Oey Yong Tat

Oleh: Fery Setiawan, Tanjung Redeb

NAMA ini asing bagi sebagian besar masyarakat Kaltim. Namun, tidak bagi masyarakat Tionghoa di Berau. Dia merupakan seorang muslim.

Itu adalah nama China dari Wakil Bupati Berau Agus Tantomo. Pemberian orangtua, dari pria kelahiran Berau 26 Agustus 1968 ini. Dulunya, menganut agama Katolik.

Agus Tantomo mempelajari agama Islam sejak usia dua puluh tahun. Butuh proses panjang sebelum akhirnya mengucap dua kalimat syahadat. Di mana bermula ketika dirinya berada di Kota Makassar, untuk menempuh pendidikan. Dia banyak bertanya soal keyakinan kepada pemuka agama di sana, namun memang ketika itu belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Tak berhenti di situ, Agus berusaha terus mencari jawaban demi jawaban tentang Islam. Ketika mengunjungi salah satu toko buku, tak sengaja melihat buku tentang Islam. Karena rasa penasaran yang tinggi, buku tersebut Dia dibeli dan dibaca.

Ketertarikan tentang Islam semakin dalam sejak membaca dan mempelajari buku-buku yang dibelinya. Perlahan, jawaban demi jawaban didapatkan. Memantapkan hati menjadi seorang mualaf di tahun 1999. Di mana saat itu, Agus genap berusia 30 tahun.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim yang pada saat itu dijabat Hamri Has, menjadi tokoh yang mengislamkan dirinya. “Waktu itu saya masih menjadi anggota DPRD Kaltim,” lanjut Agus.

Saat memutuskan untuk berpindah keyakinan, awalnya ditentang dari pihak keluarga. Bahkan, kerap mendapat banyak pertanyaan dari keluarga besarnya, terkait keluarnya Agus dari keyakinan sebelumnya. “Memang awalnya banyak pertanyaan muncul, tapi dengan berjalannya waktu semua menjadi biasa saja dan tetap harmonis,” ujarnya, Senin (10/2).

Agus mengaku, tidak memiliki alasan pasti jika ditanya mengapa dirinya memilih untuk menganut Islam. Menurutnya, hal tersebut terjadi akibat lingkungan pertemanan yang mayoritas menganut Islam.

“Jika ada yang bertanya mengapa saya masuk Islam, saya tidak punya jawaban pasti terkait hal itu. Tapi satu penegasan saya, karena itu memang pilihan saya,” tegasnya.

Saat pertama kali menjalani ibadah sebagai seorang muslim, diakuinya sempat kesulitan. Karena tekad yang bulat, dan mau memperdalam ilmu agama Islam, membuat dirinya semakin terbiasa.

Bahkan, ibadah puasa tidak membuat dirinya kaget. Sebab saat memeluk agama Katolik, berpuasa juga sudah diajarkan. Tidak kesulitan, karena di Katolik juga ada puasa. “Awal masuk Islam saya bisa puasa Senin-Kamis dan hampir dua tahun nyobain puasa Daud. Tapi karena alasan kesehatan, maag berat, membuat saya harus menghentikannya,” tuturnya.

Walau hingga saat ini keluarganya masih memiliki keyakinan berbeda, namun mereka tetap rukun. Apalagi masuk Islam bukanlah hal baru dalam silsilah keluarganya. Sebelumnya, sang nenek, ketika hendak meninggal dunia, terlebih dulu meminta untuk diislamkan.

“Kalau keluarga saya sampai sekarang masih ada yang Katolik, Protestan, Buddha. Kami tetap rukun walau berbeda,” sebutnya.

Suami dari Fika Yuliana ini, merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Kakak tertuanya bernama, Oey Yong Liang atau yang sering dipanggil Aliang. Kakak keduanya Oey Yong Mei, ketiga Oey Yong Sun, kakak keempat Oey Eng Asiang, yang kelima Olivia Salim, yang keenam Oey Yong Wie, dan yang kedelapan Oey Yong Fu.

Hidup dan besar di keluarga non-muslim tetap membuat dirinya hidup rukun dan saling menghargai kepercayaan yang dianut. Dan saat Idulfitri tiba, seluruh keluarga turut mengucapkan selamat, begitu pula sebaliknya. “Kami bisa tetap hidup harmonis dengan keberagaman yang ada di keluarga kami,” ungkapnya.

Agus Tantomo, punya empat orang putra dan satu orang putri. Anak pertamanya bernama Dilan Eka Dewantara Tantomo Putra, putra keduanya Raditya Mahawira Tantomo Putra, anak ketiganya merupakan satu-satunya wanita, yakni Ratna Rasini Tantomo Putri, kemudian Muhammad Rafan Tantomo Putra (Oey Chen Long) dan yang terakhir Muhammad Emir Rasya Tantomo Putra (Oey Xiao Long).

“Saya tidak ingat nama China anak-anak saya. Nama tersebut pemberian dari ibu saya,” ujarnya.

Dirinya juga mengajarkan pemahaman tentang budaya Tionghoa kepada anak-anaknya. “Hanya sekadar pemahaman tentang budaya saja. Kalau untuk agama anak-anak saya semuanya muslim,” tuturnya.

Terlahir sebagai pemuda Tionghoa adalah suatu takdir yang diberikan Allah untuk dirinya. Menjadi seorang muslim Tionghoa, dirinya juga terus melestarikan kebudayaan dari leluhurnya.

Menurutnya, Imlek bukanlah suatu perayaan keagamaan, melainkan kebudayaan dari orang Tionghoa. Imlek adalah perhitungan tahun pada kalender China. “Imlek itu ibaratnya kita masuk pada 1 Januari,” ucapnya.

Dalam perayaan Imlek, diakuinya ada ritual-ritual keagamaan bagi yang menganut kepercayaan Konghucu. Namun, dirinya tidak terlibat dalam persoalan tersebut. “Saya tidak melakukan ritual, itu kembali pada kepercayaan masing-masing,” tegasnya.

Dalam rangkaian Imlek, dibagi menjadi tiga, yakni tradisi Fangshen, Imlek dan Cap Go Meh. Fangshen merupakan tradisi menyambut tahun baru China dengan ditandai pelepasan ikan atau dipercaya sebagai wujud pengorbanan.

“Jadi seperti masyarakat Tionghoa itu memperlakukan binatang (ikan) bukan hanya untuk dibunuh lalu dikonsumsi. Tapi juga mencoba untuk melestarikan ikan tersebut di alam,” katanya.

Lanjutnya, Imlek diselenggarakan selama dua minggu. Dan diakhiri dengan perayaan Cap Go Meh.

Cap Go Meh sangat identik dengan barongsai, lampion dan kue keranjang. Dikatakannya, hal tersebut merupakan pernak pernik dari rangkaian tahun baru China.

Pada momentum tertentu, dirinya memiliki kenangan pada perayaan Cap Go Meh. Menurut Agus, perayaan Cap Go Meh bisa saja menjadi salah satu daya tarik wisata jika dikemas dengan baik. Seperti yang dilakukan 3 tahun lalu, dengan menerbangkan 1.000 lampion.

“Untuk ke depan saya pribadi berharap itu bisa menjadi tradisi yang bisa meningkatkan minat kunjungan wisatawan ke Bumi Batiwakkal,” harapnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*