Ungkap Misteri Kematian Reza, Forensik Mabes Polri Lakukan Autopsi

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman bersama Ketua Tim Forensik Mabes Polri Kombes Pol dr Sumy Hastry (baju hitam) usai melakukan autopsi Yusuf dan menuju pemakaman Reza di Bakungan, Loa Janan, Selasa (18/2/2020) kemarin. (Arman/Disway)

============================

Samarinda, DiswayKaltim.com – Selasa (18/2/2020) kemarin. Tim Forensik Mabes Polri tak hanya melakukan autopsi terhadap jasad Ahmad Yusuf Ghazali (4). Tapi juga melakukannya terhadap jasad Reza Asy’ari (28), pria yang ditemukan meninggal gantung diri di Perumahan Grand Taman Sari (GTS) Blok B, Kecamatan Samarinda Seberang pada Minggu (26/1/2020) lalu.

Pasalnya, pihak keluarga meyakini kalau Reza dibuat seolah bunuh diri, di teras rumah istrinya yaitu Desy Ratnasari. Walaupun kepergian Reza sudah dua minggu. Orang tua Reza masih tidak yakin, kematian anaknya bukan karena bunuh diri. Banyak bukti yang menguatkan keyakinan mereka. Mulai dari gambar yang beredar yang menunjukan posisi Reza tergantung dengan kaki yang menapak.

Hingga posisi mata yang tertutup rapat, lidah yang tidak keluar, serta tangan yang tidak menggenggam. Padahal, ciri-ciri jasad yang bunuh diri, posisi mata yang melotot, lidah yang menjulur keluar dan tangan dalam posisi menggenggam. Karena menahan kesakitan.

“Semua ganjil. Saya gak yakin kalau anak saya bunuh diri. Dia itu tidak tergantung kalau saya liat fotonya. Kakinya menapak. Bahkan lututnya hampir nyentuh tanah. Dan barang-barang disekitarnya tertata rapih. Sudah itu, mana ada orang yang mau gantung diri di teras rumah,” jelas Ayah Reza, Ajianur saat ditemui Disway Kaltim, di kompleks Gor Segiri Samarinda, Jumat (7/2/2020) lalu.

Sehingga, untuk memastikan penyebab kematian Reza. Pihak kepolisian Samarinda membongkar makam Reza dan mengautopsinya bersama Tim Forensik yang dipimpin Kombes Pol dr Sumy Hastry dibantu Tim dari Forensik RSUD AW Sjahranie. Autopsi juga disaksikan Kasat Reskrim Kompol Damus Asa dan Kapolsek Samarinda Seberang Kompol Suko Widodo.

Makam yang berlokasi di Jalan Tepian Manggis, Desa Bakungan, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar) langsung dijaga ketat petugas gabungan Samarinda dan Loa Janan. Serta terpasang garis polisi agar tak ada masyarakat yang mendekat. Karena autopsi berlangsung di sebuah tenda yang dikelilingi kain. Tepat disamping makam Reza.

Proses autopsi sekitar pukul 14.00 Wita. Hampir tiga jam berlalu, tampak dr. Sumy Hastry keluar dari kawasan pemakaman. Awak media yang berada tidak jauh dari lokasi menghampiri untuk meminta keterangan dari proses autopsi Reza.

Namun dokter Hastry menjawab singkat. Sambil menunggu kendaraan yang ditumpanginya, ia mengatakan tidak ada hambatan selama proses autopsi.

“Semuanya lancar, tidak ada hambatan,” tuturnya.

Namun ia menambahkan ada beberapa bagian organ yang dijadikan sampel untuk dibawa ke Puslabfor Mabes Polri guna pemeriksaan lanjutan.

“Iya ada. Tapi nanti pak Kapolsek yang bisa mengatakan. Nanti ada juga dokter kristina,” ucap Hastry.

Terpisah, Waka Polsekta Samarinda Seberang AKP Sutrisno menjelaskan, jika rangkaian pembongrakan makam dan autopsi ini berdasarkan persetujuan pihak keluar dari Reza.

“Benar, ini pembongkaran makam dari Reza. Rangkaiannya kita mulai sekitar pukul 14.00 sampai 17.00  Wita. Ya hampir kurang lebih 3 jam, dan Alhamdulillah tidak ada hambatan,” urainya.

Kemudian, terkait apa saja bagian organ yang dibawa Tim Forensik, Sutrisno tidak berani menjawab. Karena yang harus menjawab adalah pihak forensik.

“Kalau itu saya tidak berani, biar nanti forensik yang jawab yah,” tandasnya.

Sementara Dr. Kristina Uli Gultom selaku Kepala forensik RSUD AWS mengatakan sampel yang diambil dari mendiang Reza yakni kulit pada bagian leher, kulit dinding leher bagian dalam, lambung, jantung, dan terakhir tulang lidah.

“Iya ada yang diambil. Nanti kita bawa sampelnya ke AWS,” ungkap Kristina.

Ditanya apakah mengalami kesulitan untuk melakukan autopsi pada jasad Reza, ia mengaku sedikit kesulitan karena kondisi jasad sudah membusuk.

“Agak sedikit kesulitan. Karena mayatnya sudah membusuk banget,” tambahnya.

Kemudian terkait estimasi waktu untuk mengetahui hasil autopsy, Kristina mengatakan perlu memakan waktu 2 sampai 3 minggu. (Ar/byu)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*