Ekspor Masker

Wabah phneumonia yang kabarnya terus meluas, membuat masyarakat kian cemas. Ditambah pemberitaan yang bikin was-was. Akhirnya, masker jadi pelengkap APD (alat perlindung diri) yang laku keras.    

 

SEBUAH video ramai di grup WhatsApp. Menggambarkan Bandara Changi Singapura yang sepi pengunjung. Dalam video berdurasi kurang dari satu menit tersebut, memang tak tampak lalu lalang pengunjung seperti biasanya. Hanya ada beberapa orang yang terekam kamera. Menenteng koper dan lengkap dengan atribut baru yang “wajib” dipakai. Masker.

Seorang pengambil gambar dengan suara perempuan mendeskripsikan begini; “Sepiii…enggak ada orang. Sepi. Ini lho bandara lho. Bisa main bola,” kata suara yang mengiringi gambar itu.

Suara di balik video itu juga bercerita. Petugas imigrasi Singapura mengecek paspor dan visa. Dilihat riwayat penerbangan. Apakah sebelumnya sudah bepergian ke Tiongkok.

Hal yang sama terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Balikpapan. Mal yang tadinya ramai pengunjung, mulai pekan lalu berdasarkan pemantauan tim Disway Kaltim tak seramai biasanya. Bahkan, di antara pengunjung mal tersebut ada yang terlihat mengenakan masker.

Pantas saja, penjualan masker terus meningkat seiring merebaknya epidemi virus corona. Disway Kaltim menghimpun informasi penjualan masker di sejumlah apotek di Balikpapan. Rata-rata mengaku penjualannya meningkat sejak beberapa hari terakhir.

Apotek Kimia Farma di daerah DAM Jalan MT Haryono Balikpapan Selatan, misalnya, menurut pegawai apotek tersebut, permintaan terhadap masker meningkat sejak akhir Januari lalu. “Sejak isu virus corona ini ramai,” kata pegawai itu kepada Disway Kaltim, Kamis (6/2).

Sayangnya, perempuan dengan rambut panjang diikat itu, malu-malu untuk menyebutkan namanya. Kendati Disway Kaltim mendesaknya hingga beberapa kali.

Ia mengatakan, biasanya apotek tempatnya bekerja itu menjual dua sampai tiga box isi 50 masker dalam sehari. Namun dua pekan terakhir, penjualan meningkat hingga rata-rata 10 box masker per hari.

Dari informasi para pembeli, di antaranya ada yang membeli dalam jumlah banyak. Mereka akan mengirim masker tersebut ke Jakarta. “Kebanyakan mereka (pembeli) bilang, mau kirim ke Jakarta. Di Jakarta setoknya sedang kosong,” ujarnya.

Masker yang dijual tersebut adalah masker merek ONEMED, Skrineer dan merek Sensi. “Itu masker biasa, tapi fungsinya juga untuk menangkal virus,” imbuhnya. Perbedaannya, lanjut dia, adalah kualitas bahan. Yang paling banyak dipakai merek Sensi, yang kedua ONEMED.

“Untuk merek Sensi sedang kosong sekarang, karena informasinya pemerintah mengirimkan masker merek tersebut untuk bantuan ke China,” ucap petugas apotek itu.

Yang paling mahal masker jenis N95. Harganya mencapai Rp 1.400.000 per box. Berisi 20 masker. Memang masker jenis ini yang paling efektif menangkal virus.

Dia menambahkan, baru saja ada orang yang mau memesan masker merek ONEMED sebanyak 100 box. “Namun masih negosiasi harga,” katanya.

Informasi yang sama, diperoleh dari Diana, petugas Apotek Borneo di Jalan Ahmad Yani Balikpapan Kota. Dia mengatakan, sejak beberapa hari ini penjualan masker meningkat. “Banyak yang membeli lima sampai sepuluh box (isi 50 masker),” katanya.

Menurutnya, selama sepekan terakhir Apotek Borneo telah menjual dua karton lebih masker atau sekitar 100 box masker merek GIDCARE. “Harga jual per box Rp 40.000,” ujarnya.

Padahal, kata dia, sebelum adanya informasi mengenai virus corona yang beredar, apotek tersebut hanya menjual masker secara eceran. Dalam sehari hanya satu hingga dua box masker yang terjual.

Kini, pembelian kebanyakan dilakukan dalam jumlah besar. “Rata-rata yang beli itu perusahaan dan masyarakat umum yang membeli banyak,” ungkapnya.

Disway Kaltim kemudian mendatangi Apotek K24 Sehat Jaya Mandiri di Jalan Sungai Ampal Kompleks Balikpapan Baru. Informasinya sama. “Biasanya kami menjual 10-20 bungkus isi 5 masker dan 5-10 box isi 50 masker per hari,” ujar Putri Aprilia, staf penjualan apotek tersebut.

Sejak dua minggu lalu, lanjut Putri, sekitar 20 Januari 2020. Penjualan meningkat. Dalam sehari rata-rata terjual 60 box isi 50 masker. Sama juga, pembelinya mengaku mau dikirim ke Jakarta dan luar negeri.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saat sedang ngobrol dengan Putri. Muncul lah seorang ibu yang membeli enam box masker. Stok terakhir di apotek tersebut. “Saudara di Jakarta pesan untuk dikirimi masker. Di sana sudah tidak ada lagi yang menjual,” ujarnya, sambil berlalu.

Menurut Putri, stok masker di Apotek K24 Sehat Jaya Mandiri Balikpapan Baru, saat ini tersisa 150 bungkus. Isi lima masker. “Yang masker dijual per box sudah habis, baru saja habisnya”.

Putri mengakui, jika banyaknya permintaan masker itu berpengaruh pada kenaikan harga. Awalnya harga per bungkus isi 5 masker Rp 7.000. Sejak ramai tentang corona, kata dia, harganya naik menjadi Rp 12.000 per bungkus. Kemudian harga per box isi 50 masker yang semula Rp 35.000 saat ini menjadi Rp 72.600 per box. Kenaikan harga ini mulai tiga haru lalu.

Pembelian masker borongan rupanya hampir merata. Mega, pemilik sekaligus Apoteker Hexa Farma di daerah Ringroad, Jalan Ruhui Rahayu, Kelurahan Gunung Bahagia, Balikpapan Selatan, mengatakan hal serupa.

Dia baru mengetahui kenaikan permintaan masker itu sejak tiga hari terakhir. Setelah 10 box masker yang dia setok habis terjual. “Saya baru tahu kalau ternyata banyak yang cari,” ucap Mega.

Sebelumnya Mega hanya menjual masker secara eceran saja. Rata-rata laku satu box masker per hari. “Terakhir tadi laku dua box, saya jual Rp 35.000 per box,” tukasnya.

Menurut Mega, stok di agen distributor saat ini juga sedang kosong. Di Samarinda, Balikpapan bahkan Surabaya. Nah, apotek yang masih memiliki stok juga mulai menaikkan harga. “Ini saya dengar mulai mahal harganya”.

DI SAMARINDA

Kondisi serupa juga terjadi di Samarinda. Masker N95 habis terjual. Meski harga penjualan meningkat secara signifikan di sejumlah apotek di Samarinda.

“Pembelinya 2 minggu terakhir meningkat. Padahal sebelumnya stok kami disini biasa hanya 5 lembar. Karena jarang ada yang beli. Tapi setelah 2 minggu ini, kami ambil lagi pada distributor untuk penambahan stok,” jelas Admin Apotek Farmacare, Brigitt Aprilia, Jalan Gunung Merbabu Samarinda, Kamis (06/02).

Brigitt pun mengatakan, konsumen yang datang membeli Masker N95 kebanyakan dari kalangan pekerja kantoran. Sebagian lagi konsumen yang ingin bepergian keluar kota maupun keluar negeri.

Tak hanya itu, Brigitt mengaku harga masker tersebut juga mengalami kenaikan drastis. “Sebelun adanya isu Virus Corona harga satu dus dengan isi 20 pcs dari distributor hanya sekitar Rp 240.000, nah itu perlembar kami jual Rp 12.000 saja. Tapi dua minggu terakhir harga perlembar terpaksa kami jual menjadi Rp 30.000 karena dari distributor 1 dusnya naik menjadi Rp 600.000,” bebernya.

Untuk diketahui, Masker N95 dengan kualitas bahan yang tebal, juga dapat digunakan beberapa kali tanpa perlu mengganti pemakaiannya.

Terpisah, Apoteker Kimia Farma Jalan KH Agus Salim, Maria, mengatakan hal sama terkait peningkatan permintaan terhadap masker N95 tersebut. “Kalau saat ini stok kami habis,” sebutnya, Kamis (06/02).

Dari data penjualan yang disampaikan Maria kepada Awak Media, harga per lembar sebelum terjadinya kenaikan, yakni Rp 14.553 per satu lembarnya. “Itu sesuai harga komputer kami ya. Kami belum tahu harga kalau setelah naik. Belum sempat kami dapat dari distributor, sudah kehabisan di sana,” tandasnya.

Tak hanya jenis masker N95 saja, masker biasa dengan berbagai merek pun banyak diminati konsumen. “Belakangan pembelinya tidak cuma per lembar, ada yang beli langsung satu dus,” pungkasnya.

STOK DIAMBIL BNPB

PT Kimia Farma Tbk menyampaikan stok masker N95 di apotek pelat merah tersebut sudah habis. Semua diambil Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB untuk para petugas preventif di lokasi pintu-pintu masuk Indonesia dalam upaya mencegah penyebaran virus corona.

“Kalau mau mencari produk masker N95 di apotek-apotek Kimia Farma sekarang kondisinya sudah tidak ada, karena sesuai keputusan pemerintah yang diwakili oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB. Semua masker N95 milik Kimia Farma akan diambil oleh BNPB,” ujar Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo di Jakarta, Rabu.

Verdi mengatakan bahwa masker-masker tersebut untuk para petugas di 19 kota yang menjadi pintu gerbang masuk ke Indonesia.  Upaya mencegah penyebaran virus corona.

Menurut dia, pemerintah sendiri tidak tinggal diam terhadap permasalahan habisnya stok masker. Pemerintah memikirkan secara keseluruhan yakni alat pelindung diri mulai dari ujung kepala hingga kaki. Jadi perlengkapan ini yang dipersiapkan.

 

“Kemarin BNPB juga mengundang beberapa industri swasta yang bisa membantu terkait hal ini, di mana mereka diminta untuk menyiapkan perlengkapan APD,” kata Verdi.

Penjualan masker meningkat pesat akibat merebaknya wabah virus corona dan penularannya yang dapat melalui antar manusia.

Menurut pedagang di Pasar Pramuka, Jakarta, penjualan masker mengalami peningkatan hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa setelah wabah Virus corona. Sementara untuk masker jenis N95 telah langka di pasaran. (*)

Pewarta: Darul Asmawan, Arman Phami

Editor : Devi Alamsyah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*