PASANGAN EDI

Nama Edi Damansyah belum mendapat rekomendasi dari DPP PDIP. Padahal sebelumnya, Bupati Kukar itu sudah diajukan oleh DPD PDIP Kaltim ke pimpinan pusat untuk diusung. Sejumlah dugaan mengemuka. Mulai soal belum adanya pasangan bakal calon, koalisi partai hingga lantaran surat keberatan Rita.

==========

KAMIS 16 Januari, Ketua DPD PDIP Kaltim Safaruddin memanggil tiga bakal calon (bacalon) kepala daerah di Hotel Aston Balikpapan Hotel and Residence. Mereka adalah bacalon kepala daerah Kutai Barat FX Yapan, bacalon kepala daerah Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah dan bacalon kepala daerah Balikpapan Thohari Aziz.

Ketiganya, merupakan kader PDIP yang digadang untuk didorong maju oleh partai berlambang banteng itu pada Pilkada serentak nanti.

Mereka bertemu Safaruddin secara bergantian. Pertemuan berlangsung tertutup. Adanya pemanggilan ketiga bacalon tersebut mengisyaratkan bahwa rekomendasi PDIP bakal jatuh ketiga orang itu untuk daerah Kubar, Kukar dan Balikpapan.

“Silaturahmi saja. Ya, konsolidasi untuk pemenangan pilkada,” kata Safaruddin, usai bertemu ketiga bacalon kepala daerah itu.

Selain konsolidasi, kata Safar, juga untuk menindaklanjuti hasil Rakernas PDIP di Jakarta, beberapa hari lalu. Dan PDIP memasang target menang di Pilkada serentak ini. Sebagai pijakan menuju Pemilu 2024.

****

Sehari sebelumnya, PDIP Kaltim menyampaikan pengumuman rekomendasi pasangan calon untuk beberapa daerah ditunda. Menurut Sekretaris DPD PDIP Kaltim Ananda Emira Moeis, adanya penundaan pengumuman karena pengurus DPP fokus Rakernas.

“Kita membuat rekomendasi-rekomendasi ke depan. Apa yang mau dikerjakan terkait tata kelola partai, terkait program partai, terkait isu lingkungan, terkait jalur rempah. Jadinya, untuk (pengumuman) rekomendasi diundur. Hanya fokus ke Rakernas,” kata Ananda Emira Moeis.

Dari beberapa daerah itu, yang tetap akan disorong PDIP adalah di Kutai Barat (Kubar). Kukar dan Balikpapan saat itu belum bulat direkomendasikan PDIP.  “Yang kita usulkan (untuk diumumkan) satu daerah. Kubar. Karena di Kubar, PDIP bisa mengusung sendiri. Jumlah kursinya enam, dari 25 kursi. Yang kita usulkan, calon bupati dan calon wakil bupati, keduanya petahana (FX Yapan dan Edyanto Arkan),” kata Nanda, yang kini duduk di DPRD Kaltim itu.

Selain Kubar, sebetulnya PDIP Kaltim juga mengajukan bacalon untuk daerah Kutai Kartanegara (Kukar). Nama yang diusulkan Edi Damansyah. “Kalau daerah lain, belum ada yang kita usulkan. Masih pada tahap menunggu hasil survei,” kata Ananda.

Namun begitu, pada pengumuman 19 Februari lalu. Ternyata Nama Edi Damansyah belum keluar rekomendasinya. Menurut beberapa sumber dari DPP PDIP, urungnya direkomendasikan karena adanya persoalan yang belum klir.

BELUM SELESAI

DPP PDIP hanya menyampaikan pengumuman nama-nama yang akan diusung di 4 daerah di Kaltim, Rabu (19/2). Yaitu Paser, Bontang, Samarinda dan Kutai Barat. Sementara daerah lainnya, belum.

Edi Damansyah yang sebelumnya disebut-sebut diprediksi akan diumumkan sebagai bakal calon dari PDIP, ternyata Kukar belum ada dalam list. Padahal dari pantauan Disway Kaltim, Edi intens komunikasi dengan pengurus PDIP. Bahkan informasinya, belakangan ini Edi kerap berada di Jakarta untuk melakukan lobi-lobi politik.

Perihal Edi Damansyah ini, coba dikonfirmasi Disway Kaltim ke DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu, Bambang Wuryanto. Mengingat nama Edi sudah diusulkan oleh DPD PDIP Kaltim dan juga posisinya sebagai petahana.

“Kalau belum diumunkan, belum selesai masalahnya. Pertimbangannya banyak hal. Tentu saya tidak hafal satu per satu,” kata Bambang Wuryanto, kepada Disway Kaltim.

Apakah Disinggung soal alasan belum diumunkannya nama Edi Damansyah yang telah diusulkan DPD PDIP Kaltim, karena kasus dugaan korupsi yang dituduhkan pada Edi, Bambang tak membenarkan. Tak juga menyalahkan. “Saya tidak akan memberikan dugaan,” ungkap Bambang, yang mengumumkan nama-nama calon usungan DPP PDIP untuk Pilkada Serentak, Rabu, kemarin.

TETAP USUNG EDI

Terpisah, Ketua DPD PDIP Kaltim Irjen Pol (Purn) Safaruddin menegaskan partainya akan tetap mengusung Edi Damansyah, sebagai calon bupati Kukar. Alasan belum diumumkannya nama calon untuk Pilkada Kukar, karena ada hal yang belum klir. Di antaranya, partai koalisi.

“Kursi enggak cukup. Kemudian beberapa partai belum memberikan kepastian berkoalisi. PDIP di Kukar 7 kursi. Syaratnya kan 9 kursi bisa usung sendiri. Kalau Balikpapan kan sudah (komitmen koalisi). Berikutnya, soal pasangannya. Kita belum tentukan. Kita lihat nanti beberapa alternatif,” jelas mantan Kapolda Kaltim itu.

Ditanya soal rencana demo di Kantor DPP PDIP dengan tuntutan menolak Edi Damansyah diusung PDIP karena diduga tersangkut kasus korupsi, Jumat (21/2/2020), Safaruddin menjawab santai.

Menurutnya, itu bukan alasan ditundanya pengumuman usungan calon untuk Pilkada Kukar, khususnya nama Edi Damansyah. “Asal ada duit saja kan orang bisa demo setiap hari,” ungkapnya.

Menurut Safaruddin, aksi penolakan Edi Damansyah untuk diusung PDIP di Pilkada Kukar hal politis. Ada yang bermain di belakang. “Ya ada lah (yang rusuh demo). Ya santai saja. Namanya juga politik,” pungkasnya.

PENGARUH SURAT RITA

Menanggapi belum adanya rekomendasi di Kukar pada pengumuman tahap satu, Ketua DPC PDI Perjuangan Solikin enggan berkomentar banyak. Apalagi ketika ditanya belum adanya pasangan ideal petahana, Edi Damansyah. Karena terangnya, urusan rekomendasi itu merupakan kewenangan dari DPP, otoritas tertinggi partai.

“Kalau itu (rekomendasi, Red.) di pusat,” tegas Solikin saat ditemui Disway Kaltim di kediamannya, Jumat (21/2/2020) siang.

Tapi Solikin memastikan, pengumuman nama yang direkomendasikan untuk Pilkada Kukar akan segera diumumkan dalam waktu dekat. Meskipun akunya, saat ini DPC Kukar belum menentukan dengan siapa partai berlambang banteng ini akan berkoalisi.

Solikin lebih menekankan bahwa saat ini partainya terus menjalin komunikasi dengan seluruh partai politik yang ada di Kukar. “Kalau komunikasi semua teman di partai, sudah biasa itu,” ucapnya.

Sehingga untuk saat ini, DPC Kukar masih menunggu arahan apa yang diberikan DPP. Karena partai di daerah tidak bisa bergerak semaunya, tanpa instruksi dari DPP. “Jika DPP telah menginstruksikan untuk bergabung dan berkoalisi dengan siapa pun. PDI-P Kukar sangat siap,” ujar Solikin.

Belakangan, mencuat jika salah satu kader muda Partai Golkar Kukar, yakni Rendy Solihin mengikuti proses penjaringan di PDI Perjuangan. Bahkan kabar tersebut terkesan mengejutkan. Mengenai hal itu, Solikin mengatakan jika politisi muda tersebut telah mendaftar sejak tahun lalu. Melalui DPD PDI Perjuangan Kaltim.

Bahkan ia juga tidak membantah jika Rendy berpeluang paling besar mendampingi Edi Damansyah nantinya. Walaupun ada calon kuat lainnya, seperti Darlis Pattalongi dan Surpani Sulaiman, termasuk Eddy Subandi. Meski turut mendaftar di penjaringan PDIP, Eddy lebih memilih jalur independen untuk Pilkada Kukar 2020. “Calon kuat Rendy Solihin,” kata Solikin.

TIDAK BERHUBUNGAN

Ramai kabar tidak harmonisnya hubungan Rita Widyasari dengan Edi Damansyah pasca adanya surat keberatan Rita dalam pemilihan Wakil Bupati (Wabup) Kukar menjadi salah satu di antara penyabab tidak keluarnya rekomendasi. Hal itu kemudian ditepis Solikin. “Itu tidak bernar,” katanya.

Bahkan adanya edaran rencana aksi yang dilakukan sekelompok massa dari KAMPAK, di kantor DPP PDI Perjuangan dan KPK, Jakarta. Namun hingga kemarin sore, Disway Kaltim tidak melihat aksi tersebut seperti yang direncanakan dalam edaran itu.

Solikin pun kembali memastikan bukan disebabkan karena surat keberatan Rita. “Itu mutlak milik DPP. Saya pikir kalau semua calon yang mau direkomendasikan terus didemo, dan DPP membatalkan (rekomendasi), saya kira itu tidak objektif,” terang Solikin.

Sehingga, ia memastikan surat keberatan Rita terhadap Edi belakangan ini, sama sekali tidak berhubungan dengan keputusan rekomendasi dari DPP. “Jadi di DPP enggak bisa diintervensi,” pungkas Solikin.

Disway Kaltim pun mencoba ingin mengonfirmasi Edi Damansyah. Baik melalui pesan WhatsApp maupun telepon seluler. Edi Damansyah belum memberikan respons terkait rekomendasi nama calon yang akan bertarung di Pilkada 2020 mendatang.

Sementara itu, Awang Yacoub Luthman (AYL) disebut-sebut sebagai lawan kuat Edi dalam Pilkada Kukar mendatang. Apalagi informasinya, mantan anggota DPRD Kukar periode sebelumnya ini, dikabarkan mendapat dukungan dari sejumlah orang-orang kuat di Kaltim, termasuk mantan Bupati Kukar Rita Widyasari. (*)

Pewarta: Ariyansah, M Rafii

Editor: Devi Alamsyah

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*