Tradisi Istana yang Hampir Sirna

Perayaan Cap Go Meh menutup tahun baru Imlek. Warga Tionghoa menjalaninya sebagai tradisi turun-temurun. Dilakukan dengan beribadah dan bersyukur. Tapi bagi muda-mudi, bisa juga menjadi “ajang” mencari jodoh. 

 

WARGA Tionghoa Balikpapan, Sabtu (8/2) pagi mulai ramai mendatangi Kelenteng Guang De Miao di kawasan Pasar Baru. Mereka melaksanakan sembahyang Cap Go Meh. Dirayakan pada hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek.

Ada perbedaan tradisi ketika perayaan Imlek dan saat Cap Go Meh. Menurut Pengurus Guang De Miao Hendra Ariwijaya, saat Imlek dirayakan dengan sembahyang ke kelenteng. Memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan. Kemudian dilanjutkan dengan berkumpul dan makan bersama keluarga.

Sedangkan saat Cap Go Meh, orang-orang membawa persembahan berupa kue keranjang dan melakukan sembahyang untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan. Kemudian ada acara makan kue keranjang yang bisa dimakan langsung atau digoreng dulu. Makanan itu dibagi-bagikan secara gratis untuk warga sekitar.

“Cap Go Meh dulu dilakukan secara tertutup untuk kalangan istana,” kata Hendra.

Festival biasanya dilakukan pada malam hari. Menyediakan banyak lampion dan aneka lampu warna-warni. Lampion adalah pertanda kesejahteraan hidup bagi seluruh anggota keluarga. Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir, barulah Cap Go Meh dikenal oleh masyarakat.

Biasanya ketika perayaan Cap Go Meh diramaikan tarian Barongsai dan Liong (naga). Masyarakat juga biasa makan onde-onde. Sepanjang perayaan, juga dimeriahkan dengan kembang api dan petasan.

Barongsai adalah simbol kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan. Sedangkan Liong dianggap sebagai simbol kekuasaan atau kekuatan. Sementara petasan dipercaya dapat mengusir energi negatif dan akan membersihkan seluruh lokasi yang dilalui Barongsai.

Perayaan Cap Go Meh atau perayaan lampion biasanya dirayakan hampir di seluruh dunia. Di Indonesia, khususnya di Balikpapan perayaan ini hanya dilakukan di Klenteng Guang De Miao atau di rumah masing-masing warga Thionghoa.

Tahun ini, diakui Hendra Ariwijaya, perayaan Cap Go Meh di Balikpapan terbilang sepi. Perayaan ini dipusatkan di Samarinda, Kalimantan Timur, serta di Singkawang, Kalimantan Barat.

“Cap Go Meh di Singkawang bahkan menjadi pawai dan festival lampion yang memikat wisatawan dalam maupun luar negeri,” jelasnya.

Di luar negeri seperti Taiwan, Cap Go Meh dirayakan sebagai festival lampion. Di Asia Tenggara, dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa. Biasanya wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut. Adat itu berasal dari Penang, Malaysia.

Di Tiongkok, Cap Go Meh disebut Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Perayaan Cap Go Meh dilakukan untuk memberi penghormatan terhadap Dewa Thai Yi, dewa tertinggi di langit pada zaman Dinasti Han.

Sementara di Samarinda, perayaan Cap Go Meh dipusatkan Kelenteng Thien Le Kong di Jalan Yos Sudarso. Kawasan kelenteng dikeliling pemandangan serba merah. Warga etnis Tionghoa Samarinda memanjatkan doa dan harapan menyambut tahun baru di tempat itu, Sabtu (8/2).

Aroma asap dupa semerbak di seluruh sudut kelenteng. Mereka memanjatkan syukur dan merayakannya dengan suka cita. Sebagian orang membakar lilin. Sebagian lain berdoa kepada leluhur.

Koordinator perayaan Cap Go Meh Kelenteng Thien Le Kong Efendi Oetomo menjelaskan beberapa hal. Menurut kepercayaan leluhur Tionghoa, tahun ini imlek dengan shio Tikus Logam dipercaya menjadi tahun yang kuat. Itu bahasa mitologinya. “Ya kita melanjutkan sesuai kepercayaan leluhur kita,” kata Efendi.

Cap Go Meh di Samarinda diisi dengan ibadah yang dimulai sejak pukul 19.00 Wita dan berakhir dengan acara puncak pada pukul 00.00 Wita. Setiap tahun tradisinya seperti itu. “Intinya ritual kita tetap untuk beribadah sih. Untuk pertunjukkan itu selingan menyambut kedatangan masyarakat, akhirnya tetap ibadah bersama”.

Lampion itu simbol jodoh. Cap Go Meh menjadi momen tepat untuk mencari jodoh bagi pemuda Tionghoa. Logis saja, karena saat itu warga Tionghoa saling bertemu. “Itu dari kepercayaan kami, tidak juga bisa membenarkan”.

Tetapi cerita zaman dulu. Turun-temurun. Sudah melakukan hal tersebut. Saat ini, warga Tionghoa di Samarinda hanya meneruskan kepercayaan itu. Tetap dilestarikan dan dibuat ramai.

TERGERUS ZAMAN

Bagi Herry Thio, ketua Perhimpunan Tionghoa Balikpapan (PTB), Cap Go Meh adalah budaya orang Tiongkok yang sudah mulai tergerus oleh zaman. Herry berpendapat, Cap Go Meh sebenarnya tidak memiliki arti yang dalam bagi orang Tionghoa. Hanya Imlek dan budaya Cheng Beng yang masih melekat. Semua perayaan itu budaya yang dilakukan secara turun-temurun. “Itu awalnya budaya, tapi akhirnya berkembanglah hingga saat ini. Dirayakan turun-temurun hingga lebih kental dengan ritual keagamaan,” ucap Herry Thio.

Cap Go Meh itu berasal dari bahasa Hokkien. Saat itu, kata Herry, Cap Go Meh lebih banyak dipakai orang Hokkien. “Hokkien adalah orang suku selatan di daratan China,” katanya saat berbincang dengan Disway Kaltim di The Gade Coffee Kelandasan, Senin (10/2).

Dalam bahasa Hokkien “Cap” artinya sepuluh (10). Sedangkan “Go” berarti lima (5). Sementara kata “Meh” memiliki arti malam. “Jadi Cap Go Meh pengertiannya adalah malam ke lima belas (15),” ujarnya.

Cap Go Meh merupakan hari terakhir perayaan Imlek atau hari ke-15. Karena, kata Herry, Imlek adalah waktu berakhirnya musim dingin dan mulai masuk musim semi di negeri Tiongkok. Oleh karena itu, akhir dari perayaan imlek adalah di hari 15. Dan setelah itu, orang Tionghoa mulai kembali bekerja.

Selama 15 hari itu, orang Tionghoa merayakan hari raya. Makan-makan bersama keluarga di rumah. Jadi, Cap Go Meh menandakan bahwa imlek telah berakhir.

Sementara itu, kalimat Gong Xi Fa Cai memiliki arti selamat jaya uang. “Gong Xi itu artinya selamat. “Fa” itu artinya jaya dan “Cai” itu uang.

Menurutnya, bangsa Tionghoa terbentuk dari dua suku, yaitu suku selatan dan suku utara. Pada zaman Dinasti Song, Dinasti Qing, Mongol dan lain-lain adalah orang utara. Sedangkan orang selatan itu dikenal sebagai orang Tai chi, yang lemah lembut.

Perbedaan itu yang membuat mereka punya cara kerja yang berbeda. Misalnya orang utara lebih banyak kerja bengkel. Sementara orang selatan lebih banyak kerja membuat sutra. “Waktu zaman perang di China kan diusir, akhirnya sampai lari ke Taiwan dan beberapa negara lainnya. Mereka membawa kebudayaan itu,” sebagai warisan leluhur.

Budaya warga Tionghoa juga semakin terkikis. Perayaan yang paling kuat hanya saat imlek saja. Cap go meh itu boleh dikatakan semakin hilang. Itu cuma satu simbol dalam arti seperti dari sini (Imlek) sudah berjalan dua minggu, kemudian Cap Go Meh. Itu saja, tapi tidak pernah dirayakan lagi dengan keras. “Boleh dikatakan enggak ada perayaannya sudah,” jelas Herry Thio.

Apakah di Balikpapan ada perayaan? “Tidak ada. Semestinya cuma mereka mengambil waktu bahwa suasana Lebaran itu masih ada sampai Cap Go Meh. Dipatok selama dua minggu itu,” jelasnya.

Sebenarnya, ada satu lagi budaya yang paling orang Tionghoa ingat. Yaitu Cheng Beng. Pengertian Cheng Beng itu adalah hari leluhur. Atau bisa dibilang sembahyang leluhur. Itu waktunya di bulan 3 awal. Itu juga telah membudaya. Setiap orang Tionghoa wajib ke kuburan. Ziarah kubur mengingat leluhur.

“Jadi sebenarnya kita cuma ada ini (budaya Cheng Beng) yang melekat di hati orang China,” katanya.

Faktor tergerusnya Cap Go Meh, karena tidak begitu signifikan melekat di hati orang Tionghoa. Yang memiliki makna dalam hanya Imlek dan Cheng Beng. (*)

Pewarta   : Darul Asmawan, Andrie Aprianto

Editor       : Devi Alamsyah

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*