Budaya Pacaran, Valentine Day, dan Seks Bebas

Ilustrasi. (ISTIMEWA)

OLEH: AL-FAROZIL*

Liberalisme merupakan paradigma berfikir dan kebudayaan yang telah umum. Atmosfir pemikiran maupun konstelasi manusia kontemporer didominasi paradigma liberal. Ragam transformasi yang memanifestasikan idiom-idiom global seperti kebebasan pers, pasar bebas serta demokrasi, nampaknya tak dapat diceraikan dari liberalisme sebagai titik tolaknya. Idiom-idiom tersebut secara imperatif memaksakan perubahan di berbagai kawasan dunia. Tidak hanya dalam tatanan ekonomi dan politik. Melainkan juga pada budaya bahkan agama.

Keruntuhan komunisme yang kadang juga dimaknai sebagai kekalahan sosialisme yang pada kurun modern berdiri sebagai pesaing politik utama di tingkat global maupun domestik menempatkan liberalisme sebagai satu-satunya paradigma yang harus “diimani” dan “diamini” seluruh negara, bangsa dan umat manusia. Peradaban dunia seolah harus menerima tegaknya tata nilai kemanusiaan baru menggantikan nilai-nilai tradisional yang berkembang sebelumnya. Di mana liberalisme sebagai pilar utamanya.

Remaja memiliki posisi strategis di dalam struktur masyarakat. Sebab remaja hari ini adalah aset sekaligus motor penggerak bangsa di kemudian hari. Dunia remaja sebagai sebuah struktur budaya juga tidak luput dari keharusan menyesuaikan diri dengan desakan liberalisme budaya. Padahal, liberalisme yang nota benenya diklaim menjadi rahim cikal bakal kemajuan Barat dengan berkembangnya sains, teknologi, dan industrialisasi juga menyisakan penderitaan dan krisis kemanusiaan. Hingga melahirkan respons keras dengan munculnya komunisme-sosialisme. Segaris dengan itu, sejarah penjajahan di berbagai kawasan dunia sering kali juga dipandang sebagai implikasi dari liberalisme yang mengenakan topeng kapitalisme.

Segaris dengan itu, wujud bunga rampai program liberalisasi budaya adalah fakta empirik di tengah-tengah masyarakat kita. Anggapan budaya yang dulu dinilai tabu dan bertentangan dengan budaya Timur alias amoral. Kini tereduksi dan telah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan diklaim sebagai keharusan dan pertanda kemajuan atau modernitas.

Buya Hamka mengatakan, berduaan antara laki-laki dan perempuan adalah tabu alias memalukan. Meniru budaya Barat bertetangan dengan adat kampung. Perzinahan dan seks bebas adalah aib besar. Bahkan seorang ayah, ibu atau kakak lelaki akan lebih rela dipenjara daripada harus memikul aib tersebut. Hanya sekadar berkirim surat antara lelaki muda dan perempuan muda walaupun isi surat tersebut adalah firman Allah dan sabda Rasulullah, tetap saja dinilai tercela menurut adat. Namun dewasa ini, semua berubah. Musabab desakan kuat arus liberalisasi budaya.

***
Pacaran di kalangan remaja sudah menjadi hal biasa. Ini ditunjukkan oleh data SKDI pada 2017. Sebanyak 83,9 persen remaja pria pernah berpacaran. Pacaran menjadi jembatan pertemanan semakin akrab, hubungan dekat dalam komunikasi, serta membangun kedekatan emosi. Namun segaris dengan itu, seiring dengan semakin dekatnya hubungan remaja dalam ikatan pacaran akan menggiring bahkan meniscayakan perilaku yang menyimpang. Seperti bercumbu, berciuman, merangsang bagian tubuh yang sensitif, bahkan sampai melakukan hubungan seksual. Lalu aborsi.

Senada dengan itu, hasil survei SKDI pada 2017 menunjukkan, 75,1 persen remaja yang berpacaran pernah berpegangan tangan, berpelukan sebanyak 49,5 persen, berciuman bibir sejumlah 32,9 persen, dan paling mengkhawatirkan remaja berani meraba bagian tubuh yang sensitif sebanyak 21,5 persen.

***

Berbagai surel pers otoritatif menyimpulkah, penjualan coklat laku keras di valentine day. Secara bersamaan, angka penjualan kondom meningkat signifikan menjelang hari valentine. Pilunya, kebanyakan yang membeli alat kontrasepsi itu adalah pemuda yang berusia sekitar 17-23 tahun.

Bukan gegabah jika kita katakan bahwa budaya valentine day masih menjadi hari yang cukup berisiko bagi kalangan remaja. Masih amat jamak remaja yang menganggap perayaan valentine day yang mereka klaim sebagai hari kasih sayang itu adalah alat legitimasi untuk melakukan tindakan negatif, amoral, asusila, dan dosa besar.

Segaris dengan itu, data survei Kristen Mark pada 2017 menyebutkan, 85 persen responden menganggap seks sebagai perkara penting pada perayaan valentine. Betapa liberalisme yang semula dimaksudkan untuk memanusiakan manusia, berbalik arah. Manusia semakin tidak dimanusiakan (dehumanisasi) oleh karya-karyanya sendiri.

***

Hasil survei BKKBN pada 2008 menyimpulkan, 63 persen remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah berhubungan seks pra nikah dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi. Selanjutnya, survei KPAI pada 2013 memaparkan, 62,7 persen remaja Indonesia telah melakukan seks di luar nikah. Sebanyak 20 persen dari 94.270 perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga dari kelompok usia remaja dan 21 persen di antaranya pernah melakukan aborsi.

Lalu pada kasus inveksi HIV dalam rentang tiga bulan, sebanyak 10.203 kasus dan 30 persen penderitanya berusia tunas alias remaja. Seirama diamini oleh data yang dikeluarkan oleh Go Dok–sebuah aplikasi penyedia pelayanan kesehatan–bahwa 68 persen remaja Indonesia rentan perilaku seks bebas yakni pada kisaran usia 16-25 tahun.

Linear dengan data-data di atas, riset PKBI Kaltim pada 2010 mengungkapkan, 25 persen pelajar di Samarinda menyatakan pernah melakukan hubungan seksual. Bahkan pada 2012, angka tersebut mencapai 80 persen.

***

Implikasi dari fakta dan angka-angka yang fantastis di atas tentu tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebab, selain dosa besar dan secara inheren meningkatkan rasio aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan, aktifnya kegiatan seksual pada remaja dapat memperbesar peluang penularan penyakit seksual berbahaya seperti Herpes dan AIDS. Jika dibiarkan terus berlanjut, maka jangan heran jika 30-50 tahun mendatang, Indonesia akan mengalami fenomena lost of generation. Selain itu, yang perlu diketahui, liberalisasi budaya tidak hanya tumbuh di kota-kota besar. Akan tetapi secara sporadis dan terus membumbung bergerilya ke kabupaten. Bahkan melanglang buana ke pelosok-pelosok kampung.

Fenomena serupa seharusnya semakin menyadarkan kita akan kebenaran wahyu sekaligus kenabian Rasulullah. Sebab, hal senada telah jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah dengan sabdanya yang mulia, bahwa umat ini akan mengikuti jejak langkah Persia dan Romawi sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita. Lalu ia menggaulinya di jalan.”

Ringkasnya, seks bebas alias perzinahan yang berakhir dengan aborsi dan penyakit mematikan atau dengan kata lain membunuh dan atau terbunuh sebagai ending, tak lain diawali dengan pacaran. Selanjutnya valentine day yang dijadikan dalih apik untuk melakukan seks bebas atas nama cinta dan kasih sayang. Bahkan pada fase berikutnya, sebagian remaja perempuan menghina dinakan dirinya dalam lembah prostitusi.

Mari bergegas untuk memelihara diri dan keluarga terkasih dari kebiadaban arus liberalisasi budaya itu dan dari kejahatan seksual tersebut. (qn/*Penulis adalah kader Pelajar Islam Indonesia Kalimantan Timur)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*