Angka Pengangguran Balikpapan Masih Tinggi

Ilustrasi pengangguran. (in)

==

Balikpapan, Diswaykaltim – Jumlah pengangguran di Kota Minyak masih terbilang tinggi. Bahkan terjadi kenaikan setiap tahunnya. Itu angka yang berhasil didata Pemkot Balikpapan saja. Belum lagi mereka yang tak terdeteksi.

Berbagai jalan ditempuh Pemkot Balikpapan. Namun belum mampu menggerus jumlah pencari kerja (pencaker) dengan signifikan.

Kabid Penempatan dan Perluasan Kerja Disnaker Balikpapan Yudiono menerangkan, jumlah pencaker masih signifikan saat ini lantaran jumlah lulusan sekolah tak sebanding dengan jumlah lowongan kerja yang tersedia.

Untuk menekan angka pengangguran tersebut, Disnaker Balikpapan memfasilitasi pencaker terhadap perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan kerja.

Tapi tidak semua perusahaan mampu dijangkau. Sebab, setiap perusahaan memiliki kriteria dan klasifikasi terhadap calon karyawannya.

“Kebanyakan perusahaan memberi kami informasi soal lowongan kerja. Itu yang kami sebarkan ke pencaker. Selain itu ada job market fair (JMF) dalam setahun bisa dua sampai tiga kali,” ujar Yudiono.

Hal ini telah dilakukan disnaker lima tahun belakangan. Selain itu disnaker akan membuat sebuah aplikasi untuk memfasilitasi pencaker. Ada juga rencana merajut kerja sama sejumlah SMK dan perusahaan.

Aplikasi yang dimaksud Yudiono adalah sinkronisasi antara perusahaan, disnaker dan pencaker. Sedangkan kerja sama sekolah dengan perusahaan berupa program pemagangan dan sertifikasi pelajar.

“Tahun ini kami upayakan masuk anggaran pembuatan aplikasi pencari kerja. Jadi tahun depan bisa kami buat aplikasinya. Juga soal sertifikasi pelajar khususnya SMK. Ada kerja sama sekolah dengan perusahaan agar lulusan terampil,” jelasnya.

Yudiono menjelaskan saat ini masih banyak pencaker yang tidak sesuai dengan lowongan kerja yang tersedia. Bahkan, para pencaker berijazah S1 atau S2 lebih banyak mencari pekerjaan yang santai dan bergaji besar.

“Keinginan mereka tidak sesuai dengan ijazah. Menganggap jika S1 atau S2 mau kerja yang enak dan santai,” ujarnya.

“Saat ini yang sangat dibutuhkan itu keahlian,” tambahnya.

Meminjam catatan Disnaker Balikpapan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah pencaker terus meningkat. Hingga akhir 2019 tercatat sekitar sekitar 5 ribu pencaker.

“Setiap tahun selalu naik. Akhir 2019 saja ada sekitar 5 ribu. Artinya kalau dihitung, lima tahun belakangan ada penambahan sekitar 500 sampai 800 orang,” jelasnya.

Kepala BLKI Balikpapan Suhartono mengatakan, tak kalah penting Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) Kaltim menekan angka pengangguran. Sejumlah latihan terus dilakukan. Bahkan beberapa jurusan yang dianggap “laris” juga digencarkan.

Dari 10 jurusan yang ada, tiga teratas yang paling banyak diminati perusahaan yakni jurusan las, administrasi perkantoran, dan mesin bubut.

Suhartono menyebut, setiap tahun BLKI melatih 600 hingga 700 orang dari seluruh Kaltim yang terbagi 10 jurusan.

“Pelatihan setiap tahun dituntut semakin tinggi. Kami hanya memiliki program pelatihan. Soal menekan angka pengangguran kami gandeng perusahaan berdasarkan jurusan yang ada di kami,” ujarnya.

Tiga jurusan yang paling diminati seperti las, administrasi perkantoran dan mesin bubut memang masih banyak dilirik. Terbukti 2019 lalu dari tujuh paket, yang masing-masing paketnya berisi 16 orang, usai menjalani latihan langsung ditarik ke perusahaan-perusahaan.

“RDMP kemarin banyak yang minat jurusan las. Perusahaan SSB di Kariangau juga. Bahkan saat ini masih membutuhkan lagi,” jelasnya.

Diakui Suhartono, usia para pendaftar di BLKI usia produktif. Namun tak jarang di beberapa jurusan terdapat usia tua.

Angka pengangguran Balikpapan masih tinggi, diakui Suhartono, lantaran pencaker tersebut terlalu memilih-milih pekerjaan. (bom/hdd)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*