Cap Go Meh Serba Merah di Kelenteng Thien Le Kong

Perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Thien Le Kong di Jalan Yos Sudarso dikeliling pemandangan serba merah. Warga etnis Tiong Hoa memanjatkan doa dan harapan menyambut tahun baru. (Dian Adi/Disway Kaltim)

Samarinda, DiswayKaltim.com – Perayaan Imlek (Tahun Baru China) tahun 2020 ditutup dengan Cap Go Meh.  Etnis Tiong Hoa di Samarinda memanjatkan syukur dan merayakan dengan suka cita.

Perayaan tersebut berlangsung di rumah ibadah etnis Tionghoa Kelenteng Thien Le Kong di Jalan Yos Sudarso, Samarinda, Sabtu (2/2). Aroma asap dupa mewarnai seluruh tempat.

Sebagian orang membakar lilin. Sebagian lain berdoa kepada leluhur. Memanjatkan syukur. Dari muka bangunan hingga seluruh bangunan dipenuhi warna khas merah dan ornamen naga.

Koordinator perayaan Cap Go Meh Kelenteng Thien Le Kong Efendi Oetomo menjelaskan beberapa hal.

Menurut kepercayaan, leluhur Tiong Hoa di tahun ini imlek mendapat sebutan Sio Tikus Logam. Maknanya adalah tahun yang kuat.

“Ya kita melanjutkan sesuai kepercayaan leluhur kita, dimana tahun dengan sebutan tikus logam berarti sesuatu yang kuat, ini bahasa metologinya, kan penafsiran setiap sio kan berbeda-beda, misalnya orang- orang bisa di hubungkan dengan ke ekonomi, di tahun ini keyakinannya seperti itu,” sebutnya.

Dirinya menyebut, kegiataan Cap Go Meh ini di isi dengan ibadah yang dimulai sejak pukul 07.00 Wita malam dan berakhir pada acara puncak pada pukul 12.00 wita malam.

“Dari setiap tahun tidak berbeda ya menurut saya, ritual kita tetap untuk beribadah sih. Untuk pertunjukan itu selingan kita menyambut kedatangan masyarakat, akhirnya tetap sama itu ibadah bersama,” tambahnya.

Saat ditanya terkait lampion yang digantung di samping kelenteng, ada maknanya juga. Lampion itu simbol jodoh. Sehingga momennya tepat untuk mencari jodoh bagi pemuda Tiong Hoa.

“Kalau lampion itu yah dari kepercayaan kami tidak juga bisa membenarkan, akan tetapi dari cerita zaman dulu ada yang beranggapan seperti itu, kita hanya meneruskan soal kepercayaan itu, tapi lagi-lagi ya kita buat tetap rame saja lah,” ungkapnya.

Ia pun berharap kedepan agar seluruh etnis Tiong Hoa bisa lebih baik dalam berkarir. Baik membangun keluarga, termasuk sesama masyarakat yang memeluk agama berbeda. (ar/boy).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*