AYL Digadang-gadang Diusung Gerindra, Andi Harun: Rekomendasi Keluar Maret

Andi Harun dan AYL berfoto bersama setelah bersilaturahmi ke Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. (RAFII/DISWAY KALTIM)

Kukar, DiswayKaltim.com – Hubungan Partai Gerindra dengan Awang Yacoub Luthman (AYL) semakin dekat. Hal ini terlihat saat kunjungan Ketua DPD Partai Gerindra Kaltim Andi Harun ke Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Beberapa momen memperlihatkan keduanya terlibat percakapan santai dan serius.

Andi Harun menyebut, saat ini seleksi bakal calon bupati dan wakil bupati Kukar di DPP Partai Gerindra sudah mengerucut ke satu nama. Sudah ada figur potensial yang bakal diusung partai yang dipimpin Prabowo Subianto itu.

Namun ia tidak mau mendahului keputusan pengurus partai di tingkat pusat. Karena itu, nama bakal calon yang diusung Gerindra belum dapat disampaikan ke publik. “Sekarang sudah proses ke satu (nama),” jelas Andi Harun setelah berkunjung ke Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sabtu (22/2/2020).

Ia memastikan akan mengedepankan komunikasi dan masukan dari DPC Gerindra Kukar. Salah satu pertimbangannya, memastikan kader Gerindra yang memiliki kans untuk maju di perhelatan kontestasi lima tahunan tersebut.

“Partai Gerindra lebih mendahulukan kader,” ujarnya. Andi Harun menjelaskan, nama yang akan diusung Gerindra akan diumumkan paling lambat pertengahan Maret mendatang.

Sementara itu, AYL akan menerima pemikiran objektif dan keputusan terbaik yang diambil partai. AYL mengaku akan menyesuaikan diri dengan partai yang mengusungnya sebagai calon bupati Kukar.

AYL memastikan komunikasi dengan partai politik terjalin dengan baik. Pun dengan setiap partai yang berminat mengusungnya di Pilkada Kukar. “Kita terus berkomunikasi dengan baik,” pungkas AYL.

Selain AYL, tokoh yang kerap disebut sebagai bakal calon bupati dari partai tersebut yakni mantan wakil ketua DPRD Kukar yang juga Ketua DPC Gerindra Kukar, Rudiansyah.

Belum lama ini, Rudiansyah berkumpul dengan para tokoh partai di tingkat lokal. Yang menamakan diri sebagai Poros Patin. Kelompok ini meliputi Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PAN), Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Gerindra, dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Di Facebook, Ketua DPD NasDem Kukar Marwan mengungkapkan, terdapat beberapa rumusan bakal pasangan calon potensial yang akan diusung sejumlah partai tersebut. Di antaranya Rudiansyah-Novita Ika Sari, Surpani Sulaiman-Darlis Pattalongi, AYL-Marwan, Edi Damansyah-Rudiansyah, Rudiansyah-Firnadi Ikhsan, Rudiansyah-Marwan, dan Darlis Pattalongi-Rudiansyah.

Dalam rumusan tersebut, nama AYL dan Rudiansyah muncul. AYL dipasangkan dengan Marwan. Keduanya sempat mencuat di publik akan berpasangan di Pilkada Kukar tahun ini. Namun belakangan, tersiar kabar bahwa komunikasi AYL dan Marwan urung berkembang menjadi keputusan final untuk berpasangan dalam helatan demokrasi di tingkat kabupaten tersebut.

AYL sejatinya politisi senior di Kukar. Ia pernah memimpin DPRD Kukar. Berada dalam daftar kader Partai Golongan Karya (Golkar). Namun hubungan AYL dengan pengurus partainya dinilai tidak harmonis. Sehingga beberapa sumber menyebut, kecil kemungkinan bagi AYL mendapatkan tiket pencalonan dari partai berlambang pohon beringin tersebut.

Padahal jika AYL mengantongi tiket dari Golkar, maka ia tak perlu membangun koalisi dengan partai lain. Sebab partai tersebut memiliki 13 kursi di DPRD Kukar. Melebihi syarat minimal dukungan yang hanya mensyaratkan sembilan kursi. Golkar juga tercatat sebagai satu-satunya partai di legislatif yang dapat mengusung calon tanpa perlu melakukan koalisi dengan partai lain.

Sementara jika Gerindra yang mengusung AYL di Pilkada Kukar, praktis ia mesti mencari dua kursi tambahan di legislatif. Pasalnya, Gerindra hanya memiliki tujuh kursi. Apakah koalisi dengan NasDem? Partai yang dipimpin Marwan itu mengantongi dua kursi di DPRD Kukar. Dengan begitu, koalisi dua partai itu sudah cukup dijadikan syarat untuk meraih tiket pencalonan di Pilkada Kukar.

Baik Gerindra maupun NasDem, belum memutuskan berkoalisi. Di legislatif, NasDem justru membentuk fraksi dengan Hanura dan PPP. Jika pun saat ini belum ada keputusan dari Gerindra dan NasDem serta muncul rumor AYL dan Marwan belum final untuk berpasangan, bukankah politik itu selalu dinamis? (mrf/qn)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*