Kinerja Ekspor Menurun Bukan Indikator Buruk

Balikpapan, DiswayKaltim.com– Langkah pemerintah menerapkan omnibus law diyakini akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi.

Gubernur Kaltim Isran Noor menyebut  ekonomi daerah akan terus bertumbuh menyusul rampungnya kebijakan tersebut. Hadirnya omnibus law memang diharapkan menjadi solusi persoalan regulasi yang berbelit dan tumpeng tindih.

Menurut Isran, kebijakan itu bakal mempermudah investor. “Nggak usah khawatir dengan pertumbuhan ekonomi. Kaltim tidak akan melambat, justru akan terus naik,” kata Isran Noor, usai menghadiri HUT Kota Balikpapan ke -123 di Lapangan Merdeka, Senin (10/2).

Pada triwulan I tahun ini, Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada rentang 1,5 persen – 2,5 persen (yoy).

Sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Pada triwulan IV/2019 pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar 2,67 persen. Perlambatan ekonomi bersumber dari penurunan kinerja ekspor akibat tren harga komoditas, khususnya batu bara.

Tapi Gubernur tidak melihat hal itu sebagai indikator buruk. “Karena untuk melihat pertumbuhan ekonomi itu tentu dari konsumsinya, investasi dan nilai ekspor. Kita lihat rencana investasi. Karena yang membentuk pertumbuhan itu konsumsi, investasi, dan nilai ekspor,” sebutnya.

Disinggung kebijakan kemudahan investor, Isran Noor mengatakan kebijakan omnibus law yang disusun pusat memberikan kemudahan investor. Apalagi kebijakan itu akan berlaku nasional. “Itu kan salah satu upaya mempermudah investasi ke Indonesia, termasuk ke Kaltim. Sudah satu paket,” ujarnya.

Sementara Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bank Indonesia Kalimantan Timur Tutuk SH Cahyono menilai perlu memberikan insentif fiskal untuk mendorong investor bersemangat menanamkan modal di Kalimantan Timur. Selain itu, perlu regulasi yang ramah, supaya tercipta efisiensi.

“Misalnya pengenaan bebas pajak beberapa tahun, subsidi ongkos produksi tertentu dan lain sebagainya. Perlu juga membuat regulasi agar tercipta efisiensi di ongkos transportasi,” katanya.

Dua kebijakan itu yang menurutnya bisa meningkatkan appetite pengusaha berinvestasi.  “Jadi harus (bisa) membuat investor punya selera untuk investasi,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Balikpapan Yaser Arafat juga memproyeksikan perekonomian Kaltim akan melambat pada triwulan I/2020. “Agak sedikit melambat karena dipengaruhi sentimen virus corona, sehingga akan mengganggu jalur distribusi barang dan kemungkinan juga akan menekan angka inflasi,” ungkapnya.

Apalagi tulang punggung pada ekspor batu bara dan kelapa sawit. Menurutnya, itu akan berpengaruh pada APBD Kaltim pada triwulan I tahun ini.

“Khususnya yang supporting untuk batu bara, eskpor Kaltim tulang pungggungnya sawit dan batu bara. Tiongkok paling besar ekspor. Maka imbasnya ke APBD Kaltim akan berpengaruh. Tetapi peluang juga bagi Indonesia, bisa membuka, menambal market lain. Infrastuktur perlu meningkatkan secara volume dari kebutuhan pasar kalau memang tak bisa suplai,” beber Yaser Arafat.

Dia meyakini ekonomi akan bergerak tumbuh pada triwulan kedua dan ketiga tahun ini. “Itu terkait Kaltim IKN, namun regulasinya masih disusun dan kegiatan juga belum mulai. Mungkin akan bergerak pada triwulan kedua. Untuk Kota Balikpapan spending government belum turun, seperti tender baru bulan Maret,” ucapnya. Sehingga akan terjadi perlambatan pada periode triwulan I tahun 2020.

Disinggung mengenai kemudahan bagi investor, Yaser mengatakan semangat Kaltim terhadap investor yang masuk sangat bagus. Namun ia belum menilai karena belum melihat secara konkret.

“Saat ini saya belum melihat konkret, tapi kalau lihat semangatnya Kaltim sangat welcome terhadap investor. Misal perizinan mudah, insentifnya apa ? Nah, ini kita belum tahu. Pengusaha sifatnya menunggu. Semangat boleh tetapi kita perlu konkretnya,” pungkasnya. (fey/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*