Sentra Industri Kapal Kayu Ditarget Selesai 2022

Geliat kehidupan di Sungai Mahakam menjadi jaminan keberlangsungan industri kapal kayu di Kota Tepian. Selain menjadi alternatif transportasi sehari-hari, kapal kayu juga masih menjadi andalan jika bepergian ke hulu Sungai Mahakam. (Adian/Disway Kaltim)

Samarinda, DiswayKaltim.com – Rencana Pemkot Samarinda membangun sentra industri kapal kayu di Kota Tepian perlahan mulai diwujudkan.

Bahkan saat ini, dua lokasi yang menjadi opsi sudah memasuki proses kajian. Hal itu disampaikan Konsultan Studi Kelayakan Industri Kapal Kayu, Tri Priyono.

“Kami sedang mengkaji masalah tempat dan mekanisme pengerjaannya,” ungkap Tri, Senin (10/2/2020).

Setelah kajian tersebut selesai, kata Tri, masuk tahap Detail Engineering Design (DED) dan master plan. Sejauh ini, Dinas Perindustrian Samarinda menyiapkan dua lokasi yang diproyeksikan menjadi sentra industri kapal kayu.

Pertama, di bawah Jembatan Mahkota II. Tepatnya di Kelurahan Palaran yang merupakan lahan milik Pemkot Samarinda. Pilihan kedua lahan milik Pemprov Kaltim di Sungai Lais Kelurahan Sungai Kapih, Samarinda. Dari dua opsi tersebut, pilihan Tri lebih mengerucut ke Sungai Lais.

“Kalau dari kajian lebih ke Sungai Lais. Karena lebih luas dan tidak mengganggu badan jembatan,” kata dia.

Selain itu, lahan di Sungai Lais juga memenuhi standar pembangunan industri. Diatur dalam Perpres Nomor 2 Tahun 2018, ketentuan luas lahan pembangunan sentra industri minimal 5 hektare dengan  10 Industri Kecil dan Menengah, khususnya di wilayah Kalimantan. Sementara opsi pertama di Palaran, lahan yang tersedia hanya sekitar 2 sampai 3 hektare.

Tri pun menyebut, mengapa sentra industri kapal kayu perlu dibangun. Karena industri yang ada saat ini berada di areal permukiman penduduk. “Seharusnya tidak boleh itu, permukiman  dijadikan areal industri. Makanya pemkot inisiatif disentrakan,” sambungnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Kota Samarinda Muhammad Faisal menyampaikan skema detail wacana pembangunan sentra industri buatan kapal kayu. Saat ini, Disperin sedang fokus dalam tahapan perencanaan bersama konsultan untuk menyelesaikan kajian. Mulai dari toprogafi tanah, geografis, kedalaman, dan pasang surut sungai.  Kajian ini ditarget selesai pada Maret mendatang.

Setelah itu, kajian tersebut diusulkan untuk mendapat pendanaan pemerintah pusat melalui dana alokasi khusus (DAK) dan bantuan keuangan (bankeu) dari provinsi.

“Kami target untuk mengejar DAK akhir Maret nanti ke Bappenas. Makanya yang penting masuk dulu berkasnya,” ungkapnya, Senin (11/2).

Sambil menunggu kepastian dana, Disperin akan melakukan pelatihan, pembinaan, legalisasi, standardisasi, dan pengolahan limbah kapal kepada pengusaha dan perajin kapal kayu di Kota Tepian.

Faisal menyebut pada Juni direncanakan sudah ada bantuan dana dari provinsi. Serta kepastian lahan yang akan digunakan. Baru kemudian DED dan master plan bisa dirancang. “Tahap awal mungkin pemagaran, perataan tanah, baru bikin DED-nya,” sebut Faisal.

Sementara dalam master plan, Disperin akan memetakan proyeksi lokasi pemasaran yang potensial. Pada 2021, Disperin menarget sudah dimulai pembangunan fisik dan bisa selesai pada 2020 mendatang.

Faisal mengatakan, dalam sentra industri kapal kayu yang sudah terbentuk nantinya, selain tempat seluruh kebutuhan peralatan produksi akan disediakan bagi para perajin. Seluruh IKM yang ada di sentra industri juga diarahkan untuk memiliki legalitas izin usaha.

“Makanya dari sekarang, akan kita lakukan pendampingan untuk mendaftar OSS (Online Single Submission, Red) pendaftaran izin usaha secara online,” pungkasnya.

Sebelumnya, pengusaha dan perajin kapal kayu menyangsikan pembangunan sentra industri ini benar-benar bisa terealisasi. Salah satunya, Arjudin, perajin kapal kayu dari Kelurahan Selili.

Ia menyebut, wacana ini sudah bergulir sejak dulu. Pemerintah berencana membangun sentra industri kapal kayu di Sungai Kapih. Tapi pemindahan itu tidak serta merta bisa diterima.

Saat ini yang lebih diperlukan para perajin, sebut Arjudin, adalah ketersedian alat dan mesin. Arjudin juga mengeluhkan masalah mahalnya bahan baku terutama kayu ulin.

Sementara Juhri warga Sungai Kerbau, yang juga perajin kapal kayu, mengaku mendukung program pembangunan sentra industri. Dengan catatan program ini dilakukan secara berkelanjutan dan bantuan diberikan secara merata.

“Semoga dengan dibangunnya sentra industri ini, masalah pemasaran, dan ketersediaan bahan baku bisa dipenuhi,” harapnya, saat diskusi bersama Disperin Samarinda, Senin (10/2). Ia pun berharap para OPD terkait bisa berkolaborasi dan bekerja sama mewujudkan pembangunan sentra industri kapal kayu di Samarinda. (krv/eny)

Baca Juga:

Perajin Lebih Butuh Alat dan Bahan Baku

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*