Menjaga Tradisi Hadrami

Seni budaya gambus atau samrah masih dilestarikan keluarga besar Al-Hasani Samarinda Seberang. (Al-Hasani for Disway Kaltim)

===

Al-Hasani Samarinda Seberang adalah salah satu keluarga Arab yang bersinar. Meski telah berbaur dengan kebudayaan Samarinda, mereka masih mempertahankan tradisi Arab yang kental.

MELODI khas padang pasir menyemarakkan arena samrah di Kompleks Al-Hasani Samarinda Seberang. Satu persatu pemuda keturunan Arab bangkit dari duduknya. Mereka menari berputar-putar dan bertepuk tangan mengikuti irama gitar oud atau gambus yang dimainkan. Gambus merupakan musik pemersatu para peranakan Arab di manapun mereka berada.

Salah satu tokoh pemuda Al-Hasani Samarinda Seberang, Sayyid Fahrurrazi Al-Hasani menuturkan, sebagian besar keluarganya masih mempertahankan tradisi Hadrami (sebutan untuk keturunan Hadramaut, Yaman). Meskipun beberapa dari mereka sudah berbaur dan menyesuaikan dengan adat setempat.

Tradisi yang masih mereka lakukan sampai saat ini adalah majlas. Yakni nongkrong dengan sesama Hadrami. Para keturunan Arab memang suka kumpul-kumpul untuk berbagi cerita dan bercanda. Suasana majlas selalu meriah. Tak sedikit dari keturunan Hadrami, terutama yang muda, berbicara dan tertawa dengan intonasi nyaring. Sehingga bagi orang awam, terkesan seperti sedang ada kericuhan. Padahal bercerita dengan seru sudah menjadi kebiasaan bagi mereka.

Jika bermajlas dengan jamaah Hadrami dari luar kota yang masih kental Arab-nya, sesekali mereka menggunakan potongan kata bahasa Arab yang tak formal. Misalnya fudhul, yang artinya kepo atau ingin tahu urusan orang. Regud, yang artinya tidur. Softoh, yang artinya bercanda, dan seterusnya.

“Biasanya kalau sesama keluarga di Samarinda kami lebih sering berbahasa Banjar,” sebut anak sulung Sayyid Fathul Halim Al-Hasani, pejabat Pemprov Kaltim itu.

Setiap majlas, biasanya jamaah Hadrami mengisap shisha. Tidak wajib, tergantung selera. Suasana terasa lengkap jika sambil mendengarkan musik khas Arab. “Sebagian ada juga yang sengaja menghindari shisha,” ujar Fahrurrazi.

Tak hanya majlas. Keluarga Arab suka menggelar acara gambus atau samrah. Jika musik khas Hadramaut ini sudah digeber, para jamaah satu persatu berdiri ke tengah untuk menari zafin, sarah, atau zahefe, sesuai dengan jenis lagu yang dimainkan.

Musik gambus di Indonesia dipopulerkan oleh Syech Albar, ayah kandung penyanyi rock Ahmad Albar yang juga keturunan Hadrami. Jamaah yang suka gambus pasti sangat akrab dengan lagu Gamaresyeh yang dilantunkan penyanyi asal Yaman, Abu Bakar Salim, dan lagu Ya Rait yang didendangkan penyanyi asal Lebanon, Ragheb Alama. Untuk para harim (perempuan Hadrami), biasanya menyukai lagu Ya Tabtab atau Aah Wi Noss yang disenandungkan penyanyi Lebanon, Nancy Ajram.

Setiap menikmati gambus, gahwa selalu disodorkan sebagai minuman utama. Kopi jahe khas Arab ini sangat pas disajikan di acara yang biasanya digelar pada malam hari itu. “Gahwa dan gambus itu satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan,” paparnya.

BACA JUGA:

Asimilasi Bangsa Arab di Kaltim 

Di bidang agama, mereka tak meninggalkan haul. Ajaran turun temurun ini merupakan peringatan wafatnya keluarga yang dihormati. Kegiatan ini diisi dengan berbagai macam bacaan selawat dan doa. Dalam berbagai kesempatan, biasanya mereka suka membakar bukhur atau dupa sebagai wewangian rumah. Terutama saat acara gambus, haul, maulid, dan lainnya.

Setiap selepas salat Jumat, keluarga Fahrurrazi makan bersama anggota keluarga terdekat. Menu makanannya khas Arab. Biasanya nasi kebuli atau krengsengan kambing. Resep ini sama persis seperti di Kampung Arab Ampel, Surabaya. “Kami sekeluarga suka berkunjung ke sana,” sebutnya.

Di keluarganya, sop marak paling difavoritkan. Yakni daging kambing penuh lemak yang dimasak dengan banyak taburan merica. Resep ini selalu dicatat dan dirahasiakan. Kemudian diwariskan ke keturunan berikutnya ketika mengadakan acara-acara tertentu.

Di waktu santai, banyak kudapan khas Arab yang bisa dinikmati. Semisal roti Maryam. Roti berbentuk pipih itu dinikmati dengan susu atau keju. Namun di acara formal, cemilan yang sering disebut martabak surban itu selalu dipasangkan dengan kare kambing.

Ada juga kue kaak yang cita rasanya rempah-rempah. Bahannya dari cengkeh, habatussauda, dan lainnya. Kue kering ini cocok disajikan dengan syahi adeni. Yakni teh yang diramu dengan daun mint, kapulaga, cengkeh, jahe, dan susu.

Ada juga asidah. Kue basah berwarna merah ini dibuat dari tepung terigu, gula merah, kapulaga, kayu manis, margarin, dan bahan lainnya. “Ibu-ibu Arab kalau masak pasti jago. Di mana-mana selalu enak,” sebut Fahrurrazi.

Keluarga Arab punya sifat suka bercanda dan riuh. “Misalnya kalau kami jalan pakai mobil kapasitas enam orang, selalu dimuat-muatkan jadi 10 orang,” selorohnya.

Menurut Fahrurrazi, keluarga besarnya sudah mengalami pencampuran tradisi. Semisal saat pernikahan menggelar mapacci bagi yang keturunan Bugis. Namun tradisi Arab seperti henna night tetap digelar.

Dalam acara khusus harim ini, pengantin perempuan dan orang terdekatnya dirias menggunakan henna. Acara sebelum akad nikah ini dimeriahkan dengan musik gambus. Di hari pernikahan, arak-arakan pengantin lelaki menuju rumah mempelai wanita selalu sangat meriah. Diramaikan dengan selawat dan rebana. Bahkan adapula yang memakai drum band.

Keluarga Al-Hasani Samarinda Seberang sering kedatangan tamu dari luar daerah. Musisi gambus maupun pembaca selawat yang pernah datang Said Hasim Al-Amrie, Debu, Mustafa Abdullah, Nizar Ali, Abdullah Ta’lab, Fahad Munif, Mohammad Alanesi, Mansur Al-Katiri, Anis Syahab, dan lainnya.

“Said Hasim itu sewaktu kecil tinggal di Kompleks Al-Hasani. Bermain sepak bola sampai cari nafkah di Samarinda. Sekarang Alhamdulillah karier musiknya sudah sukses,” ucapnya.

Tak hanya musisi gambus, ulama ternama pun tak segan hadir ke Kompleks Al-Hasani. Mereka adalah Assayyid Al-Allamah Habib Murtadho Al-Mahathwari Al-Hasani Sona’a, Sayyid Muhammad Amin Al-Idrisi Al-Hasani Maroko, Habib Aiman Al-Habsyi Hadhramaut, Habib Rizieq Shihab, Habib Salim Sahab Al-Hasani Pontianak,  Habib Novel Balghaits Balikpapan, Habib Machmud Balghaits Balikpapan, Ustadz Das’ad Latif Makassar, Guru Zhofarudin Samarinda, Habib Hasyim BSA Samarinda, dan lainnya.

Meski keturunan Arab, tak semua keluarga Al-Hasani Samarinda Seberang menjadi ulama. Sebagian menjadi pengusaha sumber daya alam, bekerja di perusahaan, dan berkarier di pemerintahan. (hdd)

1 Trackback / Pingback

  1. Asimilasi Bangsa Arab di Kaltim

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*