Rusdiansyah: Menyebar Cerita, Menjaga Rimba

Profesi resminya pramuwisata. Kliennya dari pelancong biasa, sampai peneliti satwa. Sudah puluhan tahun menjelajah belantara Kalimantan. Semakin mengenal alam, ia semakin sadar: satwa dan habitatnya makin terancam. Rusdi menentang perusakan hutan dengan ceritanya.

Beberapa tahun silam, ia terlibat dalam pembuatan sebuah film dokumenter. Judulnya:  Where my food comes from? Film itu dibuat oleh anak muda dari Inggris. Terinspirasi dari isi kulkas mereka. Pembuat film itu ingin tahu, asal usul udang yang selalu tersedia di lemari pendingin.

“Selama ini, mereka hanya tahu, bahan-bahan itu dari pasar swalayan, atau supermarket. Rupanya ada yang tertarik menelusuri udang,” kata Rusdiansyah, mengawali ceritanya.  Bagaimana udang bisa membawa anak muda negeri Ratu Elizabeth sampai di Kalimantan?

Anak muda itu mau tahu lebih banyak proses udang sampai ke meja makan mereka. Adalah Joe Yaggi, kamerawan, sekaligus direktur rumah produksi Jungle Run yang mengenalkan.

Joe Yaggi, warga negara Amerika yang sudah 20 tahun menetap di Bali, mengontak Rusdi supaya mencari lokasi budidaya udang di Kalimantan. “Saat itulah saya diminta menjadi local fixer, yang membantu proses praproduksi,” imbuh dia.

Sebagai tim praproduksi, Rusdi mencari lokasi budi daya udang sebagai pengambilan gambar. Sampai kemudian ditetapkan  sebuah lokasi di muara Sungai Mahakam. Kepada Rusdi, para kru mengaku kaget. Ternyata udang yang mereka santap melewati proses yang tidak mudah.

Misalnya saja, bagaimana proses pembuatan tambak, profil para pekerja, sampai risiko pekerja karena masih banyak buaya di muara.  “Mereka mengambil sisi dampaknya. Seperti ada dampak lingkungan. Sementara kita tahu, bakau merupakan salah satu pertahanan ekosistem muara. Bakau bisa menetralisir limbah atau racun, sementara daunnya bisa menyerap karbon,” ujar Rusdi lagi. Pada satu sisi, masyarakat diberdayakan dengan keberadaan industri.

Saat film itu tayang dan beredar luas di Inggris, banyak orang mengurangi belanja udang. Terjadilah kerugian buat perusahaan.

Film dokumenter itu bukanlah yang pertama buat Rusdi. Ia juga terlibat dalam tim praproduksi stasiun televisi TBS (Tokyo Broadcasting System), Jepang. Rusdi juga membantu kru sebuah stasiun televisi dari Jerman ketika menyusuri Sungai Mahakam. “Semua film dokumenter itu tentang lingkungan, alam, satwa di Kalimantan,” jelasnya.

Dengan tim Animal Planet, ia menjelajah Hutan Lindung Wehea di Kutai Timur untuk meneliti keberadan Lutung Dada Putih (Presbytis fredericae). Bersama sejumlah ahli primata, Rusdi mendampingi survei lapangan selama seminggu. Tim itu memasang camera trap di sejumlah lokasi untuk memastikan binatang yang dicari ada di wilayah itu. Dari hasil tangkapan kamera itulah, 9 kru Animal Planet datang ke Kalimantan.

Temasuk alam tim, salah satu petualang dan bintang acara itu, Forrest Galante. Ahli biologi satwa liar yang mengkhususkan diri meneliti hewan di ambang kepunahan itu memimpin ekspedisi ini. Perjalanan mereka dimulai dari Berau, berlanjut ke Hutan Lindung Wehea sampai ke Taman Nasional Kutai. “Kami menghabiskan waktu 6 hari di luar schedule,” ungkap Rusdi. Tim ini berhasil mendokumentasikan primata yang sebelumnya dinyatakan extinct (punah).

Ekspedisi itu juga mengungkap kemampuan lain Rusdi selain paham tentang satwa, ekosistem biologi dan obeservasi. “Kemampuan saya memasak, ternyata mereka sukai,” kata pria yang 23 tahun menjadi pramuwisata alam Kalimantan itu. Selama menjelajahi pedalaman itu, Rusdi berperan sebagai guide, sekaligus ‘chef’.

Ia membawa dua kompor kecil, beras, roti, hingga sayuran. Saat bermalam di Wehea misalnya, Rusdi memasak nasi goreng, mie goreng, capcay, sapo tahu sampai spaghetti. “Ternyata itu pengalaman yang menurut mereka sangat luar biasa. Baru pertama kali mereka merasakan sensasi menyantap makanan Indonesia di hutan belantara,” sebut Rusdi.

Sebagai pemandu wisata alam yang ekstrem, Rusdi paham betul kondisi medan yang akan dilaluinya. Makanya dia juga menyiapkan bekal yang tepat. Misalnya memilih kompor gas mini bukan kayu api.  Termasuk memilih jenis sayuran yang bisa bertahan lama, seperti wortel, labu siam, kentang.   “Mereka bilang selama di Indonesia baru dapat makan paling paling enak. Seperti resto bintang lima,” kata Rusdi, senyum.

Saat itulah para kru animal planet menyebutnya “one of the best jungle chef in the world, hahaha..” ucapnya.

Cerita ini kemudian mengantarnya masuk tim master chef internasional, Gordon Ramsey, saat berkunjung ke Sumatera Barat. Ia bersanding dengan master chef Indonesia, William Wongso, menjelajahi Sumatera Barat, awal tahun ini.

Selama lima pekan, Rusdi mengurus keperluan pengambilan gambar, memimpin tim lokal, menjembatani penerjemah, sampai melakukan survei lokasi yang tepat.

Skenario yang disusun adalah Gordon menyajikan rendang olahannya kepada gubernur dan keluarganya. “Bagi orang yang bergerak di pariwisata, saya tentu senang ada orang lain mempromosikan pariwisata Indonesia. Semoga Kaltim bisa seperti itu,” harapnya.

Selama proses pengambilan gambar itu, Rusdi banyak mendapat pelajaran soal pariwisata. Sumbar dinilainya lebih maju di berbagai lini. Salah satu didukung sektor pertanian yang maju. Dengan begitu, harga kuliner menjadi murah.

“Hampir semua hasil pertanian dihasilkan Daerah yang subur di bawah gunung berapi. Di mana mana sawah, hampir setiap rumah punya kolam ikan dan sawah,” imbuh Rusdi. Secara tradisional, tujuannya menjamu keluarga yang datang dari merantau, sehingga tak perlu lagi beli ikan,  ayam, telur, “ada sayur tinggal petik.”

 

Delapan Hari Jalan Lintasi Hutan

Rusdiansyah masih menjadi satu-satunya pemandu wisata pedalaman. Ia berani membuka jalur pedalaman lintas borneo yang tidak hanya melalui hutan. Tetapi juga mengarungi jeram. Dia dikenal sebagai pemandu tur ekstrem, masuk hutan keluar hutan. Sampai saat ini, Rusdi termasuk satu dari sedikit yang memandu wisata cross Borneo dari Kaltim ke Kalbar. Dan sebaliknya.

Wisata jenis ini hanya digemari para wisatawan asing. Karean selain perlu fisik yang kuat, juga mental. Para wisatawan diajak jalans elama delapan hari menyusuri hutan perbatasan Kaltim-Kalbar. Dala sehari, mereka berjalan antara enam sampai delapan jam. Di perjalanan itulah, mereka dapat menjumpai  habitat endemik seperti bekantan, orangutan, monyet, ular, burung dan sebagainya.

Perjalanan ini hanya dilakukan pada bulan Juli, Agustus dan September. Ada 60 anak sungai dilewati, dengan logistik satu orang seberat 30 kilogram. Rute ini dimulai dari Tiong Ohang menuju Muara Hubung.

“Saya ingin memberikan perjalanan menarik yang ramah lingkungan dan terbaik yang ada di Kalimantan. Saya ingin masyarakat daerah mencoba wisata ini supaya punya kepedulian terhadap alam,” kata Rusdi.

Selain Sungai Mahakam, ia juga mengajak wisatawan menyisir Sungai Kapuas, Barito, Kayan. Atau  Danau Jempang, Danau Semayang, Danau Melinatang, dan Danau Sentarum. “Masih banyak lokasi wisata alam, yang bahkan masyarakat di daerah kita sendiri belum tahu,” ujar Rusdi lagi.

Dia ingin mengajak masyarakat menjelajahi  Taman Nasional Gunung Palung, Taman Nasional Sentarum, Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Tanjung Puting, dan lokasi lainnya untuk menumbuhkan kecintaan kepada alam. (yos)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*