Balikpapan Sumbang 40% Pendapatan Wisata Kaltim

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Sektor pariwisata dan industri kreatif menjadi salah satu andalan Indonesia dalam menghasilkan devisa negara.

Pada 2018 misalnya, devisa yang disetor dari sektor pelesiran mencapai USD 19,29 miliar. Jumlah itu mengalami kenaikan menjadi USD 20 miliar tahun lalu. Sedangkan  ekspor industri kreatif diklaim naik lebih dari satu persen dari USD 21,2 miliar menjadi USD 22,06 miliar pada 2019.

Sementara untuk skala lokal, Kota Balikpapan menyumbang 40 persen pendapatan sektor pariwisata di Kalimantan Timur.

Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat Balikpapan berkontribusi sebesar Rp 134,7 miliar dari total Rp 335,4 miliar pendapatan Kaltim.

Jumlah itu berasal dari akomodasi sebanyak Rp 42,2 miliar, makan dan minum Rp 68, 3 miliar, serta atraksi dan hiburan yang menyumbang Rp 24,1 miliar.

Sementara untuk seluruh Kaltim, pendapatan dari sektor  akomodasi sebanyak Rp 79 miliar, makan minum mencapai Rp 163.2 miliar, serta atraksi dan hiburan menyumbang Rp 93 miliar.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Herliani Tanoesoedibjo mengatakan, potensi pendapatan daerah dari sektor pariwisata masih bisa diitingkatkan dengan berbagai cara.

“Salah satunya dengan melibatkan para millenial dalam mendorong pariwisata dan industri kreatif,” kata Angela, dalam kegiatan Gerakan Sadar Wisata di Balikpapan, Senin (24/2).

Menurut Angela, millenial punya kemampuan dalam berpikir kreatif dan berorientasi pada hasil. “Bersama-sama kita bisa memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang saat ini menjadi salah satu penghasil devisa terbesar Indonesia,” ungkapnya.

Sektor pariwisata, kata Angela, telah menyerap tenaga kerja hingga 12,8 juta orang. Sedangkan industri kreatif mampu memberi pekerjaan kepada 18,2 juta rakyat Indonesia.

Lebih jauh Angela mengatakan, pariwisata bukan hanya bicara tentang promosi dan infrastruktur. Banyak tantangan untuk mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif agar lebih baik dan mengikuti perkembangan zaman.

Ia juga berbagi soal strategi pengembangan pariwisata ke depan, yang prioritas utamanya adalah mengubah orientasi dari quantity tourism menjadi quality tourism. Lalu ada juga inbound strategy, meningkatkan keselamatan dan keamanan para wisatawan, hingga peningkatan kapasitas kursi penerbangan ke Indonesia.

Kemenparekraf, kata Angela, melihat perlunya penambahan jumlah seat capacity dalam meningkatkan jumlah wisatawan. Pada 2019, seat capacity ke Indonesia dari seluruh dunia sejumlah 25 juta. Pada kenyataannya, seat capacity yang terpenuhi (load factor) hanya 76 persen.

Dengan begitu, actual seat capacity Indonesia sejumlah 19,1 juta seat. Dari jumlah tersebut, 5,5 juta di dalamnya diisi oleh WNI. Maka dari itu, jumlah airline seat untuk wisatawan asing ke Indonesia hanya 13,6 juta seat. Pelibatan para millenial dalam industri pariwisata dan ekonomi kreatif tak lain karena kaum muda sangat memahami era digital.

“Dampak digital pada perjalanan traveler sangat besar,” kata dia. Misalnya saja, tambah Angela, 71 persen traveler mencari informasi wisata melalui media sosial. Mereka juga membagikan pengalaman perjalanannya, sehingga dapat memengaruhi pengikutnya untuk melakukan kegiatan yang sama.

Karena itu, untuk mendorong wisatawan, ada sejumlah strategi yang bisa diterapkan oleh pengelola wisata. Pertama, berkaitan dengan safety issue, bagaimana wilayah-wilayah harus aman untuk para wisatawan.

“Mitigasi bencana harus ada dan kita harus siap, karena kita sudah punya mapping-nya,” ujar Angela.

Kedua, peningkatan kebersihan. Sarana dan prasarana umum seperti toilet harus bersih, sehingga wisatawan yang datang merasa nyaman.  “Ketika kita membangun sesuatu, manajemennya juga harus diperhatikan. Jangan bangun terus rusak, tapi di-maintain sehingga bisa long lasting,” ujarnya.

Ketiga, yaitu mempercepat penyusunan Rencana Induk Pariwisata Nasional Terpadu sehingga bisa segera diimplementasikan. “Sifatnya jangka panjang, tetapi sangat implementatif,” tutur Angela.

Kempat, membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di sektor pariwisata. “Dengan politeknik, dengan kerja sama prodi, sertifikasi, training-training dan sebagainya,” sebutnya.

Angela menambahkan, pembangunan pariwisata di daerah akan diselaraskan dengan kearifan budaya lokal.

Intensifkan Pokdarwis

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Sri Wahyuni mengatakan, pihaknya akan meningkatkan peran kelompok sadar wisata.  “Tahun ini kita akan ajukan kegiatan rakor pokdarwis se-Kaltim. Yang akan menghadirkan tiap daerah 6 pokdarwis, 3 kepala desa, dan 1 pendamping dari Dinas Parwisata,” kata Sri Wahyuni.

Sedikitnya ada 100 orang pokdarwis di Kaltim untuk menghasilkan satu persepsi dalam menjalankan strategi peningkatan pariwisata.

Rakor tersebut akan dilakukan pada triwulan kedua dengan agenda pembekalan kepada pokdarwis. Kemudian ada penyampaian best practice dari pokdarwis Kaltim dan luar Kaltim.

Mereka akan terbagi dalam kelompok kerja yang membahas penngembangan home stay, paket wisata, kuliner, dan suvenir.

“Pokja ini anti akan diparipurnakan. Di situ kita beri arahan. Kita ingin pokdarwis belajar satu sama lainnya mengenali masalah, mencari solusi, kemudian kita berikan arahan lebih lanjut apa solusi itu dilaksanakan,” ujar Sri Wahyuni.

Setelah melalui kelompok kerja, tahun depan Dinas Pariwisata Kaltim akan menggelar jambore. Pada  saat mengikuti jambore, pokdarwis harus punya produk wisata. (fey/eny )

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*