AUTOPSI YUSUF JILID DUA

Kuburan Ahmad Yusuf Ghazali akhirnya dibongkar lagi. Ini autopsi kedua untuk memastikan penyebab kematian Yusuf. Apakah ini menjadi awal dari babak baru kasus tersebut. Mengurai “blank spot” dari hilangnya bocah berusia 4 tahun hingga penemuan jasad tanpa kepala. Atau hasilnya akan sama saja.   

 

SELASA pukul 09.00 Wita kemarin, makam almarhum Ahmad Yusuf Ghazali di TPU Muslimin Jalan Damanhuri, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Samarinda Utara ramai dengan petugas kepolisian dan warga. Mereka berdiri mengelilingi makam balita yang ditemukan tanpa kepala tersebut.

Tampak saat itu, Dokter Forensik Mabes Polri, Kombes Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti DFM SpF, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman, Kasat Reskrim Kompol Damus Asa, Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Ulu IPDA M Ridwan, serta ayah Yusuf Bambang Sulistyo beserta kuasa hukumnya. Hadir juga perwakilan dari kejaksaan. Sementara Melisari, ibu mendiang Yusuf tak terlihat berada di sekitar lokasi pembongkaran.

Kemudian IPDA M Ridwan maju selangkah ke depan. Lebih dekat dengan makam. Mengenakan kemeja abu-abu dan jeans warna hitam. “Sesuai dengan laporan polisi tanggal 23 November 2019, kami sudah melakukan penyelidikan. Kemudian ditingkatkan menjadi penyidikan. Karena adanya permintaan untuk autopsi lanjutan, kami dari kepolisian akan melakukan autopsi dengan Mabes Polri,” kata Ridwan, yang sebelumnya menangani kasus ini.

Sebelum proses pembongkaran. Ridwan menyampaikan bahwa  serah terima dan penyitaan makam Yusuf telah sesuai prosedur kejaksaan. “Baik, karena ini benar kuburannya. Maka akan kita mulai proses pembongkaran”. Kemudian warga yang tidak berkepentingan dan para jurnalis diminta untuk turun mensterilkan area.

Tim Forensik Mabes Polri bersama Unit Inafis Satreskrim Polresta Samarinda bergegas membongkar makam tersebut. Pembongkaran ini dilakukan untuk autopsi ulang guna memastikan penyebab kematian anak pasangan Bambang Sulistyo dan Melisari.

Pengawalan ketat dilakukan petugas kepolisian. Garis polisi membentang di areal pemakaman. Kurang lebih sekitar 30 menit, makan dibongkar. Jasad Yusuf kemudian dimasukkan ke dalam kantong mayat berwarna kuning. Lalu dibawa ke sebuah gazebo kayu berukuran 3×4 meter.

Gazebo tersebut masih berada di kawasan pemakaman. Sekitar 50 meter jaraknya dari makam Yusuf. Sekelilingnya ditutupi kain warna cokelat. Gazebo itu sebagai tempat pengambilan potongan jenazah Yusuf untuk kemudian dikaji lebih dalam di Jakarta.

Sementara ratusan warga yang menyaksikan prosesi pembongkaran tersebut diminta menjauh. Berada di radius 100 meter dari lokasi autopsi. Bambang pun tak diperkenankan masuk ke dalam gazebo tersebut. Ia harus menunggu di luar gazebo hingga proses autopsi selesai.

Sempat terdengar suara mesin yang berbunyi nyaring dari dalam gazebo. Dari informasi yang diterima, tim forensik melakukan pembedahan pada sisa tulang dari jasad Yusuf. Proses autopsi jasad itu memakan waktu sekitar setengah jam.

Pantauan Disway Kaltim di lokasi. Autopsi dipimpin Dokter Forensik Mabes Polri Kombes Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti DFM SpF. Dibantu tiga personel dari Polresta Samarinda.

****

Keluarga Ahmad Yusuf Ghazali berharap menemukan titik terang dari proses pembongkaran makam dan autopsi ulang ini. Kepada wartawan, Bambang Sulistyo, ayah Yusuf, menyampaikan harapan keluarga begitu besar dari proses rangkaian autopsi lanjutan ini.

“Mudahan semua menemukan titik terang. Yang selama ini jadi beban keluarga tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apakah terseret atau ada indikasi lain,” tutur Bambang saat menunggu autopsi berlangsung.

Saat itu Bambang mengenakan pakaian warna putih dan peci putih. Ia juga mengaku akan terus berkomunikasi dengan aparat kepolisian. Prosesi autopsi lanjutan ini merupakan hasil kesepakatan keluarga.

Tampak raut wajah tegar menahan sedih. Istrinya, Melisari, sengaja tidak diajak. Khawatir pembongkaran ini bisa mengganggu psikologis Melisari.“Takut juga kalau nanti pas liat dibongkar malah kenapa-kenapa (istrinya, Red.),” ungkapnya.

Bambang juga mengatakan akan menerima apapun hasil dari proses autopsi ini. Meskipun hasilnya seperti dugaan awal, yakni terseret arus banjir atau ada dugaan tindak kriminalitas. Ia mengaku akan sepenuhnya menerima semua hasil tersebut dengan lapang dada.

“Dengan ini semoga kita semua menjadi tahu penyebab pastinya. Apapun hasilnya kita akan menerima,” imbuhnya.

BERITA TERKAIT:

****

Setelah selesai hasil autopsi di dalam gazebo, spontan awak media pun menghampiri Sumy Hastry Purwanti. Saat itu didampingi Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman. Ketika ditanya para jurnalis, Hastry hanya menjawab singkat. Kemudian menyerahkan kepada Arif Budiman untuk menjawabnya.

“Semua berjalan lancar, nanti akan dilanjut untuk disampaikan,” kata Arif sambal berjalan keluar TPU menuju kendaraan.

Autopsi jasad Ahmad Yusuf Ghazali oleh Tim Forensik Mebas Polri berlangsung selama satu jam lebih. Bagian tubuh Yusuf akan dibawa ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, Jakarta.

“Ada dua bagian yang dibawa. Sendi atau penyambung leher dan potongan paha kanan Yusuf,” kata Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman kepada Disway Kaltim, Selasa siang.

“Saya atas nama Kepolisian Samarinda dan Jajaran Kepolisian di Kaltim memohon masyarakat bersabar. Kita tunggu hasil pemeriksaan forensik Mabes Polri untuk bisa menentukan penyebab kematian Yusuf,” pinta Kapolresta.

SEBELUMNYA

Pada 23 Januari lalu, Wakapolresta Samarinda AKBP Dedi Agustono SIK MH bersama Kasat Reskrim Kompol Damus Asa SH SIK dan Dokter Forensik RSUD AW Syahranie Dr Kristina Uli Gultom menggelar konferensi pers di ruang vicon Polresta Samarinda.

Berdasarkan keterangan hasil pemeriksaan Ahli Forensik yang disampaikan Kepala Tim Ahli Forensik Dr Kristina Uli Gultom, saat proses pemeriksaan jenazah, tim ahli tidak menemukan adanya tanda kekerasan atau indikasi pembunuhan secara sengaja pada jenazah Ahmad Yusuf Ghazali.

Saat itu, Kristina menjelaskan, sisa tulang leher yang masih melekat hingga ke tulang punggung bagian bawah, semuanya masih lengkap. Meski ada sebagian lainnya yang terlepas, namun tidak ditemukan ada yang patah.

“Pemeriksaan visum yang telah dilakukan tidak menunjukkan adanya luka-luka maupun tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Pemeriksaan itu kami lakukan pada 8 Desember 2019 lalu. Memang dari tulang leher pertama dari bagian paling atas sampai ke ruas-ruas itu tidak ditemukan adanya patahan tulang maupun bekas tulang yang dipatahkan,” jelasnya.

Kristina menyebutkan bahwa dari hasil pemeriksaan jenazah hanya ditemukan benda-benda seperti pasir, daun, ranting pohon dan ditemukan sisik hewan reptil di paha sebelah kanan korban.

Namun ketika itu, Kristina tidak dapat memastikan apakah jenazah tercabik atau karena kondisi jenazah yang sudah membusuk. Karena jaringan-jaringannya sudah hancur.

Sebelumnya, diberitakan hasil tes DNA menunjukkan temuan jasad tanpa kepala tersebut adalah benar milik M Yusuf Ghazali. Hal itu juga dibenarkan Kristina, jika dari pemeriksaan DNA hasilnya identik Yusuf, putra dari Bambang Sulistyo.

ADANYA TERSANGKA

Selasa 21 Januari pukul 22.00 Wita, mobil SUV hitam memasuki halaman Polsek Samarinda Ulu. Petugas kepolisian kemudian menggiring para tersangka kasus hilangnya M Yusuf Ghazali. Tak lain adalah MI (26) dan SY (52), pengasuh Yusuf di PAUD Jannatul Athfal. Dalam mobil tersebut MI dan SY dikawal 4 petugas kepolisian. Dua di depan dan dua di belakang.

Saat keluar mobil Opsal Polsek Samarinda Ulu, keduanya berjalan tertunduk dikawal empat petugas berpakaian preman tadi. SY saat itu mengenakan baju berwarna krem, sedangkan MI mengenakan baju biru. Kedua tersangka tersebut dijemput berbarengan di PAUD Jannatul Athfal di Jalan AW Syahranie, Kelurahan Gunung Kelua, Samarinda Ulu.

Kedua tersangka tampak irit bicara. Hanya SY beberapa kali menjawab pertanyaan wartawan. Sementara MI yang usianya lebih muda, lebih banyak diam membisu. Tak banyak juga yang diceritakan SY, hanya berputar-putar di situ-situ saja.

“Saya waktu itu memang berdua piket jaga. Tapi sebenarnya khusus bayi, tapi karena pengasuh satunya ke toilet, jadi saya agak  kerepotan. Kebetulan ada 4 bayi yang saya jaga sedang rewel. Pas saya nganuin anak bayi, Yusuf sedang main. Jadi fokus saya enggak ke semua anak. Dari situ saya sudah enggak lihat Yusuf ke mana,” kata Sy.

Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu Ridwan kepada Disway Kaltim mengatakan, Ml dan Sy awalnya hanya sebagai saksi dari hilangnya Yusuf, tetapi keduanya telah ditetapkan menjadi tersangka setelah adanya hasil tes DNA jasad balita tanpa kepala.

Memang sedari awal kepolisian hanya tinggal menunggu hasil tes DNA ini, jika benar itu Yusuf maka tersangka akan dilimpahkan kepada pengasuh jaga karena dianggap lalai. Kepada media, kedua tersangka hanya mengaku menyesali kejadian tersebut karena lalai menjaga Yusuf saat itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, hilangnya Yusuf yang misterius dan ditemukannya balita tanpa jasad, menimbulkan berbagai spekulasi. Apalagi ketika kedua orang tua Yusuf, Bambang Sulistiyo (34) dan Melisari (30), mengenali jasad yang sudah hancur itu sebagai anaknya. Dilihat dari baju yang menempel di badan jasad tersebut.

Sedari awal, polisi sudah memprediksi jika kasus tersebut bukanlah kasus penculikan. Hal itu berdasarkan fakta dan olah TKP bersama para saksi. Totalnya ada 14 saksi yang diperiksa kepolisian. Yang paling memungkinkan hasil dari olah TKP tersebut, Yusuf terpeleset dan tercebur sungai. Apalagi saat itu, Jumat 22 September 2019, kondisinya hujan lebat.

Namun kepolisian tak mau buru-buru menyimpulkan dan menetapkan tersangka. Memilih untuk menunggu hasil tes DNA dari forensik. Kompol Damus meyakini, perkara Yusuf ini sudah jelas.

Namun, saat itu, Bambang kurang setuju dengan analisa pihak kepolisian terkait kasus Yusuf yang terbawa arus parit. Pasalnya, beberapa drainase ketika Bambang dan rekannya menyisir tempat itu kondisinya mampet. Dan posisi penemuan jasad jaraknya sekitar 3,8 km dari tempat diduga Yusuf terpeleset dan terbawa arus. Padahal, 500 meter dari lokasi tersebut drainasenya tersumbat.

Bambang menduga ada indikasi lain soal hilangnya Yusuf. Menurutnya janggal. Karena itu, Bambang meminta agar pihak kepolisian lebih teliti untuk mengusut kasus tersebut. Agar, jangan ada kasus serupa yang menimpa keluarga lain.

Lagi-lagi Bambang menggunakan nalurinya sebagai ayah dan melihat kebiasaan Yusuf sehari-hari. Menurut Bambang anaknya paling anti keluar rumah tidak memakai alas kaki. Dan ternyata, saat kasus tersebut, sepatu Yusuf masih ada di sekolah. Artinya anaknya itu keluar tanpa alas kaki.

“Saya enggak yakin kalau Yusuf terpeleset. Ia tidak mau kakinya injak pasir. Kalau toh memang benar, hebat PAUD-nya dapat mengubah anak saya dalam satu minggu,” imbuhnya. (*)

Pewarta : Arman Phami

Editor : Devi Alamsyah

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*