Sudah Ekspor Ratusan Kilo Kelor ke Jepang 

Iswandi, eksportir kelor di lahan miliknya.

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Satu lagi potensi ekspor yang belum banyak digarap, yakni kelor. Tanaman dengan nama latin Moringa oleifera itu kini diminati Jepang.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan Abdul Rahman mengakui potensi ekspor dari tanaman ini.

“Hari ini (kemarin), petugas kami, Pak Hariyadi Cahyono, memeriksa biji kelor yang akan diekspor ke Jepang di Wilker Bandara SAMS Sepinggan,” katanya, Minggu (9/2/2020).

Abdul Rahman bilang, biji kelor yang akan dikirim ke Jepang kali ini sebanyak 20 kilogram. Tanaman itu dinyatakan lolos dari pemeriksaan hama dan penyakit untuk kemudian disertifikasi.

Nilai ekspor tanaman itu memang masih kecil. Sekitar Rp 5 juta. Tapi punya potensi yang sangat besar apabila dikembangkan lebih serius. “Dari catatan kami, sudah lebih 400 kilogram biji dan daun kelor yang dikirim ke Jepang,” imbuh Rahman.

Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan memeriksa biji kelor yang hendak dikirim ke Jepang.

Demi mendukung eskpor berbagai macam produk pertanian, Balai Karantina akan memberi kemudahan pada eksportir. Hal itu sejalan dengan Program Gratieks yang dicanangkan Kementerian Pertanian. Gratieks adalah Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor dengan  perluasan ke berbagai macam produk pertanian.

Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi kepada para petani di Kalimantan Timur terkait komoditi tersebut. Mengingat jumlah lahan tanam untuk kelor masih kecil atau baru 400 pohon. “Pengiriman ekspor kelor dari Balikpapan sudah dilakukan keempat kalinya. Dalam jumlah yang bervariasi, paling besar 100 kilogram,” imbuhnya.

Dalam kesempatan terpisah, eksportir kelor Iswandi mengatakan awal mula ekspor dilakukan karena ketertarikan orang Jepang untuk bahan kesehatan.

“Orang Jepang sering berkunjung ke Balikpapan, kemudian mereka melihat di kilometer 19 ditanami kelor. Dari situlah untuk terus memperluas tanam dan ekspor,” katanya, saat dihubungi.

Iswandi menyebutkan kebutuhan ekspor komoditi kelor sangat besar, namun saat ini kebutuhan itu belum mampu dipenuhi. “Pohon kelor tersebut milik warga dan mencoba bijinya untuk dimakan namun mereka ingin mencari yang lebih banyak, sayangnya di Balikpapan tidak di temukan, akhirnya mereka suruh saya menanamnya,” tukasnya. Saat ini luas tanam baru mencapai 3 hektare dengan pengiriman 3-4 kali.

Masyarakat di Pulau Jawa mengenal daun kelor sebagai salah satu sumber pengobatan tradisional. Kegunaan lainnya, untuk memperlancar ASI. Daun ini juga bisa dikonsumsi langsung dengan cara dimasak sebagai sayur.

Tanaman ini buat sebagian orang dianggap punya daya mistik. Karena ada sebagian masyarakat yang percaya  bahwa tanaman ini bisa mencegah santet atau tolak bala.

Tapi entah anggapan dan cerita di atas mitos atau fakta. Tapi yang pasti dari tanaman ini banyak sekali manfaatnya bagi kesehatan, terutama bijinya. Biji dari kelor ini bisa diolah sehingga menjadi obat herbal yang bisa menjaga kolesterol dan tekanan darah, mengurangi kadar gula dalam darah sampai menjaga kesehatan kulit. Maka tidak heran jika Negeri Sakura tertarik dengan tanaman ini.

Sebagai informasi, Kementerian Pertanian menargetkan nilai ekspor di Kaltim tahun ini sebesar Rp 14 triliun. Angka itu naik dari tahun sebelumnya yang terealiasi sebesar Rp 12 triliun. (fey/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*