Pemerintah Perlu Beri Insentif Fiskal untuk Menarik Investor

Samarinda, DiswayKaltim.com – Pemerintah dinilai perlu memberikan insentif fiskal untuk mendorong investor bersemangat menanamkan modal di Kalimantan Timur. Selain itu, perlu regulasi yang ramah, supaya tercipta efisiensi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Tutuk SH Cahyono mengatakan, dua kebijakan itu diberikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Misalnya pengenaan bebas pajak beberapa tahun, subsidi ongkos produksi tertentu dan lain sebagainya. Perlu juga membuat regulasi agar tercipta efisiensi di ongkos transportasi,” kata Tutuk Cahyono, Minggu (9/2).

Dua kebijakan itu yang menurutnya bisa meningkatkan keinginan pengusaha berinvestasi. “Jadi harus (bisa) membuat investor punya selera untuk investasi. Harus dikasih ‘iming-iming’,” ujarnya.

Jika berkaca pada triwulan IV 2019, pertumbuhan ekonomi Kaltim hanya tumbuh 2, 67 persen (yoy). Menurun dari triwulan III yang mencapai 6,31 persen (yoy). Hal ini disebabkan oleh perlambatan kinerja sektor pertambangan yang secara langsung menurunkan nilai ekspor Kaltim.

“Kami proyeksikan triwulan ke IV itu 2,60 persen tumbuhnya. Ternyata keluarnya 2,67. Yah, beda tipis lah, 0,7 persen,” kata Tutuk.

Namun Tutuk menegaskan, secara keseluruhan ekonomi Kaltim 2019 tetap menguat dengan pertumbuhan sebesar 4,77 persen. Meningkat dari 2018 yang hanya sebesar 2,67 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Kaltim sudah bagus. Stabil terjaga. Walaupun masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Inilah yang harus menjadi perhatian kita semua,” sambung Tutuk.

Dari data BI, pertumbuhan ekonomi Kaltim mengalami fluktuasi. Kadang meningkat dan menurun. Pertumbuhan ekonomi Kaltim, pernah mencapai angka tertinggi dalam 8 tahun terakhir. Yakni, pada 2012 sebesar 5,26 persen. Sementara terendah bahkan minus, pada 2016 dengan angka pertumbuhan -0,38 persen.

Dikatakan Tutuk, ini menjadi tantangan Kaltim ke depan. Bagaimana Kaltim mampu menarik banyak investasi dalam dan luar negeri untuk membangun sektor ekonomi baru yang bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi Kaltim yang stabil, tinggi, inklusif dan berkelanjutan.

“Salah satunya ya dengan hilirisasi  produk-produk unggulan Kaltim dengan nilai tambah tinggi. Sehingga pola perilaku pertumbuhan ekonomi kita lebih stabil. Mudah-mudahan kontraksi yang pernah terjadi 2-3 tahun lalu tidak terjadi lagi,” sebut Tutuk.

Penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Kaltim triwulan ke IV masih didominasi sektor tambang dan ekspor luar negeri. Pada 2019, pangsa terbesar ekspor batu bara Kaltim didominasi oleh Tiongkok sebesar 30, 63 persen, India sebesar 28,17 persen. Disusul Korea Selatan, Jepang, Taiwan dan negara-negara ASEAN.

Begitu juga dengan pangsa ekspor CPO Kaltim yang masih didominasi Tiongkok dan India sebesar 47,74 persen dan 11,37 persen. Diikuti oleh Eropa, Bangladesh, Pakistan, Malaysia dan Filipina.

“Tren harga CPO sedang bagus. Peningkatan harganya terpola, biasanya per 3 tahun. Awal 2014 naik, 2017 naik lagi. Jadi sekarang, trennya masih naik,” terang Tutuk.

Dari sisi Bank Indonesia, Tutuk Cahyono bilang, sudah melakukan berbagai kebijakan yang dapat memudahkan investor. Salah satunya melalui QRIS atau pembayaran elektronifikasi melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking.

BI Kaltim sudah mulai bekerja sama dengan tempat-tempat ibadah dan akan akan terus diperluas ke sekolah, kampus, pasar tradisional, sampai penerimaan dan pengeluaran pemerintah.

Pada triwulan I tahun ini, BI Kaltim memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada rentang 1,5 persen – 2,5 persen (yoy). Lebih rendah dibandingkan prakiraan triwulan IV 2019 sebesar 2,67 persen.  Dari sisi pengeluaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi bersumber dari menurunnya kinerja ekspor akibat tren penurunan harga komoditas.

Ditambah, pembatasan permintaan batu bara dari beberapa negara tujuan utama akibat perbaikan produksi domestik negara tujuan, serta impelementasi restriksi impor yang dilakukan Tiongkok.

Perlambatan juga diperkirakan akan terjadi pada sisi konsumsi masyarakat dan pemerintah sesuai dengan pola siklikalnya. Biasanya pada awal tahun, belum banyak belanja anggaran oleh pemerintah.

Perlambatan ekonomi tertahan oleh pertumbuhan di sisi investasi yang diperkirakan naik seiring dengan berlanjutnya pembangunan beberapa proyek strategis. Penetapan pemenang desain ibu kota negara baru juga salah satu isu yang direspons positif.

Di sisi lapangan usaha, perlambatan bersumber dari lapangan usaha pertambangan yang produksinya tidak akan setinggi periode sebelumnya. Ini akibat curah hujan yang tinggi sehingga kegiatan produksi dan distribusi menjadi terganggu.

Sementara itu, di lapangan usaha industri pengolahan diperkirakan akan melambat seiring dengan penurunan kinerja LNG dan pupuk, meskipun kinerja CPO diperkirakan akan meningkat.

Kabar bagus datang dari sektor lapangan usaha konstruksi yang akan meningkat seiring berlanjutnya proyek-proyek pemerintah, swasta existing maupun inisiasi proyek pembangunan baru.

BI berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas ekonomi Kaltim dengan mendorong peningkatan ekspor, permintaan domestik, pariwisata dan Penanaman Modal Asing (PMA).

Retail Terpukul

Berbeda dengan sektor konstruksi, pasar retail di Balikpapan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Finance Accounting & Legal Director PT Wulandari Bangun Laksana Leonardus Sutarman mengatakan, sektor retail masih merasakan dampak merosotnya ekonomi nasional.

“Turunnya harga minyak dunia pada tahun 2017 memiliki dampak merosotnya perekonomian di Indonesia. Kota Balikpapan sebagai kota minyak sudah pasti ikut merasakan dampak melemahnya perekonomian global ini,” kata dia, Sabtu (8/2).

Leonardus menambahkan, anjloknya harga minyak dunia menimbulkan dampak langsung terhadap menurunnya aliran investasi dalam sektor ekonomi yang juga mengakibatkan menurunnya pendapatan daerah. “Hal ini juga sangat berdampak terhadap iklim investasi retail maupun pembangunan karena menurunnya daya beli masyarakat,” imbuh pengelola pusat perbelanjaan Pentacity ini.

Namun, kata Leonardus, PT Wulandari Bangun Laksana tetap pada komitmen awalnya untuk terus membantu pertumbuhan Kota Balikpapan dengan tetap membangun dan membawa investor dari luar daerah untuk turut berinvestasi di Kota Balikpapan.

Meski begitu, dia optimistis, penetapan ibu kota negara baru di Kalimantan Timur akan berpengaruh terhadap minat investasi. “Terbukti pada awal tahun kunjungan mulai bergeliat sejak diputuskan pemindahan ibukota,” ujarnya.

Sektor Pembiayaan Optimistis

Meski pertumbuhan ekonomi diperkirakan melandai, perbankan di Balikpapan punya keyakinan penyaluran kredit akan meningkat. Salah satunya PT Bank Negara Indonesia/BNI 46 (Persero).  Bank milik pemerintah ini optimistis meraih persentase kenaikan sebanyak dua digit.

Kepala Cabang BNI Balikpapan Bintara mengatakan, tahun lalu perseroan tumbuh 12 persen meski semua sektor bergejolak. “Tahun 2020 harapannya lebih bagus. Kami target pertumbuhan kredit 15 persen,” kata Bintara belum lama ini.

Keyakinan itu tumbuh dari pengerjaan proyek-proyek yang menunjang perpindahan ibu kota negara baru (IKNB). “Pengerjaan proyek itu kan butuh modal,” kata dia. Potensi itulah yang dilirik BNI.

Kemudian Balikpapan sebagai penyangga utama IKN bersolek dari sisi transportasi darat. Pembangunan jalan tol untuk memangkas perjalanan ke setiap daerah disambung.

Belum lagi PT Pertamina (Persero) juga sedang mendirikan pengembangan kilang minyak unit V atau refinery development master plan refinery unit V (RDMP RU V).

Proyek-proyek besar itu, tambah Bintara, punya efek domino bagi penyaluran kredit. Pembelian alat berat, transportasi, perumahan dia pastikan terstimulasi.

“Dari katering sampai penyediaan tenaga kerja. Proyek itu kan butuh tenaga kerja. 2020 saja masuk 20.000 tenaga kerja. Kalau masuk 5.000 saja, pasti ekonomi akan bergerak. Karena mereka perlu makan, papan, sandang,” pungkasnya. (fey/krv/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*