Keluarga Beberkan Ahmad Sukur Sering Dipukuli Dalam Lapas Samarinda

Sebelum meninggal dunia, AS sempat mengirimkan foto-foto dengan lebam di beberapa bagian tubuh. Sempat pula mengaku kalau jadi bulan-bulanan warga dan petugas Lapas. Itu yang membuat keluarga AS masih penasaran.

=======================

 

Kukar, DiswayKaltim.com – Dugaan penganiayaan terhadap Ahmad Sukur (38), warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkoba Kelas II A Samarinda terus bergulir. Pihak keluarga merasa ada kejanggalan pada kematian Sukur. Dan bersepakat melakukan autopsi di RSUD AW Sjahranie Samarinda pada Rabu (12/2) pagi.

Kejanggalan ini terungkap saat pihak keluarga hendak memandikan jenazah Sukur, Selasa (12/2) kemarin. Ditemukan luka lebam dibeberapa bagian tubuhnya, seperti pinggang, pantat, hingga paha. Bukti itu tidak sama dengan keterangan yang diterima pihak keluarga dari pihak rumah sakit. Yang mana dikatakan jika Sukur meninggal karena sakit.

“Secara lisan dokter mengatakan tidak ada penganiayaan. Namun secara pribadi saya merasa ada yang ganjal,” kata Sugianto, kakak kandung Ahmad Sukur saat ditemui Disway Kaltim di rumah duka di Tenggarong, Rabu sore.

Sebelum meninggal. Sugianto mengungkapkan kalau Sukur sempat mengirimkan sejumlah foto luka memar ditubuhnya melalui handphone sekitar bulan Desember 2019 lalu. “Sekitar bulan 12 ada kirim foto jika telah dianiaya,” bebernya.

Ketika ditanya siapa yang menganiaya? Sugianto menerangkan kalau Sukur pernah bercerita ke istrinya jika Sukur sering menjadi “bulan-bulanan” di dalam Lapas rutin tiap seminggu sekali. Penganiayaan itu dilakukan oleh oknum petugas dan warga binaan lain. Itu semua terungkap saat istri Sukur sedang berkumpul bersama keluarga besarnya di rumah duka.

“Jadi istri adik saya (Sukur, Red.) cerita ke keluarga. Ia bilang kalau suaminya sering dipukuli di dalam Lapas,” ungkap Sugianto.

Dugaan penganiayaan ini mulai terjadi sejak Sukur dipindah dari Lapas Kelas II Tenggarong ke Lapas Samarinda satu tahun terakhir. Karena selama tiga tahun mendekam di Lapas Tenggarong, Sukur sama sekali tidak pernah mengeluh apapun. “Indikasi terjadi penganiayaan ini saat di Samarinda,” cetusnya.

Pelaporan kasus yang menimpa Sukur ini sudah dilaporkan secara resmi ke Polresta Samarinda. Namun guna mencari keadilan yang seadil-adilnya. Pihak keluarga juga berencana akan melakukan pelaporan lagi ke Polda Kaltim di Balikpapan. Sementara untuk ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Sugianto mengatakan akan merundingkan lebih dahulu bersama keluarga besar.

“Kami masih tidak puas dengan keterangan yang disampaikan dokter forensic. Kami akan lanjutkan dengan proses hukum yang ada,” tandasnya.

Sementara hasil pemeriksaan (Otopsi) sementara Dokter Forensik RSUD AW Sjahranie terkait jenazah Sukur disebut tidak ditemukan adanya indikasi kekerasan. Dokter  Kristina Uli Gultom menyebut, meninggalnya Sukur murni diduga karena beberapa penyakit yang dideritanya.

“Dibagian kaki, perut dan dada pas dibuka banyak cairan. Kalau tanda-tanda kekerasan tidak ada. Hasil sementara ada seperti kelainan di bagian paru dan ginjal. Tapi nanti kita uji lab juga pastinya,” tuturnya, Rabu sore sekitar pukul 16.20 Wita usai autopsi.

Ia juga menerangkan kalau penyebab lebam itu merupakan tanda-tanda menjelang kematian seseorang. Tanda-tanda tersebut dikatakannya timbul dalam waktu 30 menit setelah meninggal.

“Itu pasti mengikuti gravitasi. Dimana posisi bawah tubuh korban saat berbaring atau menjadi tumpuan sehingga komponen darah mengumpul disitu. Warnanya diawal merah keunguan tapi bisa berubah menjadi lebam kehitaman akibat mulai terjadi pembusukkan pada tubuh,” jelas Kristina.

Namun terkait kepastian penyakit yang sedang diderita Sukur. Kristin tidak dapat memberikan keterangan bukti saat ini. Karena masih menunggu hasil rekam medik dalam beberapa waktu kedepan. “Kalau untuk murni sakit, nanti kita lihat lagi, masih tunggu hasil dari kecocokan rekam medisnya dan hasil lab-nya,” tambahnya, lagi.

Untuk diketahui otopsi mulai dilakukan sejak pukul 11.00 Wita dan selesai pukul 14.00 Wita. Lebih jauh terkait hasil autopsi, dr Kristina mengatakan sudah mengambil sampel dari organ tubuh Sukur, yakni paru-paru dan ginjal untuk diperiksa lebih lanjut oleh tim Ahli Forensik Jenazah RSUD AW Syahranie.

“Bagian paru dan ginjal sudah kami ambil untuk sampel, karena disitu kita melihat ada kelainan dan ada benjolan. Dan itu sepertinya sudah infeksi. Kan sebelumnya korban sempat ada keluhan demam tinggi,” katanya.

Terkait hasil uji lab baru akan keluar dalam jangka waktu 2 minggu pasca otopsi. “Hasil lab kita tunggu 2 minggu lagi yah,” sebut Kristina.

Sementara itu, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arief Budiman membenarkan telah mengumpulkan sejumlah barang bukti serta pemeriksaan beberapa saksi dalam hal ini warga binaan dan petugas Lapas.

“Bukan diamankan, tetapi dimintai keterangannya,” terangnya kepada awak media.

Ia juga menerangkan telah mengamankan sejumlah barang bukti terkait dengan kasus Sukur. Salah satunya rekaman kamera CCTV dari kantor Lapas Kelas II A Samarinda. “Semua (rekaman) CCTV kita amankan. Cuma CCTV hanya sampai diblok saja,” kata Arif.

Bahkan pemeriksaan juga dilakukan pihak kepolisian terhadap petugas klinik (Perawat) Lapas yang sempat memberikan keterangan kalau Sukur memang sakit. “Saksi yang dimintai keterangan ada sepuluh orang, Kasus ini masih proses pendalaman dan penyelidikan kami,” tutur Kapolresta.

Untuk diketahui, Ahmad Sukur merupakan warga binaan Lapas Kelas II A Samarinda dalam kasus narkotika jenis sabu-sabu. Sukur ditangkap oleh kepolisian pada 2016 silam.

Sebelum terjun ke “dunia hitam” narkotika. Anak ke 8 dari 9 bersaudara ini merupakan penjual ikan di Pasar Tangga Arung, Tenggarong. Setelah kepergiannya, kini Sukur harus meninggalkan seorang istri dan kelima orang anaknya. (mrf/ar)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*