SAMBUTAN HANGAT

Mahasiswa Asal Kaltim yang Dikarantina di Natuna Disambut Tangan Terbuka

Sebelumnya tak ada rencana penyambutan warga Kaltim yang masuk karantina di Pulau Natuna. Hingga pada Sabtu malam, Gubernur Kaltim Isran Noor menginstruksikan kepala daerah untuk memfasilitas kepulangan para WNI tersebut hingga ke kediaman masing-masing.

————–

EMPAT belas mahasiswa asal Kalimantan Timur (Kaltim) Minggu (16/02) kemarin telah tiba Bumi Etam. Lima orang tiba melalui Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan menggunakan maskapai Batik Air nomor penerbangan ID 7271. Tiba pukul 09.00 Wita. Mereka disambut Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi dan Kepala Dinas Kesehatan Kota (Diskes) Balikpapan Andi Sri Juliarty.

Sementara 9 orang tiba melalui Bandara APT Pranoto menggunakan pesawat Batik Air pukul 11.00 Wita. Mereka diantar oleh pilot dan pramugari, melewati ruang VIP Room. Di ruang itu, pihak keluarga dan dari pejabat Pemprov Kaltim telah menunggu.

Tampak Asisten Administrasi Umum Setdaporv Kaltim Fathul Halim, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Andi Muhammad Ishak, serta jajaran Diskes Kota Samarinda.

Suasana haru dan isak tangis terlihat. Kala pihak keluarga, orangtua akhirnya bisa bertemu dengan anaknya. “Alhamdulillah, bahagia dan senang, namanya juga anak dan sehat wal afiat,” ucap H Alfin, ayah dari Rafiatul Lulu, salah satu mahasiswa asal Samarinda yang diobservasi di Natuna.

Mereka juga diberi kesempatan untuk berbagi kisah. Salah satu dari mereka bercerita pada saat dikarantina selama 14 hari di Natuna. “Hari- hari kita seperti latihan korsa. Alhamdulillah semua dilayani dengan baik oleh pemerintah,” ucap Rizka Nurazizah.

Mereka semua berterima kasih atas penyambutan dan segala fasilitas yang diberikan pemerintah. Baik pemerintah pusat dan daerah. “Terima kasih kepada semuanya, telah menerima kami dengan sangat baik,” tuturnya.

Sehari sebelumnya, pada Sabtu (15/2) Gubernur Kaltim Isran Noor telah menjemput langsung ke-14 warga Kaltim di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Usai dilepas oleh Kementerian Kesehatan. Setelah menjalani masa karantina selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau.

Isran bahkan sempat menemani mereka makan di salah satu sudut Bandara Halim usai mereka tiba. Dengan dibantu oleh Kantor Penghubung Kaltim di Jakarta, Isran mengantar mereka semua untuk menginap lebih dulu di Hotel Ibis Sentral Cawang. Sebelum akhirnya pulang ke Kaltim, Minggu (16/2).

Isran memastikan bahwa 14 warganya dalam kondisi sehat dan bebas dari paparan virus corona atau COVID-19. “Syukur alhamdulillah, lihat semua kan? Anak-anak kita ini semuanya sehat. Jadi, mari kita sambut mereka dengan gembira. Dan semoga Kaltim dijauhkan dari virus corona meski kita harus tetap waspada dan selalu hidup sehat,” kata Gubernur Isran Noor, saat menyambut mereka.

Pada malam harinya, Isran kemudian mengintruksikan kepada Kepala Daerah khususnya di Balikpapan dan Samarinda untuk memfasilitasi kepulangan mereka hingga ke kediamannya masing-masing, Minggu (16/2).

TIBA DENGAN SEHAT

Sembilan mahasiswa asal Tiongkok telah sampai di Kota Tepian, Minggu (16/2). Kepada Disway Kaltim saat ditemui di Bandara APT Pranoto Samarinda, mahasiswi Hubei Polytechnic University Rizka Nurazizah mengaku senang bisa sampai di Samarinda. Terlebih bisa bertemu dengan keluarga besarnya.

Mahasiswa kedokteran semester enam ini menjelaskan, kini dirinya bersama rekan-rekan yang lain hanya bisa melakukan kuliah online. Pasalnya, saat ini belum memungkinkan untuk kembali ke Negeri Tirai Bambu akibat virus Corona.

“Pertama pastinya ingin makan. Makan bakso. Karena sudah tiga tahun tidak makan bakso. Pastilah kangen sama orang tua. Untuk kuliah belum bisa kembali,” katanya saat keluar dari ruang VIP Bandara APT Pranoto.

Kebersamaan dengan teman-temannya saat dikarantina masih membekas di benaknya hingga  kini. Pasalnya, di sana mereka melakukan aktivitas bersama setiap hari. Mulai makan hingga berolahraga. “Kami semua menangis saat berpisah,” bebernya.

Kebahagiaan juga terpancar dari Innesa Alviani Nur Fadila, mahasiswa Hubei Minzu University. Tidak hanya gembira bisa kembali bertemu dengan keluarganya, tapi masyarakat di Tanah Air juga bisa menerima kedatangannya.

“Senang banget. Masyarakat tidak membedakan kami yang membawa virus,” ungkapnya.

 

BERITA TERKAIT:

14 Mahasiswa Kaltim yang Dikarantina, Dipantau hingga Sebulan ke Depan

 

Sementara itu, lima mahasiswa asal Kalimantan Timur (Kaltim) disambut riang masing-masing keluarga dan pemerintah kota Balikpapan. Orang tua mahasiswi asal Balikpapan yang ikut diobeservasi di Natuna, Rina Karmila mengucap banyak syukur dan terima kasih kepada seluruh instansi. Rina Hadir didampingi suaminya Umar Baki.

“Alhamdulillah sudah bisa bertemu sama kakak lagi, saya senang, bahagia dan enggak bisa bilang apa-apa lagi selain syukur ya mas,” ujarnya, kemudian meneteskan air mata di VIP Room itu (16/2).

Sementara itu, orang tua lainnya, Faridah mengatakan jika melihat anaknya dalam kondisi sehat saja dirinya sudah sangat senang dan bahagia. “Lihat dia bisa kembali berkumpul sama keluarga saja Alhamdulillah mas,” ujarnya sambil memeluk sang anak, Fuad Ilmi, asal PPU.

MENUNGGU EVAKUASI

Enshizhou salah satu kota di Provinsi Hubei, Tiongkok, ikut mencekam, pertengahan Januari lalu. Jaraknya hanya sekitar 7 jam dari Kota Wuhan. Masih dalam provinsi yang sama. Atau berkisar antara Balikpapan- Sangatta Kutai Timur.

Marina Febriana Chariah (19) pun ikut panik. Mahasiswi Hubei Minzu University, Kota Enshizhou Tiongkok ini bingung mau berbuat apa. Berada jauh dari keluarga dan tanah kelahirannya. Bersamanya ada 10 mahasiswi lain dari Indonesia yang sama-sama paniknya.

Ketakutannya kian parah. Ketika dikabarkan bahwa 25 orang Enshizhou sudah terpapar COVID-19. Wabah yang disinyalir di bawa oleh kelalawar itu menyebar menyelimuti seluruh kota di Tiongkok. Marina dan kawan-kawan menjadi terisolir dan harus bertahan hidup dengan cara apa yang ia bisa lakukan.

Enshizhou pun terisolir. Pemerintah setempat menutup seluruh akses keluar masuk bagi pendatang maupun warganya yang ingin keluar kota. “Ya, sempat di lockdown setelah tiga sampai empat hari sejak munculnya corona di Wuhan sana. Sehingga tidak ada yang boleh masuk. Begitupun kami dilarang keluar,” ujarnya.

Akses pun terputus. Sejumlah kendaraan umum komersil tidak beroperasi lantaran ketakutan wabah corona yang luar biasa. Bahkan nyaris tidak ada toko yang buka setelah wabah corona menyebar hingga ke sejumlah negara. Alhasil para mahasiswa kehabisan stok makanan.

Dari sinilah para mahasiswa mencoba untuk mengelola bahan makanan yang ada untuk bisa bertahan beberapa hari. Saat itu, Marina dan teman-temannya mencoba untuk keluar asrama membeli stok makanan di salah satu minimarket. Tak jauh dari asaramanya. Hanya mini market tersebut yang masih buka. Menjual bahan makanan seperti sayuran dan sebagainya.

“Ada satu minimarket yang menjual sayuran lengkap disana. Kita sudah mengecek tapi stok makanan sudah menipis. Bahkan sayuran yang dijual pun sudah kurang segar. Makanya kami inisiatif berbelanja sebanyak mungkin untuk stok di asrama. Setidaknya satu minggu bisa bertahan. Di daerah kami cuma minimarket tersebut yang buka,” jelasnya.

Warga pun menjadi panic buying akibat stok makanan semakin menipis. Nyaris seluruh toko ludes diborong warga. Mereka pun sama, mengelola bahan makanan untuk bertahan beberapa hari sampai nanti pemerintah melakukan evakuasi kepadanya.

Muncul masalah baru. Para mahasiswa tak memiliki cukup uang untuk menyetok makanan yang banyak. Beruntung, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) disana mengirimkan sejumlah uang untuk membantu membeli stok makanan. Langsung ditransfer kepada mahasiswa. “Itu sangat membantu,” ujarnya.

Marina dan teman-temannya sempat putus asa lantaran korban terus berjatuhan akibat corona. Psikologis mereka sedikit terganggu. Akhirnya Marina memilih diam di asrama. Sesuai instruksi dari Internasional Student, manajemen yang menaungi pendidikan mereka di luar negeri.

Manajemen Internasional Student terus meminta para mahasiswa agar tidak keluar asrama dan terus memakai masker. Bahkan mereka telah disuplai kebutuhan pencegahan terjangkitnya virus, seperti cairan disinfektan hingga termometer.

“Kami diminta memakai masker dan mencuci tangan setiap hari lebih sering untuk menjaga tetap higienis”.

Akhir Januari, akhirnya tibalah kabar menggembirakan. Pemerintah RI akan melakukan evakuasi terhadap warganya di Tiongkok. Marina cs senang dan bersyukur mereka. Keinginan mereka agar segera bisa keluar dari kota Enshizhou atau dari Tiongkok.

“Pas ada kabar mau dievakuasi ya senang, sebab kondisi disini sangat memprihatinkan. Kami saja hanya boleh keluar kalau ada keperluan emergency, itupun harus gunakan masker. Jadi pas tahu ada evakuasi saya sama teman-teman langsung bersyukur,” terangnya.

Namun, keinginan bertemu keluarga harus tertunda. Mereka harus menjalani masa karantina di Natuna, Kepulauan Riau. Untuk dilakukan observasi selama 14 hari sesuai standar WHO. Ini merujuk pada masa inkubasi COVID-19 yang juga selama itu. Artinya jika lebih dari 14 hari masih sehat, berarti kemungkinan kecil akan terjangkin virus corona.

Soal kepanikan WNI di Tiongkok yang terjebak lantaran maraknya wabah COVID-19 juga banyak digambarkan Pembina Disway Kaltim Dahlan Iskan. Beberapa kali dalam tulisannya menceritakan kondisi di beberapa kota di Hubei, Tiongkok. Wawancara langsung dengan mahasiswa dari Indonesia.

Satu di antaranya adalah Julinten. Bahkan dalam tulisannya, Dahlan Iskan menyebut Julinten Edan. Julinten sudah 2,5 tahun di Kota Xianning. Kini dia semester 5 di fakultas kedokteran di sana. Di Xianning inilah tinggal banyak mahasiswa Indonesia. Termasuk Julinten Iman Sallo. Asal Tana Toraja, Sulsel.

Dalam petikan obrolan Dahlan Iskan dengan Julinten, diketahui keberanian mahasiswa asal Tana Toraja itu karena tahu apa yang harus dilakukan. “Kebetulan tiga bulan lalu pelajaran kami tentang virus, bakteri, dan sejenis itu. Kami tahu virus itu seperti apa dan bagaimana kami harus bersikap,” kata Julinten seperti dikutip dari tulisan Dahlan Iskan.

MASIH INGIN KEMBALI

Meski telah mengalami masa mencekam di Tiongkok, Marina dan kawan-kawan mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya hingga tuntas. Hal ini dikarenakan dirinya sangat ingin menyelesaikan pendidikannya itu dan mengaku belum trauma. “Kalau trauma sih nggak, jadi ya masih pengen kembali ke China,” tutupnya.

Saat ini masa perkuliahan diliburkan, sementara waktu. Namun, ada pula yang belajar melalui online. Para mahasiswa tersebut ke depannya tetap akan melanjutkan kuliah di Tiongkok. Mereka mengaku tidak terpengaruh dengan adanya Virus Corona yang tengah merebak di Tiongkok saat ini.

Usai pemerintah Tiongkok menyatakan aman terhadap virus tersebut, Marina akan kembali lagi menyelesaikan perkuliahannya. “Masih menunggu pengumuman dari Universitas kapan tanggal masuknya. Tapi dari sekarang sudah ada informasi online jadi belajarnya online dulu sampai ada pengumuman dari Univeritas,” jelasnya.

Di kota yang ia tempati memang tergolong sepi. Jauh dari pusat penyebaran Virus Corona yang berjarak 7 jam perjalan. “Karena saya enggak melihat langsung, cari aman saja. Mau kemana juga soalnya kota sepi. Kita enggak ke rumah sakit, enggak lihat orang-orang yang dirawat. KBRI pun perhatian apalagi waktu evakuasi, komunikasi mereka lancar,” jelas Marina.

Hal yang sama juga disampaikan oleh mahasiswa asal Kabupaten PPU, Fuad Ilmi (20). Ia menjelaskan jika dirinya juga tidak mengalami trauma akibat dampak virus corona ini. “Tetap mau lanjut lagi kuliahnya di sana. Insya Allah enggak ada masalah,” ujarnya.

Bahkan, dirinya udah mendapat restu dari orang tuanya jika tetap melanjutkan kuliahnya di Hubei Minzu University. “Orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada saya. Jadi Alhamdulillah tetap lanjut,” tegasnya.

Sama halnya dengan Rizka Nurazizah, mahasiswi Hubei Polytechnic University, yang baru tiba di Samarinda siang kemarin.  Dia bercerita kondisinya saat masih berada di Huangshi, kota bagian tenggara di Provinsi Hubei. Tidak ada transportasi yang dapat digunakan setelah merebaknya COVID-19. Pihak kampus pun melarang seluruh mahasiswanya melakukan kegiatan di luar.

Makanan pun susah. Pilihannya adalah berhemat. Karena mengonsumsi beras dibatasi, dia dan rekan-rekannya hanya konsumsi bubur. “Alhamdulillah kami bisa belanja di dalam kampus. Tapi, persediaan makanan pun terus menipis,” terangnya. (*)

Pewarta   : Andrie Aprianto, Michael F Yacob, Muslim Hidayat

Editor       : Devi Alamsyah

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*