugi menceritakan.

Ia melanjutkan, dahulu ada acara Panca Wali Krama selama dua bulan di Candi Cetho untuk mengingat leluhur. Berkumpul masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Acara itu juga, bertepatan dengan Wuku Medang Sliwon, yaitu hari kelahiran Kerinjeng Gusti, salah satu leluhur, tangan kanan Prabu Brawijaya IV.

“Candi Kethek dan Candi Cetho, juga enak untuk meditasi, pikiran jadi tenang, biasanya malam Jumat ramai orang meditasi, semacam sembahyang,” ia mengungkap pengalamannya.

Selain melaksanakan ritual di tanggal satu sura, masyarakat yang masih berpegang pada budaya-budaya leluhur, juga kerap datang berziarah di Gunung Lawu, utamanya di Petilasan Brawijaya V di puncak Hargo Dalem. (eny)

Baca Juga:

Mendaki dan Menyelami Kisah Gunung Lawu (1): Menikmati Sabana Gupak Menjangan

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*